alexametrics

Pelita di Tengah Kegelapan

Oleh: Ahmadul Faqih Mahfudz
28 Juli 2019, 14:31:40 WIB

HAMPIR setiap hari anak itu datang ke taman baca kami. Saat datang pertama kali, dia amati buku-buku di rak satu per satu. Beberapa saat kemudian, dia ambil sebuah buku, lalu duduk tenang tanpa beban.

”Afkar, bukumu terbalik! Begini yang benar,” tegur kawannya, spontan, seraya membetulkan letak buku yang sedang dibacanya.

Afkar memang belum bisa membaca. Bocah plontos itu tidak bersekolah di taman kanak-kanak dan belum cukup umur untuk menjadi siswa sekolah dasar (SD). Usianya baru 5 tahun. Meski begitu, dia mulai menyenangi buku. Sedangkan kawannya, Rizki, sudah kelas I SD, tapi cara membacanya belum lancar. Untuk membaca sebuah kata, Rizki butuh waktu beberapa detik. Dia harus mengeja huruf demi huruf untuk melafalkan satu kata dan menangkap maknanya.

Afkar dan Rizki adalah dua di antara beberapa pengunjung Taman Baca Anak-Anak Langit. Taman baca yang saya rintis dan saya kelola secara swadaya bersama Nihayah, istri saya. Taman baca itu kami dirikan di kampung kami di pelosok Bali Utara, tepatnya di Dusun Sumber Wangi, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

Taman Baca Anak-Anak Langit lahir karena kegelisahan saya melihat fenomena di kampung kami. Kegelisahan saya karena beberapa hal. Pertama, tidak ada seorang anak pun yang saya lihat membaca buku bacaan di luar waktu sekolah. Kedua, tidak ada satu taman baca pun di kampung kami yang bisa mempertemukan anak-anak dengan buku. SD di kampung kami memang memiliki sebuah lemari buku yang oleh guru-gurunya disebut perpustakaan. Tapi, alangkah malangnya, lemari itu hanya berisi tumpukan buku ajar.

Ketiga, masyarakat kesulitan dalam mengakses buku karena kampung kami jauh dari perpustakaan daerah yang letaknya di kota kabupaten. Keempat, tidak ada tempat bermain yang dapat menjadi ruang kreatif untuk memancing imajinasi dan mengembangkan kreativitas anak-anak. Pada saat yang sama, empat hal itu diperparah oleh fenomena kelima: hampir semua anak di kampung kami memegang gawai dan menghabiskan waktu bersamanya.

Fenomena sosiokultural yang mencemaskan tersebut akhirnya menggerakkan saya. Beberapa buku, majalah, dan bahan-bahan bacaan yang saya koleksi selama ini saya kumpulkan. Rak buku bekas yang saya pakai saat kuliah di Jogja saya ambil, kemudian saya bersihkan. Buku-buku, majalah, dan bahan-bahan bacaan itu kemudian saya susun di rak dengan rapi. Berbekal kegelisahan-kegelisahan tersebut, 11 November 2018, saya dirikan sebuah taman baca sederhana di teras rumah kami.

Di usianya yang sudah kedelapan bulan ini, dua manfaat saya alami dengan adanya taman baca di kampung kami. Pertama, keberaksaraan. Anak-anak yang belum bisa membaca karena belum bersekolah di satuan pendidikan dasar atau pendidikan usia dini kini mulai mengenal huruf dan angka. Sedangkan mereka yang mahir membaca menemukan ruang untuk memperkaya pengetahuan dan memperluas wawasannya karena terfasilitasi oleh buku-buku atau bacaan lain koleksi taman baca.

Agar keberaksaraan ini terus meningkat, setiap Minggu pagi kami menggelar kelas mengarang. Dalam kelas kreatif di hari libur itu, kami bebaskan anak-anak memilih apa dan siapa saja objek yang akan mereka tulis dalam karangannya. Setelah mengarang, secara bergantian, akan mereka kisahkan alasannya kenapa menulis objek tersebut.

Selain keberaksaraan, manfaat kedua yang saya lihat dari adanya taman baca adalah kesetaraan. Karena bentuknya yang dinamis dan suasananya yang egaliter, tidak bertingkat atau berkelas-kelas sebagaimana dalam satuan pendidikan, taman baca menjadi ruang kreatif yang mampu menyetarakan manusia.

Taman Baca Anak-Anak Langit, misalnya, menjadi ruang kreatif tidak hanya bagi mereka yang lahir dalam kondisi tubuh sempurna, tapi juga bagi mereka yang lahir ”istimewa” atau berkebutuhan khusus. Kesetaraan dalam mengakses pengetahuan di taman baca dialami pula oleh Jazila, perempuan berusia 31 tahun, yang hanya lulusan madrasah aliyah. Setiap mengantar Ayak, anaknya, ke taman baca kami, dia pun ikut membaca. Buku dan majalah dia baca dengan lahapnya. Karena berbagai faktor, ibu rumah tangga itu tidak sempat mencecap pendidikan di perguruan tinggi. Cintanya yang besar terhadap pengetahuan menemukan ruang yang tepat di taman baca.

Taman Baca Anak-Anak Langit juga kami dedikasikan untuk para orang tua yang tidak bisa membaca dan menulis. Mereka yang belum mengenal aksara Latin dapat berkunjung kapan saja untuk belajar bersama. Kami ingin semua orang di kampung kami bisa membaca dan menulis serta mendapatkan bacaan-bacaan bergizi.

Membaca dan menulis ibarat anak tangga pertama menuju anak tangga selanjutnya untuk menjadi manusia Indonesia yang berperadaban dan berkeadaban. (*)

Ahmadul Faqih Mahfudz, pemandang budaya dan pengelola Taman Baca Anak-Anak Langit, tinggal di Bali

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads