
Ilustrasi. Budiono/Jawa Pos
Para penonton sepak bola barangkali masih ingat hiruk-pikuk kemenangan Yunani atas Portugal di final Euro 2004. Negara yang sebelumnya nyaris tak pernah diunggulkan, piyik di antara jago-jago sepak bola Eropa, tiba-tiba menjadi kampium di benua tersebut.
---
KITA selalu senang mendengar kisah tentang kuda hitam, bahkan meskipun mereka sekadar ”merepotkan” para raksasa, apalagi jika keluar sebagai pemenang.
Hal yang sama terjadi di lingkungan sekitar. Kita ikut terharu membaca berita, ”Pemulung sampah bisa naik haji”, atau ”Anak buruh tani bisa meraih gelar PhD dari universitas luar negeri”. Kita senang karena itu memberi sejenis optimisme.
Fenomena ini tampaknya ditangkap oleh para motivator, yang sering berceramah tentang kisah orang-orang sukses, meskipun motivasinya lebih sering untuk berjualan saja. Ditangkap pula oleh para pencerita, yang gemar mengisahkan dongeng-dongeng ”from zero to hero”.
Belum lama saya juga membaca berita dengan judul ”10 Miliarder yang Tidak Lulus Kuliah, Bill Gates dan Mark Zuckerberg Tinggalkan Harvard”. Kisah-kisah semacam itu bisa membawa kita pada kesimpulan yang salah, seolah ”tidak lulus kuliah” membawa mereka menjadi miliarder.
Kali ini saya tak ingin bicara tentang betapa Bill Gates atau Mark Zuckerberg pada dasarnya sudah ”istimewa”, mau lulus ataupun tidak. Kenyataannya, bisa kuliah di Harvard saja menunjukkan mereka bukan dari kelompok kebanyakan.
Pertanyaan sederhana: Jika ”tidak lulus kuliah” atau ”tidak lulus sekolah” itu terjadi kepada orang di kampus kebanyakan, berapa kemungkinannya kita akan berhasil seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg? Atau setidaknya seperti Susi Pudjiastuti, mantan menteri kelautan dan perikanan kita?
Ada jutaan orang di dunia yang putus sekolah karena berbagai alasan. Baik tak bisa bayar, tidak mampu mengejar nilai akademik, maupun sadar memang mau keluar untuk mengerjakan sesuatu. Dari jutaan itu, hanya sebelas orang (menurut berita tadi) yang menjadi miliarder sekelas Bill Gates dan Mark Zuckerberg.
Intinya, kita lebih senang mendengar kisah sebelas orang ini daripada kisah jutaan yang gagal. Kita senang mendengar kisah lingkungan atau keadaan yang tak mendukung, tapi melahirkan orang sukses. Kesenangan ini bisa membawa kita ke kesimpulan yang salah, terutama dalam upaya memperbaiki nasib dan masa depan.
Ada kisah lain tentang kesalahan kesimpulan dari ”kisah sukses”, kali ini datang dari dunia militer.
Di masa Perang Dunia II, militer Amerika mempelajari kapal-kapal pengebom yang dihajar tembakan musuh, tapi berhasil pulang ke pangkalan dengan selamat. Mereka memutuskan untuk memperkuat bagian-bagian pesawat yang paling sering kena hajar peluru agar makin kuat.
Kesimpulan itu keliru karena mereka terlalu fokus mempelajari ”kisah sukses” (disebut sebagai ”survivor bias” atau ”bias penyintas”). Adalah ahli statistik Abraham Wald yang menyuruh mereka untuk malah memperkuat bagian-bagian pesawat yang sedikit atau bahkan tak pernah kena peluru.
Kenapa? Karena pesawat-pesawat yang kena tembak di bagian itu justru tak berhasil pulang alias jatuh ditembak musuh (bukan ”penyintas”). Militer tak mempelajari pesawat-pesawat itu karena mereka bukan kisah sukses alias gagal pulang. Tapi, justru di pesawat-pesawat yang jatuh itulah terletak kebenaran lebih lengkap.
Dengan kata lain, bicara tentang kesuksesan seharusnya juga bicara tentang kegagalan.
Jika kita terlalu fokus kepada orang sukses, jawaban kenapa seorang pemulung bisa naik haji mungkin karena ia rajin menabung dan kerja keras. Tapi, menabung dan kerja keras belum tentu jawaban kenapa ribuan pemulung lain tidak bisa naik haji meskipun mereka menginginkannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tertipu oleh bias semacam ini. Misalnya, kita sering merasa kualitas novel-novel lama lebih bagus daripada novel-novel kontemporer. Tentu saja, karena ”novel lama” yang kita maksud sering kali merupakan hasil seleksi, sementara novel kontemporer masih campur aduk secara kualitas.
Kita sering lupa bahwa di masa Shakespeare hidup, ada banyak penulis lakon. Kolega-kolega Shakespeare ini kebanyakan tak bertahan, karyanya dilupakan, kemudian raib ditelan zaman. Kalau ingin tahu kualitas sastra Inggris abad ke-16, kita harus menengok juga karya-karya dan penulis-penulis terkubur itu.
Tentu bukan berarti kita tak boleh terharu seandainya Dewa Kipas sang pecatur pos ronda menang melawan GM Irene Sukandar (sayangnya tidak). Kita berhak untuk terharu dan merasa dunia berputar. Meskipun begitu, kewaspadaan atas kisah orang-orang sukses selalu perlu.
Baca Tulisan Menarik Eka Kurniawan Lainnya di Sini.
Bias penyintas umumnya menjadikan orang membuat kesimpulan terlalu optimistis: ”Kalau Bill Gates yang putus sekolah bisa jadi orang terkaya, kenapa kita tidak?” Juga membuat kita meremehkan persoalan: ”Tak apa-apa putus sekolah, Bill Gates bisa jadi orang terkaya, kok.”
Ingat, kisah satu teman sekelasmu waktu SD yang berhasil menjadi orang hebat adalah juga kisah 38 teman sekelasmu yang mungkin hidup terseok-seok. (*)
---
*) Eka Kurniawan, Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=ZKkS4AGOD9g

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
