Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 April 2021 | 22.15 WIB

Benarkah Oscars 2021 Lebih Beragam

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Lee Isaac Chung. Emerald Fennel. Riz Ahmed. Youn Yuh-jung. Regina King. Sepuluh tahun silam, atau bahkan lima tahun lalu, nama-nama itu tak terbayangkan bisa berderet di jajaran nomine Academy Awards.

---

HOLLYWOOD dan penghargaan Academy Awards masih dianggap sebagai jagat yang mengutamakan kaum lelaki (untuk honor yang jauh lebih tinggi daripada perempuan) dan ras kulit putih.

Karena begitu langkanya aktor kulit berwarna atau film bertema Coming of Age dan LGBTQ terpilih sebagai pemenang Oscars, kemenangan Denzel Washington dalam Training Day (2001) dan Viola Davis di Fences (2017) menjadi kehebohan dan perayaan besar.

Bersamaan dengan pencapaian Davis pada 2017, Moonlight (disutradarai Barry Jenkins) memenangkan Film Terbaik. Ini kali pertama sebuah film dengan dua tema yang ”dimarginalkan” (kulit berwarna dan LGBTQ) menjadi pemenang Academy Awards.

Kemenangan film Parasite (disutradarai Bong Joon-ho) sebagai Film Terbaik 2020 mungkin salah satu langkah anggota Academy yang dipuji, meski tetap ada yang ragu apakah ”Oscars rasa internasional” ini berlangsung terus.

Lalu, apakah Academy Awards 2021 dengan nomine yang terlihat beragam dan ”inklusif” itu hanya sebuah kebetulan, atau ini langkah yang akan diambil sebagai kebijakan baru? Apakah dengan memasukkan karya dua sutradara perempuan, Regina King (One Night in Miami) dan Emerald Fennel (Promising Young Woman), berarti mereka sudah tidak seksis (mengingat puluhan tahun lamanya, baru satu perempuan yang menang sebagai Sutradara Terbaik, yakni Katheryn Bigelow)? Atau, lagi-lagi ini sekadar kebetulan?

Jika kita menyaksikan sekilas, tampaknya memang kali ini anggota AMPAS (The Academy of Motion Picture Arts and Sciences) yang terdiri atas sekitar 7.000 anggota dari berbagai kalangan itu mencoba ”mengoreksi” pilihan di masa lalu.

Dari delapan nomine Film Terbaik Academy Awards, yang mendapatkan perhatian khusus –terutama penonton di negara Asia– adalah film Minari karya Lee Isaac Chung. Mungkin karena demam serial Korea (yang akrab disebut ”drakor”), mungkin juga karena Bong Joon-ho dianggap sudah membuka ”pintu” bagi sineas Asia. Yang jelas, film Minari di Indonesia jauh lebih dibahas secara online maupun offline dibandingkan, katakanlah, film Sound of Metal atau The Trial of Chicago 7.

Mereka yang sudah menyaksikan pasti mafhum Minari bukanlah Parasite yang berhasil menjadi film pertama non-Inggris yang pernah memenangkan gelar Film Terbaik Academy Awards.

Jika Parasite adalah sebuah komedi hitam dengan kecepatan ritme yang pas dan diisi twist serta daya kejut di setiap belokan cerita, Minari adalah film drama keluarga Korea yang migran di tanah Amerika. Film ini menyajikan plot sederhana, dikemas dengan minim dialog dan tempo yang perlahan, meski sesekali terselip humor segar.

Parasite menguasai semua festival film penting, dari Cannes (memperoleh Palme d’Or) hingga BAFTA, saya kira Minari akan memperoleh kategori Aktris Pendukung Terbaik bagi aktris Youn Yuh-jung yang penampilannya sebagai sang nenek berhasil menggerakkan seluruh film. Jika Parasite adalah sebuah kisah disparitas sosial dan ekonomi di dalam masyarakat Korea modern, semangat film Minari adalah jiwa American dream, sebuah tema khas Amerika yang merasa karena pada dasarnya negara itu memang terdiri atas berbagai imigran, termasuk asal Asia.

Adapun film Judas and the Black Messiah (karya Shaka King) dan The Trial of Chicago 7 (karya Aaron Sorkin) adalah dua nomine yang menyajikan setting yang sama: Amerika di tahun 1960-an ketika para aktivis tengah bergelora menentang Perang Vietnam, lahirnya generasi bunga, dan warga Afro-American memperjuangkan haknya melalui kelompok Black Panther.

The Trial of Chicago 7 meninggalkan jejak khas Sorkin di mana semua tokohnya pandai berdialog tanpa henti. Maka, Shaka King mengisahkan pengkhianatan di dalam tubuh pergerakan Black Panther. Dua film ini penting bukan karena penuh gelora perjuangan, tetapi memang penting untuk memahami sejarah penindasaan di sebuah negara, dan bagaimana kelompok masyarakat sipil melawan.

Film Mank (karya David Fincher) adalah satu-satunya nomine film yang berkisah tentang politik di balik pembuatan film Citizen Kane di Hollywood pada 1940-an. Dibuat dengan tata artistik yang hampir tak tercela (kostum, properti, hingga penggunaan film hitam-putih untuk menunjukkan zamannya), Mank adalah sebuah karya stylish yang asyik ditonton, tetapi tak akan menggerakkan anggota AMPAS untuk memilihnya sebagai pemenang, kecuali mungkin kategori-kategori teknis.

Sementara film The Father (disutradarai Florian Zeller), Nomadland (disutradarai Chloe Zhao), dan Sound of Metal adalah tiga karya yang bisa dikategorikan film-film sunyi, slowburn, minim dialog, dan penuh simbol. Pergerakan cerita berdasar pergerakan (fisik dan batin) sang protagonis. Baik Anthony Hopkins sebagai sang bapak yang mengalami dementia dalam The Father maupun Frances McDormand yang berperan sebagai Fern, seorang perempuan paro baya yang baru kehilangan suami dalam Nomadland.

Baca juga: Sinema, TV, dan Problem Tak Bernama

Adalah Riz Ahmed sebagai Ruben Stone dalam Sound of Metal yang mengguncang dalam kesunyian. Film yang mengutamakan seni bunyi, yang memberi pemahaman bahwa ”diam” pun adalah ”suara” ini, bukan sekadar menggugah. Film ini berupaya memahami dunia Ruben Stone yang semula riuh sebagai drumer band rock dan tiba-tiba mengalami sepi karena pendengarannya rusak. Perjalanannya tak mudah untuk hidup dalam dunia tanpa suara. Seperti dikatakan gurunya, Joe (Paul Racci), bahwa mereka berbicara dengan hati dan pikiran. Bukan saja Riz Ahmed layak dinobatkan sebagai Aktor Terbaik (meski gelar ini pasti diberikan kepada almarhum Chadwick Boseman dalam Ma Rainey’s Black Bottom), tetapi film Sound of Metal adalah film terbaik tahun ini. Anggota AMPAS mungkin saja memilih Nomadland. Jika itu yang terjadi, jalan menuju Oscars yang beragam masih sangat panjang. (*)




LEILA S. CHUDORI, Jurnalis dan penulis

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=gvShSz1pkzM

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore