alexametrics

Sinema, TV, dan Problem Tak Bernama

Oleh: LEILA S. CHUDORI
28 Maret 2021, 12:30:46 WIB

Ada sebuah problem tak bernama di dalam sinema dan televisi kita.

BEGITU ada keinginan sineas untuk mencoba menyentuh satu–dua aspek problem perempuan dan serangan fisik yang terjadi kepadanya, terjadilah hal-hal yang ”rumit”.

Saya mulai saja dengan pengalaman saya sendiri. Pada 2006, ketika episode Her Words Against His Words dari serial Dunia Tanpa Koma arahan Maruli Ara ditayangkan di stasiun RCTI, sebuah pesan pendek dari seorang sastrawan meluncur ke ponsel saya.

Meski skenario miniseri yang saya tulis ini sudah lama ditayangkan, saya ingat pesan pendek tersebut: ”Apakah jika sang perempuan itu sedang mabuk dan dia bersedia masuk ke kamar bersama lelaki itu, peristiwa berikutnya masih bisa disebut perkosaan?” Pesan pendek ini masuk ketika ada adegan tokoh Monita (dimainkan dengan bagus oleh Intan Nuraini) beberapa kali menolak untuk menambah minuman anggur, tetapi sang pacar, Dion, terus-menerus menuang ke gelasnya.

Sesudah habis sekian botol, Dion mengajak Monita yang sudah limbung ke kamar hotel. Selebihnya yang terjadi adalah kekejian. Sastrawan itu mengirim pesan bertubi-tubi karena drama tersebut menampilkan tokoh Monita sebagai korban dan penyintas. Maka, saya merasa pedantis karena seolah harus memperkenalkan definisi perkosaan kepada sastrawan tersebut.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads