Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Mei 2021 | 02.20 WIB

”Minds Rising Spirits Tuning”

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Gwangju Biennale Ke-13 Menggebrak di Tengah Pandemi


Setelah ditunda dua kali sejak September 2020, Gwangju Biennale Ke-13 akhirnya dibuka pada 1 April dan berakhir 9 Mei.

---

BIENNALE yang konon merupakan agenda tertua dan terpandang di kawasan Asia kali ini tidak seramai biasanya karena terhambat pandemi Covid-19. Namun, konsep dan ide yang dilancarkan kurator berskala dunia Defne Ayas kelahiran Istanbul yang tinggal di Berlin dan Natasha Ginwala kelahiran India dan melanglang antara India dan Berlin bergaung ke mana-mana.

Betapa tidak, kuratorial visioner yang sangat ekstensif melampaui sistem global Barat. Tampak keinginan untuk mengubah pola pikir dengan menawarkan budaya pikir alternatif lewat suatu penjelajahan semangat hidup manusia yang meliputi berabad-abad pengalaman. Dari yang purba, shamanism, cerita rakyat, sampai pengetahuan terkini seperti artificial intelligence dan neuroscience. ”Kami mencoba untuk masuk ke extended mind,” kata kurator perempuan Defne Ayas dan Natasha Ginwala. Keduanya mengaku berupaya untuk menyatukan bentuk seni yang tertua sampai yang terbaru.

Revolusi demokrasi di Korea 1980 menjadi cikal bakal Gwangju Biennale yang digelar setiap dua tahun. Sejak 1995, Gwangju Biennale menjadi pusat artistik pemikiran baru untuk menjawab kekerasan revolusi.

Gwangju yang tadinya kota kecil yang kumuh di Korea Selatan menjadi kota terpandang. Setidaknya itu menurut patron seni rupa Indonesia Natasha Sidharta yang mengikuti perkembangannya dari semula. Biasanya Gwangju Biennale dibanjiri pengunjung dari seluruh penjuru. Kata Natasha, malah pihak yang bukan berseni pun mementingkan untuk berkunjung.

Di antara 69 partisipan dari 40 negara, terdapat dua perupa Indonesia. Satu di antaranya, Timoteus Anggawan Kusno, diberi commission untuk membuat karya baru. Kusno boleh berbangga menjadi satu di antara 41 perupa yang diberi kepercayaan untuk membuat commission work.

Timoteus Anggawan Kusno (lahir 1989), lulusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM serta studi Jurusan Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, mengatakan fokus karyanya selama ini adalah ”sejarah, memori, dan fiksi mengenai sejarah”. Ia banyak terinspirasi mitologi dan legenda Jawa yang dikaitkan dengan kejadian-kejadian sejarah, hubungan tanah Jawa dengan rezim kolonial, serta sublimasi kejadian-kejadian yang mengerikan.

Karya imajiner Kusno yang menjadi pembahasan banyak kalangan intelektual adalah suatu fiksi tentang Tanah Runcuk. Tanah Runcuk diperkirakan pernah ada di Hindia Belanda, tapi keberadaannya mungkin juga sebuah fiksi belaka.

Kusno membangun pusat studi imajiner bernama The Centre for Tanah Runcuk Studies (CTRS) dan kemudian berkolaborasi dengan ahli-ahli interdisipliner untuk membayangkan ide Tanah Runcuk sebagai tanah Hindia Belanda yang hilang. Lalu bereksplorasi mengenai sistem politik yang dapat dibangun dari teks dan mempertanyakan apakah kejadian sejarah yang dibuat-buat dapat merefleksikan realitas yang fiktif pula. CTRS menjadi pembicaraan hangat di antara kaum intelektual yang menjadikannya suatu titik perkembangan seni rupa kontemporer.

Karya komisi Kunto berjudul Shades of the Unseen (Bayangan dari Niskala) berwujud instalasi yang dipasang di tengah suasana kuburan yang mencekam. Sebuah patung harimau berselimut terkapar di lantai, burung-burung gagak beterbangan (yang oleh perupa dimaksudkan sebagai metafora dari segala ketidakpastian dan trauma akan kejadian-kejadian di bawah kekuasaan rezim kolonial maupun bangsa sendiri). Semuanya bersemayam dan tertutup rapat dan terus saja menghantui masyarakat.

Sinar dari 13 lentera kertas dari atas instalasi nyaris tak memberi cahaya klarifikasi. Ini mencerminkan suasana sesuai realitas zaman. Kusno menggugah kesadaran pemirsa akan kejadian-kejadian dan pengalaman sejarah yang masih diselimuti misteri traumatik.

Jumaadi (lahir 1973) perupa kedua Indonesia pada Gwangju Biennale Ke-13. Ia tinggal di Sydney, tapi berkarya antara kota itu dan kota kelahiran di Jawa Timur. Lalu studionya di Imogiri dan Kamasan di Bali. Kedekatannya dengan komunitas dan kearifan lokal membuat tampak pada karyanya yang memancarkan aura otentik tersendiri.

Kanvas dari kulit kerbau merujuk ke memori pembuatan figur wayang di masa kecilnya, tapi ternyata juga merupakan praksis klasik yang selain di Jawa dan Bali, masih hidup di komunitas China, Turki, dan Yunani. Pun cerita masa kecil mengenai fabel Ovid, kisah Perjanjian Lama selain kisah Ramayana dan Mahabharata, dan sastra kontemporer memengaruhi kehidupan sehari-hari yang terekspresi di atas kanvas dari macam-macam material.

Baca juga: Eddy Susanto, Membuka Mata akan Jawa sebagai Pusat Konstelasi Dunia

Sangat menarik bahwa Jumaadi terinspirasi tradisi craft dan ikonografi khas Kamasan yang mengingatkan pada performance wayang. Melapisi kanvas kain tipis dengan pasta bubur beras ala Kamasan menjadi kebiasaan Jumaadi untuk membuat kanvasnya seperti tampak pada lukisan Love Will Find Its Way (Cinta Akan Menemukan Jalannya) dari tahun 2019 yang ikut dipamerkan di Gwangju Biennale Ke-13. Terdapat pula tujuh drawing chinagraph on mulberry paper berjudul Painkillers merujuk ke eksploitasi buruh di bawah rezim kolonial.

Akan menarik apabila model Gwangju Biennale Ke-13 dapat memberikan pengaruh ke biennale-biennale seluruh dunia di kemudian hari. (*)

---

CARLA BIANPOEN, Penulis/kurator seni rupa kontemporer
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore