alexametrics

Lebih dari Toleransi

Oleh SARAS DEWI, Dosen Filsafat UI
7 Februari 2021, 15:51:46 WIB

Toleransi selalu terucap di tengah keramaian percakapan publik. Toleransi seolah-olah menjadi kata ajaib yang dapat menyingkirkan problem yang mendera di masyarakat, dari prasangka, diskriminasi, hingga persekusi.

SALAH satu kasus terbaru yang menyita perhatian publik adalah pemaksaan pemakaian jilbab terhadap 46 siswi nonmuslim di SMK Negeri 2 Padang. Aturan itu berjalan semenjak 2005, bahkan pihak sekolah merujuk pada Instruksi Wali Kota Padang No 451.442/BINSOS-iii/2005 yang mewajibkan peserta didik perempuan di sekolah negeri untuk menggunakan jilbab.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menuntut agar pemerintah daerah mengevaluasi kembali peraturan-peraturan daerah yang sarat akan diskriminasi.

Menteri pendidikan dan kebudayaan, menteri dalam negeri, dan menteri agama merespons kasus tersebut dengan menerbitkan SKB (surat keputusan bersama) 3 menteri yang berbunyi: ’’Peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan berhak memilih antara: a) seragam dan atribut tanpa kekhususan agama atau b) seragam dan atribut dengan kekhususan agama.’’

Pada substansinya, SKB 3 menteri itu tidak membolehkan sekolah untuk mewajibkan maupun melarang seragam dengan kekhususan agama. SKB 3 menteri itu pun mendesak pemerintah daerah maupun sekolah negeri untuk mencabut aturan-aturan yang berseberangan dengan prinsip hak kebebasan individu.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam kesempatan sosialisasi mengatakan bahwa kasus ini hanyalah puncak dari gunung es. Data-data Kementerian Agama menunjukkan masih banyak kasus diskriminasi di lingkungan pendidikan. Ia mengatakan bahwa SKB 3 menteri itu mengupayakan kehidupan publik yang penuh dengan toleransi.

Langkah ini penting untuk diapresiasi. Namun, sudahkah kita memahami makna toleransi sesungguhnya? Cukupkah dengan sikap toleran dalam menghadapi perbedaan?

Kata toleransi yang berakar dari bahasa Latin ’’tolerare’’ berarti untuk menahan sesuatu, menerima sesuatu yang sebenarnya tidak sejalan dengan pandangan kita demi kelangsungan kehidupan bersama. Bahkan, jika ditelisik, para pemikir Stoik seperti Cicero mengatakan ’’tolerantia fortunae’’, kebajikan seseorang untuk menahan atau memikul hidup yang berat atau nasib yang buruk.

Sering kali juga digunakan kata toleransi dalam istilah kesehatan. Misalnya, saat menggambarkan tingkat rasa sakit pada tubuh, titik manakah batas toleransi rasa sakit pada tubuh.

Alangkah dangkalnya jika toleransi dalam pemaknaan kehidupan bermasyarakat dipahami sebagai penerimaan yang setengah hati terhadap perbedaan. Apakah perbedaan ras, etnis, agama, dan preferensi lainnya dalam kehidupan sosial itu suatu beban?

Menurut saya, filosofi Bhinneka Tunggal Ika mendorong orang Indonesia untuk menghayati serta merayakan eloknya keberagaman. Toleransi bukan hanya demi konteks kehati-hatian agar mencegah konflik sosial, namun lebih partisipatoris: warga negara melihat perbedaan sebagai anugerah, suatu kekuatan yang harus dirawat.

Linda Christanty, seorang peneliti dan sastrawan, menuliskan dalam esainya yang berjudul ’’Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tak Bersalah’’ liku-liku serta sukarnya menjaga pengetahuan tentang keberagaman di Indonesia. Ia menuturkan dengan pilu pengalamannya mengalami diskriminasi sebagai seorang perempuan keturunan etnis Tionghoa.

Ia mengatakan, ’’Perbedaan ternyata menyenangkan dan bisa juga mencemaskan.’’ Memang ada ambiguitas dalam menjalani pengalaman keberagaman.

Akan tetapi, dibutuhkan keterbukaan bagi kemungkinan baru dan keinginan untuk selalu mempelajari perbedaan-perbedaan itu. Bagi Linda Christanty, perbedaan adalah keniscayaan. Ini gamblang tergores dalam sejarah kemanusiaan.

Baca juga: Kemanusiaan di Tengah Wabah

Demikian pula yang disampaikan oleh Alissa Wahid, seorang tokoh perempuan. Ia menguraikan, ’’Sikap menghakimi perlu dilawan dengan sikap membuka pikiran. Sikap sinis perlu dilawan dengan sikap membuka hati agar kita dapat memahami mengapa dan bagaimana kelompok dan orang bisa berbeda dengan kita.’’

Kehendak untuk berbicara dan mempertukarkan pengalaman tentang perbedaan perlu dilakukan. Sehingga terbentuk kesadaraan bahwa kehidupan adalah mozaik yang terdiri atas kepingan-kepingan warna-warni yang berbeda-beda.

Kecintaan terhadap keberagaman dimulai dari keinginan untuk menelisik pemahaman yang terkoyak tentang perbedaan. Saya mempelajari ini dari salah satu mahasiswa saya yang bernama Rizki Baiquni.

Pada suatu kesempatan di tahun 2014, Program Studi Filsafat Universitas Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) untuk memperkaya pengalaman tentang perbedaan. Dalam publikasi LSAF yang berjudul ’’Kata, Kita, dan Toleransi’’, Rizki menuangkan ceritanya saat mengikuti aksi-aksi yang memekikkan kebencian pada aliran Ahmadiyah dan Syiah.

Ia mengaku saat itu pengetahuannya terbatas tentang pluralisme atau toleransi. Namun, nuraninya terusik dan ia merasa perlu memperbaiki kekeliruannya.

Pada lokakarya itu, ia berjumpa dengan seorang pemuda penganut Ahmadiyah. Perjumpaan dengan yang berbeda adalah pengalaman yang menyeruak. Awalnya pasti ada kecanggungan dan ketakutan, namun pada akhirnya hikmat dan menenteramkan.

Sebab, dari pengalaman langsung, dengan bertatap-tatapan, seseorang melihat jauh di lubuk hati, ada yang karib walau dalam perbedaan sekalipun. Hingga saat ini dua pemuda itu terus menjaga pertemanan. Mencintai sesama dalam kerangka keberagaman bukan proses relasi sosial yang instan. Butuh melatih diri untuk terus mengupayakan rasa mengerti dan percaya antarmasyarakat. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads