
Photo
JawaPos.com – Lahir dari sebuah daerah di wilayah yang penduduk kampungnya merupakan pekerja migran di Malaysia, menjadi sebuah inspirasi bagi penulis untuk membuat sebuah Novel berjudul “Mat Karen”. Dalam Novel perdananya, penulis menceritakan kehidupan seorang tokoh bernama Mat Karen. Mat Karen merupakan seorang pemuda desa yang menjadi Ketua Geng Wancor (siapa berani hancur).
Dia berkarakter buruk, bertampang bengis, hobi berkelahi, mabuk-mabukan dan main perempuan. Hal apapun akan dilakukan Mat Karen untuk mengikuti hawa nafsunya. Tak ada seorang pun penduduk di kampung yang berani melawan Mat Karen. Ini karena dia memiliki ilmu Cakra Mandala, sebuah ilmu kanuragan yang tak bisa dikalahkan oleh siapapun. Dengan kesaktiannya, dia pun bersikap semena-mena kepada siapapun, serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Singkat cerita, usai membacok Boger karena menggoda Laela, kekasihnya, Mat Karen kabur dari rumahnya. Untuk menghilangkan jejaknya, dia pun pergi ke rumah pamannya di Madiun. Setelah beberapa bulan, sang paman mengajak Mat Karen merantau ke Malaysia.
Usai bertahun-tahun lamanya merantau, akhirnya Mat Karen memutuskan pulang kampung. Bak orang kaya baru, saat mudik, dia membeli sejumlah barang mewah seperti motor baru, tape recorder, tv dan berbagai barang elektronik lain.
Atas kesuksesan yang dimiliki Mat Karen, sejumlah tetangganya pun kepincut ingin bekerja di negeri jiran. Tak terkecuali dengan dua sahabat Mat Karen, Solem dan Rojiun. Padahal mereka tidak tahu pekerjaan Mat Karen sesungguhnya di tanah seberang. Mat Karen hanyalah seorang kuli bangunan, bahkan mempunyai pekerjaan sampingan sebagai pembunuh bayaran.
Mereka tertarik karena berharap dengan bekerja di luar negeri, nantinya akan bisa membeli sesuatu yang diinginkanya. Sepertihalnya barang-barang mewah yang dimiliki Mat Karen. Padahal keinginan adalah sumber penderitaan.
Setelah berdiskusi panjang, akhirnya Mat, berhasil mengajak dua sahabatanya, Solem dan Rojiun merantau ke Malaysia. Mat Karen bahkan rela menalangi ongkos salah satu temannya itu, dengan duit yang didapatkan dari hasil menjual separuh tanah ibunya (Mbok Ghimah).
Setelah melalui proses panjang, ketiganya pun sampai di Malaysia. Solem dan Rojiun Kaget. Tak disangka, ternyata apa yang dibayangkannya berbeda. Keduanya malah kerja tak tenang, karena kerap di kejar-kejar oleh Polisi Diraja Malaysia. Ini karena mereka merupakan pekerja ilegal, yang tak mempunyai dokumen resmi sebagai tenaga kerja asing (TKA). Kejadian demi kejadian tak mengenakan seolah menjadi pemandangan biasa, hingga berbulan-bulan lamanya.
Baca juga: Saguna, Kisah Preman Budiman yang Tewas Akibat Pengkhianatan
Sempat ingin menyerah, tapi karena sudah jauh-jauh merantau ke negeri orang, mereka pun bertekad untuk bertahan dan akhirnya berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Setelah sekian lama merantau, akhirnya Solem dan Rojiun bisa pulang ke kampung halaman. Sebelumnya, Mat Karen terlebih dahulu pulang. Untuk menyenangkan anggota keluarganya, beberapa buah tangan seperti: emas, jam tangan modern, pemutih wajah dan berbagai oleh-oleh lain mereka berikan kepada keluarga dan sanak familinya. Tak lupa, para tetangga juga juga ikut diberi.
Sejumlah warga pun geger dan kepincut ingin sukses seperti Mat Karen, Solem dan Rojiun. Mereka pun akhirnya berbondong-bondong mengikuti jejak ketiganya. Namun tidak bagi Amiq, tetangga Mat Karen. Sempat tergoda namun hatinya lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bersama Ahmad, sahabatnya.
Meski berhasil menggapai cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, namun Amiq justru kehilangan orang yang dicintainya. Di plot inilah penulis berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca. Ini karena tiba-tiba Nur, wanita pujaan Amiq tergila-gila kepada Mat, hingga keduanya akhirnya menikah. Padahal Mat bukanlah orang baik. Hancurlah perasaan Amiq, karena tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada diri Nur.
Meski akhirnya Mat Karen dan Nur berpisah, dan orang tua Nur ingin anaknya menikah dengan Amiq, namun hal itu justru tak terwujud. Amiq justru menolak Nur. Keduanya saling mencintai, namun takdir berkata lain. Nur meninggal di pelukan Amiq, orang yang dikasihinnya.
Selain menceritakan latar perihal fenomena kehidupan pegawai Migran, dalam novel ini juga terkandung pesan moral, jika sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah sendau gurau belaka. Sehingga tak perlu silau dengan kemewahan semu dunia. Karena negeri akhiratlah kelak sebenar-benarnya tempat tinggal umat manusia.
Judul: Mat Karen
Penulis: Khafid Ulum
Penerbit: REQbook (Managed by CV Hijau Daun Jeruk)
Terbit: Oktober 2020
Tebal: 379 halaman ISBN: 978-623-94581-0-2

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
