
PAMERAN LUKISAN
Aistheta adalah tajuk pameran tunggal seni rupa karya Goenawan Mohamad, seorang seniman dengan karier kreatif lebih dari enam puluh tahun, pemikir budaya terkemuka, penyair dan penggubah libreto, jurnalis senior pendiri majalah Tempo cum penulis dengan reputasi internasional, yang digelar di Orasis Art Space, Jalan Bukit Golf, CitraLand, Surabaya, 3 Juni hingga 13 Agustus 2023.
MENGHADAPI 58 karya rupa berupa lukisan pada kanvas, drawing di atas kertas dengan charcoal dan tinta, litografi dan intaglio, pada dasarnya adalah upaya melatih kembali kepekaan kita atas segala yang indrawi, yang sensuous dan yang konkret, lalu merasuk merengkuh suasana drama piktorial sederhana dengan menghargai bentuk alamiah dan bukannya meniadakan bentuk-bentuk itu sendiri dalam momen kontemplatif di tengah kilasan dan lalu-lalang segala wujud yang banal.
Ya. Setiap hari dan bahkan setiap jam kita berhadapan dengan lalu-lalang visual tanpa henti, fragmen-fragmen rupa di gawai, gambar-gambar berseliweran di segala penjuru, di jalanan hingga kamar tidur kita. Setiap saat kita dapat berselancar lautan informasi di media online atau media sosial. Gelontoran image datang dan pergi begitu cepat. Sesuatu ditayangkan bukan untuk diabadikan, melainkan justru untuk dihapus dan sekejap dilupakan.
Citra yang berpilin dengan citra, gambar yang tumpah dalam buncahan dan serpihan gambar, cukuplah diterima atau dikunyah lalu di-lepeh sekadarnya sebagai empasan sensasi yang menyentuh persepsi retinal dan karenanya tak perlu diulik hal ihwal di baliknya serta tidak penting benar apakah semua itu memicu pengalaman bermakna atau sekadar nonsens.
Halnya berbeda dengan tindakan membaca buku misalnya, atau mencerna tulisan mendalam. Bagaimanapun, aktivitas membaca senantiasa membutuhkan konsentrasi dan situasi yang lebih soliter, sementara berselancar di lautan informasi dan bentuk visual lebih mirip dengan kegiatan tamasya di permukaan narasi yang berseliweran secara serempak. Yang dicari adalah justru keterpecahan, ketercerai-beraian, fragmentasi, segregasi, benturan-benturan acak, atau semacam histeria visual dalam sabetan-sabetan impresi sesaat.
Itulah gelombang pasang ingar bingar dunia tipografis-visual di mana salah satu implikasinya adalah sikap yang tidak hirau terhadap makna. Yang dicari adalah justru keterpecahan, ketercerai-beraian, fragmentasi, segregasi, benturan-benturan acak, atau semacam histeria permainan narasi. Yang dikejar adalah jouissance, yakni kenikmatan bentuk yang wantah dan bukannya plaisir berupa kenikmatan intelektual dengan dimensi-dimensi artistik yang lebih substansial.
Sekali lagi, secara langsung maupun tidak langsung, itu semua membuat orang semakin tak peduli dengan kedalaman. Segalanya diterima sebagai kenyataan apa adanya, bahkan menjadi ”kebenaran” tanpa reserve. Orang menyerapnya secara pasif dan tanpa sikap kritikal, apalagi kehendak untuk menciptakan makna yang lebih berarti atas kenyataan tersebut.
Menurut Goenawan Mohamad, seni adalah wahana untuk menyelamatkan atau sekurang-kurangnya mengimbangi gelontoran dan kecamuk segala wujud yang banal. Tidak hanya itu. Menghadapi sebuah lukisan secara langsung (bukan foto atau image tentang lukisan), kita diajak memandang komposisi objek yang ditampilkan sekaligus merengkuh, mengulik, mendedah, dan bahkan menciptakan makna baru. Hal itu tidak hanya terjadi sekali pukul. Kita dapat melakukannya secara berulang, seperti membaca buku dengan tenang sehingga terbangun hubungan yang intens guna memperkaya pemahaman kita terhadap kehidupan. Itulah Aistheta.
Hal lainnya, dalam seni rupa kita bisa mendapatkan apa yang dapat disebut sebagai ”totalitas performatif”, yakni bobot kehadiran artistik yang melampaui wujud visualnya. Dalam pameran itu kita menemukan lukisan berjudul ”Black Lives Matter”, yakni gambar sosok mirip Yesus yang terbaring atau terkapar dengan tubuh kurus seperti ranting kayu yang terbengkalai. Di situ juga ada gambar tatakan mirip cawan suci dan petikan narasi tentang sosok yang penuh penderitaan.
Kita bisa membandingkan lukisan itu dengan seni religius Kristen yang bertumpu pada asas simbolisme. Kenapa simbolisme? Karena objek yang digambar bukan sekadar tubuh biasa, melainkan wahana untuk menghadirkan daya-daya ilahiah secara langsung. Tapi, pada saat yang sama kita tahu bahwa nyaris mustahil menggambarkan atau merepresentasikan secara akurat pengalaman religius ketika manusia berhubungan dengan daya-daya ilahiah.
Seni religius cenderung menghindari penggambaran pengalaman rohaniah dalam bentuk-bentuk yang realistik karena hal itu akan memicu respons tunggal. Seni religius adalah wahana untuk menghilangkan jarak antara yang profan dengan yang ilahiah sekaligus hendak menghidupkan ”intelek”, yakni suatu keadaan di mana secara epistemologis menuju lenyapnya jarak antara subjek dan objek. Sedangkan tujuan seni naturalistik dan realistik adalah menghidupkan ”akal budi” sehingga muncul dikotomi yang tegas antara subjek dengan objek.
Seni religius tidak dibuat secara naturalistik dengan mengindah-indahkan bentuknya, untuk mencegah hilangnya pancaran daya-daya ilahiah dari objek yang menjadi bagian integral dari pengalaman rohaniah yang terkandung di dalamnya. Jika lukisan itu dibuat secara naturalistik dan realistik, selain akan memicu respons tunggal, juga akan menyeret sang pemandang pada pemujaan terhadap kemolekan objek yang direpresentasikan. Sang pemandang akan mudah terjatuh pada keindahan objek sebagai objek semata dan bukannya pada suasana khusyuk guna merasakan kembali daya-daya ilahiah di baliknya.
Itu sekadar contoh. Tentu, lukisan Goenawan Mohamad bukan seni religius dan sang seniman juga bukan orang Kristen. Yang hendak ditegaskan di sini adalah: bagaimana menghadapi karya seni sebagai wahana untuk melatih kepekaan artistik kita agar tidak mudah terperangkap pada wujud badaniah belaka. Kita diajak terus melatih diri menemukan ”totalitas performatif” dari karya seni rupa untuk melampaui jangkauan persepsi dan tatapan indra biasa.
”Saya tidak melukis dengan ide, tapi dengan imaji,” ujar sang seniman. Ya. Dengan seni, imaji, dan Aistheta, pada momen-momen tertentu kita bisa mengatasi kepungan segala hal yang wantah, wadak, dan banal. (*)
WICAKSONO ADI, Kurator dan penulis seni rupa

12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
Muncul Dua Nama Terduga Pelaku Penipuan Rekrutmen ASN Pemkab Gresik, Satu Pegawai Aktif
Selain Tangkap Bupati Tulungagung, KPK Amankan Sekda hingga Kadis PUPR
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Link Live Streaming Timnas Futsal Indonesia vs Thailand di Final Piala AFF 2026
