Logo JawaPos
Author avatar - Image
11 Juni 2023, 15.59 WIB

Selepas Buhaji Pergi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Aku dilarang menangis. Katanya, kepergian adalah hal yang niscaya. Namun, bagaimana mungkin? Akulah yang selama belasan tahun tidur bersamanya, meletakkan jari telunjuk dan tengahku di antara hidung dan mulutnya, memastikan dia masih bernapas.

KUDENGAR suara ibuku mendorong keluar lendir lengket dari rongga hidungnya. Aku tahu dia belum berhenti menangis sejak Buhaji tak lagi mampu bicara. Saat aku datang, ibu buru-buru menyeka kedua mata, memelukku dan berkata lirih, ”Buhaji sudah tiada.”

Dia mengakhiri kata terakhirnya sambil menumpahkan lagi rasa kehilangannya. Aku mengelus-elus punggungnya yang naik turun, apakah mengalir juga perasaan lega di dadanya?

Aku dilarang menangis, tapi ternyata bedakku jadi luntur karena duka itu terus mengalir tanpa bisa kuminta berhenti.

”Buka sebentar saja, cium keningnya. Kalau anak dan cucu tidak apa-apa, masih sedarah,” anak tertuanya membuka kafan bagian wajah dan menyilakan adik serta keponakannya yang baru sampai untuk melihat jenazah Buhaji.

Duka itu kembali menderas dan berhasil meruntuhkan pertahananku saat sekilas kulihat wajah Buhaji. Aku tak bisa menyentuhnya, aku bahkan tidak diajak untuk mendekat demi memperhatikan wajahnya untuk kali terakhir. Sekilas, kulihat tulang pipinya yang menonjol dan warna kulitnya yang pucat. Itu membuat reka ulang kebersamaanku dengannya berputar cepat di kepala.

Cahaya berkilatan dari ponsel orang-orang yang mengelilingi keranda Buhaji. Aku tahu mereka ingin mengabadikan momen ini. Namun, itu tetap terasa menjengkelkan sekali, mengapa mereka sampai hati?

”Ke mana si Amir?”

”Menemani tamu.”

”Sudah ada Hamzah, jangan fafifu terus. Minta dia siap-siap, sebentar lagi kita antar jenazah ibu.”

Amir yang mendengar namanya dipanggil oleh kakak tertua segera bangkit dan pamit pada tamu di hadapannya. Pria berusia 60 tahun itu adalah anak bungsu. Matanya sedikit merah dan agak sembap, mungkin menangis karena akan kehilangan bantuan Buhaji yang selama ini ikut menyokong kehidupannya bersama istri baru dan anak-anaknya.

”Aku ikut Mbak Tin di mobil Cipta ya?”

”Motoran aja, mobilnya enggak cukup. Aku aja nyempil kok sama Mbak Nur.” Anak kedua, perempuan satu-satunya di keluarga itu, menolak dengan judes.

Hampir semua orang tidak menyukai si anak bungsu yang menyusahkan. Beberapa mungkin sekadar memaklumi atau belum mengetahui tabiat si bungsu yang sulit mandiri walau sudah beranak-istri.

Meski tinggal berbeda kota, jarak rumahnya paling dekat dengan Buhaji. Namun, dia justru jadi yang paling jarang mengunjungi ibunya sendiri.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore