Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Juni 2023 | 15.49 WIB

Tanah Para Bandit: Kebenaran dan Kerancuan

COVER BUKU - Image

COVER BUKU

Kekurangan yang cukup mencolok dalam Tanah Para Bandit, menurut kacamata saya sebagai dosen bahasa, adalah kerancuan tata bahasa seperti kalimat yang tidak memiliki fungsi S (subjek) dan kalimat yang cacat secara logika.

Kerancuan fungsi sintaksis yang pertama dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

”Mungkin sama seperti anak perempuan lainnya, setelah dimarahi oleh orang tua, menangis, kabur dari rumah.” (halaman 5)

Membaca kalimat tersebut seperti membaca kalimat yang masih menggantung karena ada bagian yang belum diselesaikan. Penggunaan tanda koma yang berurutan seolah hendak menginformasikan kondisi subjek. Namun, hingga muncul tanda titik, subjek memang tidak disebutkan.

Padahal, menurut perspektif sintaksis, sebuah kalimat setidaknya memiliki fungsi SP (subjek dan predikat). Sementara itu, dalam kalimat tersebut tidak dijumpai subjeknya.

Tak jauh berbeda dengan kutipan berikut ini.

”Satu-satunya hiburan yang kumiliki. Membaca buku.” (halaman 24)

Kalimat ”Membaca Buku” sejatinya merupakan jawaban atas ungkapan satu-satunya hiburan. Namun, Tere Liye memisahnya menjadi dua kalimat. Padahal, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya bahwa struktur minimal sebuah kalimat adalah SP.

Sementara itu, kalimat ”Membaca Buku” hanya berfungsi PO (predikat dan objek). Simpulannya, ”Membaca Buku” tidak bisa disebut kalimat. Kalimat yang seharusnya ditulis adalah Satu-satunya hiburan yang kumiliki adalah membaca buku.

Kerancuan selanjutnya adalah cacat secara nalar seperti dalam kutipan berikut ini.

”Kalian lihat kakak itu, sudah cantik, pintar lagi. Dia kuliah di kampus bagus, berani merantau sendirian, ke ibu kota. Kalian tidak mau jadi dia nanti kalau besar?” (halaman 140)

Selain penggunaan tanda titik dan koma yang kacau, kalimat terakhir dari kutipan tersebut juga dapat dianggap tidak logis. Ungkapan tidak mau jadi dia adalah hal yang mustahil terjadi. Sebab, dia hanya ada satu di dunia ini. Kecuali, dia memiliki saudara kembar. Agaknya yang dimaksud Tere Liye adalah tidak mau jadi (seperti) dia yang berarti sebatas meniru hal-hal baik yang telah dilakukan dia. Akhir kata, membaca Tanah Para Bandit memang menyelami kebenaran sekaligus kerancuan. (*)

*) AKHMAD IDRIS, Dosen bahasa Indonesia di STKIP Bina Insan Mandiri Surabaya sekaligus penulis buku Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia

---

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore