Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Juni 2023 | 15.49 WIB

Tanah Para Bandit: Kebenaran dan Kerancuan

COVER BUKU - Image

COVER BUKU

Cerita fiktif Tere Liye terlihat ”lebih fakta” daripada fakta-fakta. Tapi, dia agaknya luput memperhatikan tata bahasa dalam kalimat-kalimat yang disusun.

LABEL karya fiksi dalam novel memang membuat novel terkesan karya yang tidak faktual. Namun, dengan label fiksi itulah novel justru mampu mengungkapkan kejujuran tanpa ada ”ketakutan-ketakutan”. Kejujuran inilah yang saya tangkap dari novel mutakhir Tere Liye yang berjudul Tanah Para Bandit.

Tere Liye menghadirkan cerita fiktif yang terlihat ”lebih fakta” daripada fakta-fakta yang telah ada lewat kisah pedagang buku bajakan yang tetap beroperasi hingga buruan negeri yang melenggang aman di Singapura. Di balik kejujuran itu, Tere Liye agaknya luput memperhatikan tata bahasa dalam kalimat-kalimat yang disusun. Beberapa kalimat yang saya temui terkesan tidak logis dan rancu secara sintaksis.

Kejujuran Karya Fiksi

Tanah Para Bandit secara keseluruhan berkisah tentang Padma yang menghabisi kejahatan-kejahatan tingkat tinggi para ”bandit”. Berdasar perspektif sosiologi sastra, kasus-kasus yang dikisahkan Tere Liye sejatinya merupakan semesta ide yang diperoleh berdasar fenomena-fenomena di masyarakat. Beberapa fenomena yang berhasil dipotret Tere Liye adalah keberadaan penjual barang-barang bajakan yang seolah ”mustahil” dimusnahkan dan kehebatan beberapa buruan negeri ini yang sulit ditemukan ketika sudah bersembunyi di Singapura.

Senada dengan yang disampaikan Seno Gumira Ajidarma (2005) dalam Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara bahwa karya sastra itu tidak seterikat fakta-fakta di dalam jurnalisme yang dijerat dengan berbagai kepentingan. Karya sastra dapat berdiri sendiri dengan bebas untuk mengungkapkan kejujuran tanpa tendensi gegara label fiksi.

Kejujuran karya fiksi dapat dilihat di dalam Tanah Para Bandit saat Padma tak sengaja mengetahui latar belakang di balik keberadaan penjual barang-barang bajakan yang sulit dimusnahkan. Berikut kutipannya.

”Sudah menyiapkan setoran bulan ini, Bang?”

”Sudah, tapi mereka minta tambah. Bos besar minta tambahan.”

”Buat apa lagi, Bang?”

”Tidak tahu. Tapi jika kita tidak menambah setoran bulan ini, mereka mengancam melakukan razia besar.” (halaman 152)

Sering saya temui buku-buku bajakan yang beredar secara offline maupun online dan dugaan tak berdasar saya adalah karena ”kecerdikan” penjual menjaga barang dagangannya. Namun, Tere Liye menghadirkan ”kebenaran” yang terlihat lebih faktual, yaitu karena para penjual rutin memberikan setoran kepada ”Bos Besar”.

Selain mengungkap misteri penjual barang bajakan, Tere Liye membeberkan dengan gamblang alasan dahulu kala para kriminal sulit ditangkap ketika masuk ke Singapura.

”Itu benar, negara kami kadang memasukkan syarat lain, karena itu bagian dari negosiasi. Tapi sesungguhnya, kami sejak lama menginginkan perjanjian ekstradisi itu. Elit pemerintahan kalianlah yang tidak pernah mau menyetujui ekstradisi itu.” (halaman 275–276)

Kerancuan Kalimat

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore