
COVER BUKU
Cerita fiktif Tere Liye terlihat ”lebih fakta” daripada fakta-fakta. Tapi, dia agaknya luput memperhatikan tata bahasa dalam kalimat-kalimat yang disusun.
LABEL karya fiksi dalam novel memang membuat novel terkesan karya yang tidak faktual. Namun, dengan label fiksi itulah novel justru mampu mengungkapkan kejujuran tanpa ada ”ketakutan-ketakutan”. Kejujuran inilah yang saya tangkap dari novel mutakhir Tere Liye yang berjudul Tanah Para Bandit.
Tere Liye menghadirkan cerita fiktif yang terlihat ”lebih fakta” daripada fakta-fakta yang telah ada lewat kisah pedagang buku bajakan yang tetap beroperasi hingga buruan negeri yang melenggang aman di Singapura. Di balik kejujuran itu, Tere Liye agaknya luput memperhatikan tata bahasa dalam kalimat-kalimat yang disusun. Beberapa kalimat yang saya temui terkesan tidak logis dan rancu secara sintaksis.
Kejujuran Karya Fiksi
Tanah Para Bandit secara keseluruhan berkisah tentang Padma yang menghabisi kejahatan-kejahatan tingkat tinggi para ”bandit”. Berdasar perspektif sosiologi sastra, kasus-kasus yang dikisahkan Tere Liye sejatinya merupakan semesta ide yang diperoleh berdasar fenomena-fenomena di masyarakat. Beberapa fenomena yang berhasil dipotret Tere Liye adalah keberadaan penjual barang-barang bajakan yang seolah ”mustahil” dimusnahkan dan kehebatan beberapa buruan negeri ini yang sulit ditemukan ketika sudah bersembunyi di Singapura.
Senada dengan yang disampaikan Seno Gumira Ajidarma (2005) dalam Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara bahwa karya sastra itu tidak seterikat fakta-fakta di dalam jurnalisme yang dijerat dengan berbagai kepentingan. Karya sastra dapat berdiri sendiri dengan bebas untuk mengungkapkan kejujuran tanpa tendensi gegara label fiksi.
Kejujuran karya fiksi dapat dilihat di dalam Tanah Para Bandit saat Padma tak sengaja mengetahui latar belakang di balik keberadaan penjual barang-barang bajakan yang sulit dimusnahkan. Berikut kutipannya.
”Sudah menyiapkan setoran bulan ini, Bang?”
”Sudah, tapi mereka minta tambah. Bos besar minta tambahan.”
”Buat apa lagi, Bang?”
”Tidak tahu. Tapi jika kita tidak menambah setoran bulan ini, mereka mengancam melakukan razia besar.” (halaman 152)
Sering saya temui buku-buku bajakan yang beredar secara offline maupun online dan dugaan tak berdasar saya adalah karena ”kecerdikan” penjual menjaga barang dagangannya. Namun, Tere Liye menghadirkan ”kebenaran” yang terlihat lebih faktual, yaitu karena para penjual rutin memberikan setoran kepada ”Bos Besar”.
Selain mengungkap misteri penjual barang bajakan, Tere Liye membeberkan dengan gamblang alasan dahulu kala para kriminal sulit ditangkap ketika masuk ke Singapura.
”Itu benar, negara kami kadang memasukkan syarat lain, karena itu bagian dari negosiasi. Tapi sesungguhnya, kami sejak lama menginginkan perjanjian ekstradisi itu. Elit pemerintahan kalianlah yang tidak pernah mau menyetujui ekstradisi itu.” (halaman 275–276)
Kerancuan Kalimat

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
