
ILUSTRASI
Ia menggoyang-goyangkan badan motor bebeknya, memiringkannya, lalu mendekatkan telinganya ke tangki, memastikan bensinnya masih cukup untuk berangkat ke mesin ATM pecahan dua puluh ribu di pusat kota. Indikator bensinnya sudah rusak sejak kali pertama ia membelinya dengan harga empat juta.
IA mengengkol motornya beberapa kali, menarik cuknya, tapi gagal. Ia menduga bensinnya habis. Namun dugaannya ini bukanlah pilihan yang tepat, pilihan yang tepat tentu mesti dibarengi dengan solusi, dan solusinya adalah pergi ke pom bensin dan pergi ke pom bensin membutuhkan uang dan ia tidak punya uang. Akhirnya dugaan pertama ia tepis, dan kemudian ia beralih pada dugaan yang lain, bahwa ada kemungkinan motornya yang hampir setahun tidak diservis itu bermasalah pada businya yang kotor. Ia membongkarnya, membersihkan businya, kemudian memasangkannya kembali dan mengengkolnya kemudian. Brummm... brumm.. brumm.. motor itu terbatuk-batuk sesaat, kemudian mengerang panjang di tengah cuaca panas yang menyengat.
Ia tersenyum melihat motornya kembali menyala. Ia tersenyum karena terbayang pecahan uang dua puluh ribu keluar dari mesin ATM. Setelahnya ia akan makan di warung Mbok Badar: tempe garit, telur dadar, sambal bawang, lalapan bayam rebus, es teh manis, disantap pukul satu siang di tengah panas terik yang menguras kerongkongannya. Setelahnya sebatang kretek akan melengkapi kenikmatannya siang itu. Dan ia pun kembali tersenyum.
Tiga minggu yang lalu lima puisinya dimuat di media online. Honor sekali pemuatan seratus lima puluh ribu rupiah. Hitungan ekonomisnya, untuk membikin satu puisi mungkin ia membutuhkan beberapa bungkus rokok –ambil pahitnya misal tiga bungkus rokok, beberapa kali makan, dan beberapa cangkir kopi manis. Satu bungkus rokok murah dibanderol seharga tujuh ribu lima ratus. Tujuh ribu lima ratus dikali tiga sama dengan dua puluh dua ribu lima ratus. Dua puluh dua ribu lima ratus dikali lima sama dengan seratus dua belas ribu lima ratus. Untuk rokok tiga bungkus yang supermurah saja sudah tombok produksi, belum makan, kopi, dan tetek bengek lainnya. Artinya untuk hitungan dagang ia sudah mengalami kebangkrutan produksi. Tapi ia terus mengulanginya.
Ia tahan dengan ocehan pacarnya yang mengatakan padanya bahwa ia telah gagal memilih jalan hidup. Padahal ia fresh graduate pascasarjana fakultas ilmu budaya di kota ini. Beberapa kali ia ikut mendaftar tes CPNS dosen, tapi gagal. Ia sudah mempunyai tiga buku karya sastra. Dua kumpulan cerpen dan satu buku kumpulan puisi yang baru saja terbit tahun ini. Di tahun pertama perkenalan, pacarnya kerap membanggakannya, bahwa ia mempunyai calon suami yang mempunyai prospek yang cerah pada kariernya. Pacarnya sudah mengikuti perjalanan kariernya sejak S-1. Ia kerap memenangkan lomba cipta puisi dan cerpen. Bahkan ia mendapat penghargaan mahasiswa berprestasi dari kampusnya. Karena itu pacarnya meyakini bahwa prestasi calon suaminya akan turut mengantarkannya pada keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Namun di tahun kelima, hubungan mereka oleng dan tersungkur di akhir tahun 2022.
Sebagai penyair muda yang menjunjung tinggi harkat cinta –termasuk puisi-puisi untuk pacarnya, kini ia nyaris tak percaya cinta setelah pacarnya meninggalkannya. Ia dan pacarnya pernah memimpikan punya rumah ketika kelak sudah menikah. Rumah minimalis dengan banyak pohon di sekelilingnya; bercinta di alam terbuka, bersepeda, menikmati sore berdua, dan menulis tentu saja. Tapi impian itu justru melukai mereka. Ia pernah berjanji pada pacarnya akan menikahinya tahun 2019, tapi karena kondisi keuangan yang kosong, ia mengatakan pada pacarnya akan menikahinya tahun depan. Namun tahun berikutnya pandemi menjegalnya dan ia terjungkal pada kondisi yang paling menyedihkan. Sampai puncaknya di akhir tahun 2022 lalu, pacarnya meninggalkannya dalam kondisi paling terpuruk dalam hidupnya. Jangankan uang untuk menikah, bahkan honor bukunya tak mampu untuk memberinya makan sebulan. Ijazah S-2-nya hanya teronggok di kamar kosnya yang berukuran empat kali tiga. Bahkan yang lebih miris adalah penghasilannya berbanding terbalik dari temannya yang hanya tamatan sekolah dasar, yang berjualan gorengan di kota ini. Lebih dari itu temannya sudah mempunyai rumah sendiri, hidup bahagia bersama istri dan ketiga anaknya. Lantas ia berpikir, untuk hidup bahagia orang tidak memerlukan gelar dan popularitas. Apalagi sebuah puisi.
Kadang ia tertawa sendiri. Mungkin ia sedang menertawakan dirinya sendiri. Pernah pula ia menulis puisi untuk temannya yang dikirimnya lewat WA, lalu ia mendapat balasan dari temannya bahwa ia diminta menjelaskan puisinya. Tapi ia malah menjelaskan bahwa puisi itu telah memenangkan juara satu lomba cipta puisi tingkat nasional dengan hadiah senilai lima ratus ribu rupiah. Tiga ratus ribu untuk membayar utang temannya, dua ratus ribu ia pegang dan lenyap di mulut pada hari keempat. Kemudian setelah menjelaskan prestasi puisi yang dikirimnya, temannya membalasnya dengan tanda jempol. Karena takut mengecewakan, temannya pura-pura mengerti puisinya. Dan ia pun senang dengan tanda jempol temannya.
Di tengah situasi hidupnya yang ambruk, ia justru mendapat kabar buruk. Ketika suatu waktu ia ngadem di serambi masjid almamaternya. Lalu seseorang datang menghampirinya dan mengajaknya bicara. Delapan puluh persen kalimat pertama tentu saja basa-basi. Pertanyaan-pertanyaan umum yang kerap kita temui ketika berkenalan dengan orang baru.
”Kuliah di sini, Mas?”
”Alumni, Pak.”
”O, sudah alumni. Jurusan apa?”
”Sastra, Pak.”
”Wah, pinter nulis puisi, dong?”
Ia hanya tersenyum.
”Kamu tahu nggak, kalau di Alquran itu ada surah Para Penyair?”

Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
Selain Tangkap Bupati Tulungagung, KPK Amankan Sekda hingga Kadis PUPR
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Profil Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, Kader Partai Gerindra yang Terjaring OTT KPK
Muncul Dua Nama Terduga Pelaku Penipuan Rekrutmen ASN Pemkab Gresik, Satu Pegawai Aktif
KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo
Sederet 15 Kuliner Steak di Surabaya Paling Enak dengan Saus Lezat yang Wajib Dicoba Pecinta Daging
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Kuliner di Surabaya: 17 Rekomendasi Bakso Terbaik dengan Rasa Autentik
Resmi! 8 Bintang Absen di Laga Persija Jakarta vs Persebaya Surabaya, GBK Bergemuruh Sambut Jakmania dan Bonek
