Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Mei 2023, 14.00 WIB

Kebudayaan ala Kotak Korek Api

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Pada 2 Mei lalu, tepat di Hari Pendidikan Nasional, di sebuah festival seni dan buku di Jogja, saya menghadiri pidato kebudayaan yang dibacakan sastrawan Seno Gumira Ajidarma.

DI tengah-tengah pidato menggebu Seno tentang pendidikan alternatif ala Ki Hadjar Dewantara, saya tiba-tiba mengingat beberapa pertanyaan di masa sekolah dasar dan menengah, yang dulu sering bikin jengkel, karena sepenuhnya mengandalkan hafalan. Tentang nama-nama rumah adat, tarian khas daerah, hingga makanan pokok suku tertentu. Dan saya yakin, pertanyaan-pertanyaan itu, langsung maupun tidak, bersumber pada konsep-konsep Ki Hadjar.

Sepulang dari acara, saya mencoba melacak pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba mengapung di ingatan itu di internet. Meskipun sudah menduga pertanyaan-pertanyaan tersebut masih ada, dan masih terus dipakai untuk mengukur seberapa pintar anak-anak kita di sekolah setelah sekian dekade, saya terkejut juga menemukannya dengan mudah terserak di mesin pencari, terutama di situs-situs layanan bimbingan belajar daring. Dan dengan sedikit menyesal, di awal Mei, masa ketika kita seharusnya mengelu-elukan pikiran Ki Hadjar, dan memang selayaknya demikian, saya justru mengingatnya dengan cara yang sedikit berbeda.

Di masa lalu, saya mengasosiasikan pertanyaan-pertanyan itu dengan salah satu jenis kotak korek api. Di kotak korek api itu kita bisa temukan sepasang pengantin (atau dipersepsi demikian) yang berdiri dengan pakaian adat di depan rumah adat. Di pojok atas kita temukan nomor urut, sementara di bagian bawah gambar ditulis keterangan provinsi asalnya –yang saat itu masih berjumlah 27.

Di era prainternet, kotak korek api itu barangkali ingin membantu anak-anak sekolah lebih mudah menghafal nama-nama pakaian sekaligus rumah adat dari masing-masing provinsi. Ia memperkenalkan generasi kami dengan sebagian kebudayaan nasional kita. Tapi, karena sebagian dari kami hanya bertemu hal itu, dan hal itu lagi, baik di buku pelajaran, di kotak korek api, juga di hari-hari besar nasional, dan belakangan di internet, jangan salahkan jika itulah sepenuhnya gambaran sebagian kami tentang kebudayaan.

***

Kebudayaan nasional, menurut Ki Hadjar, disusun dari segala sari-sari dan puncak-puncak kebudayaan daerah. Ini barangkali salah satu doktrin terpenting sekaligus kalimat paling sakti dalam sistem pengajaran kebudayaan kita. Orang macam saya yang lama tak bersentuhan dengan sekolahan bahkan masih mengingatnya, meskipun telah sama sekali lupa apa penjelasan dan konteksnya. Saya mesti baca-baca ulang untuk kembali meniliknya.

Ki Hadjar merumuskan konsep itu di laporannya tentang Kongres Kebudayaan Pertama tahun 1948. Rumusan ini jelas bersemangat antikolonial, sebagaimana keseluruhan pemikirannya. Namun juga secara gamblang mengamplifikasi slogan-slogan Kongres Pemuda II, 20 tahun sebelumnya, yang mengandaikan bahwa dalam Indonesia merdeka semua hal idealnya serbasatu: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, dan kenapa tidak dengan satu kebudayaan, yaitu kebudayaan nasional.

Konsep kebudayaan nasional ala Ki Hadjar bukan satu-satunya konsep kebudayaan yang mengemuka dalam sejarah pertarungan wacana kebudayan kita. Ia disanggah pemikir lain semasanya (Supomo, misalnya), dikritik oleh para penggagas atau penggerak kebudayaan di generasi berikutnya (sebut saja Lekra), dan terus menginspirasi bahasan dan perdebatan tentang kebudayaan Indonesia hingga sekarang.

Namun, pada akhirnya, konsep Ki Hadjar-lah yang menang dan lebih dikenal. Dan, masih terus direproduksi. Sebagian tanpa didiskusikan ulang relevansinya. Sebagian lebih besar lagi bahkan terlihat seperti mesin fotokopi yang mencetak ulang apa pun yang dipindainya.

Kekuasaan dari waktu ke waktu tampak menumpukan pengertiannya atas kebudayaan pada konsep Ki Hadjar. Soekarno, seorang flamboyan dan senang pamer sekaligus sangat menyukai politik representasi, senang mengundang penari atau pemusik dari berbagai daerah untuk tampil di Istana Negara atau mengutusnya ke mancanegara. Soeharto, seorang suami yang ingin selalu menyenangkan istri, secara leterlek mengaplikasikan konsep Ki Hadjar dengan membangun Taman Mini Indonesia Indah. Sementara Joko Widodo, yang sehari-hari dikenal karena tampilan merakyatnya, justru menunjukkan sisi lain dirinya pada setiap upacara HUT RI dengan tampil dalam berbagai baju adat (yang sebenarnya baju kebesaran ala raja-raja lokal itu).

Baju adat, sebagaimana yang senang dikenakan Presiden Jokowi tiap Agustusan, juga rumah dan kesenian khas ala TMII-nya Bu Tien, dan jenis-jenis kebudayaan adiluhung dari berbagai daerah yang di-endorse oleh selera Bung Karno, pada dasarnya juga adalah pengulangan-pengulangan yang rutin sejak pertama ia disusun. Daftar-daftarnya tak banyak berubah, atau bahkan sama sekali tak berubah. Dan, tampaknya, itulah yang kemudian dicatat oleh para penulis buku ajar, dan kemudian dicekokkan guru-guru sejak sebelum generasi saya hingga anak-anak dari generasi saya. Tak heran, di internet, situs-situs yang mengharap klik para pelajar yang sedang mengerjakan PR dengan senang hati menyediakannya.

Tak perlu disebut soal betapa kebudayaan telah diringkus jadi sangat sempit dengan sepenuhnya berasosiasi dengan kebudayaan tradisional. Juga tak usah dibahas lagi soal karakter elitisnya, sebagaimana yang pernah ditengarai Lekra ketika lembaga kebudayaan kiri ini masih aktif. Yang paling mudah dilihat, seluruh gambaran tentang ”kebudayaan nasional” dari contoh-contoh di atas sepenuhnya beku. Ia mengabaikan bahwa dunia berubah, manusia berubah, dan yang paling penting manusia Indonesia yang memproduksi kebudayaan Indonesia juga berubah.

Belum lagi kalau kita bicara tentang konsep ”daerah” dalam frasa ”puncak-puncak kebudayaan daerah”. Bagaimana kalau kita jumpa dengan produk kebudayaan yang tak berbasis daerah?

Jika pada 1950 seorang penulis di majalah Mimbar Indonesia menyebut musik keroncong bukan musik Indonesia karena ia memiliki unsur-unsur musikal internasional, bayangkan bagaimana dangdut yang sepenuhnya hasil campur baur musik dari berbagai penjuru dunia ini masuk perbincangan? Didirikan di atas musik Melayu, dikembangkan oleh para komponis awal yang berlatar belakang keturunan Arab dan Asia Selatan, kemudian dirombak oleh seorang Sunda yang besar di Jakarta dan sangat dipengaruhi musik rock Barat, dan didengarkan di nyaris sepanjang garis pantai Indonesia, bagaimana kita mengidentifikasi musik dangdut dalam ”kebudayaan nasional”, misalnya?

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore