
ILUSTRASI
”Apa pun yang terjadi, saya tidak akan mati. Jika saya mangkir, kalian harus memaksa. Jika saya lari, tarik saya kembali. Jika saya ketakutan, tertawalah. Jika saya cemas, yakinkan saya, itu cuma ilusi manja. Yang sedang menggerogoti saya adalah takut akan ketakutan, dan cemas terhadap kecemasan. Bagaimana?”
DUA perempuan lain di hadapan Martha terdiam. Rencana pendakian yang ditawarkannya indah bukan kepalang. Namun, pengakuannya dijawab dengan bungkam.
”Liu, kota itu dihuni banyak laki-laki berambut hitam kontinental.” Martha mengembalikan semangat gadis pertama. ”Dan Ratna, saya punya waktu tiga hari penuh membantumu berpikir cara mendapatkan musisi itu.” Martha menyentuh kelemahan gadis kedua.
Ditambah dengan kebetulan dan target-target aneh yang terus diembuskan Martha, pergilah mereka ke perbukitan batu Saxon-Switzerland. Saat itu Januari, musim dingin tepat di atas kepala. Liu ingin mendaki gunung itu sebagai laku yang mengawali tahun baru kelinci. Ratna mau mendatangi gereja tak jauh darinya, di mana Bach menjadi Kantor1 untuk beberapa dekade. Ia ingin menyalakan lilin doa, kesekian ratus, untuk cinta yang satu sama. Dan Martha, ia mau menantang dirinya sendiri; tubuhnya yang selalu gemetar; otaknya yang semrawut; sementara ilusi maut terus bergelayut.
***
Tahun lalu, Martha menyelesaikan studi dan pulang ke negaranya. Liu dan Ratna masih bertahan, terus-menerus liburan, sambil sesekali mengulang kelas yang ketinggalan. Ketika Martha berkunjung, mereka mengharap berita baik dan cerita baru.
Namun, Liu masih tidak beranjak dari aplikasi kencan. Keanggotaannya premium. Ia bisa tanpa batas menggeser layar kiri dan kanan, mengejar cocok dan supercocok. Sementara Ratna, setelah menjaga keperawanan sampai umur 38 tahun, tiba-tiba luluh oleh kengawuran seorang musisi, yang tidak peduli apa pun kecuali serulingnya. Tubuhnya meliuk bersama seruling, tetapi moralnya jungkir balik mencari penyelamatan.
Martha sendiri melewati ritus hidup seperti berkendara di jalan tol; mulus dan cepat. Karier, rumah tangga, cinta tersembunyinya. Namun, seperti halnya jalan tol, ongkosnya juga besar. Masalah yang lewat cepat menyisakan debu. Dunianya kelabu. Harapan yang besar jadi batu di punggungnya. Gambar masa depan seperti gunung di kampungnya; berliku, kasar, menyesatkan.
***
Mereka membayar tiket kereta api murah, di mana semua orang mendapat nomor kursi, hanya untuk duduk di nomor yang lain. Martha dan Ratna duduk bersebelahan, sementara Liu di belakang mereka. Ia membuka gawainya, masuk ke kelas online. Sambil tiduran, sesekali ia menyahut genau2 dan richtig3.
”Udaranya pengap.” Martha mulai gelisah. Ratna membuka jendela untuknya.
”Terima kasih. Kamu tahu, udara dingin memberi sensasi segar. Dan kesegaran memberi kesan saya bisa bernapas, dan bisa bernapas tandanya saya tidak cemas. Ini otak saya saja, atau faktanya begitu?” lanjutnya bertanya Ratna yang ia tahu, mengikuti semua video tentang kesehatan dan penyakit di YouTube.
”Bisa dua-duanya. Cemas membuatmu sesak napas, dan sesak napas juga membuatmu cemas. Seperti tanpa henti.”
”Bagaimana pekerjaanmu?” Ratna beralih ke obrolan lain, berharap temannya keluar dari putaran cemas.
”Saya akan menjawabnya dengan gambaran kuliah saya di tahun kedua, ketika mempelajari teori interpelasi dari Althusser. Saya ingat profesor saya memberi contoh dengan formula hadis nabi, hei orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu, bla bla bla. ”Hei orang-orang yang beriman” adalah panggilan yang menentukan. Jika kamu menyahut, ”diwajibkan atas kamu”. Begitulah aku yang telah menjawab panggilan. Di Indonesia, anak-anak memanggilku ibu guru, kolega menyebutku doktor dan bahkan profesor, dan saudara-saudara dengan kacau memanggil rektor. Aku pikir panggilan itu membuatku senang. Nyatanya, kian hari, badanku kian gemetar, tidak terkendali. Ruang kerjaku menyempit. Badanku berkeringat dingin setiap bertemu guru yang kukagumi. Matahari yang kusukai, menakutkanku, merenggut kekuatanku pelan-pelan. Aku pikir aku panik, takut, tapi kenapa, terhadap apa. Aku tidak tahu ujung pangkalnya. Aku merasa hari-hari ngawur dan sombongku hilang. Terenggut!” Martha mengucapkan kata terakhir seperti Ratna mengucapkannya ketika diperawani oleh musisi seruling itu.

Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
Selain Tangkap Bupati Tulungagung, KPK Amankan Sekda hingga Kadis PUPR
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Profil Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, Kader Partai Gerindra yang Terjaring OTT KPK
Muncul Dua Nama Terduga Pelaku Penipuan Rekrutmen ASN Pemkab Gresik, Satu Pegawai Aktif
KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo
Sederet 15 Kuliner Steak di Surabaya Paling Enak dengan Saus Lezat yang Wajib Dicoba Pecinta Daging
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Kuliner di Surabaya: 17 Rekomendasi Bakso Terbaik dengan Rasa Autentik
Resmi! 8 Bintang Absen di Laga Persija Jakarta vs Persebaya Surabaya, GBK Bergemuruh Sambut Jakmania dan Bonek
