
COVER BUKU
Di luar kekurangan soal penyusunan, penyajian data, fakta, dan cerita dalam narasi yang artistik membuat buku ini memiliki ”daya mistis” yang mampu memikat pembaca dari segala usia.
DI depan rumah, saya tercenung. Kampung-kampung kami kini hilang. Tak ada catatan yang tersisa. Di antara puing-puing rumah, saya mencari foto keluarga dan gambar-gambar yang merekam masa kecil. Tak ada yang bisa ditemukan dari usaha sepanjang petang itu … Bau laut ini tercium sampai ke bekas permukiman warga kota yang porak-poranda itu. Pahit. Saya mendadak kehilangan ruang. Dan juga sejarah.” (hal 4-5)
Kutipan di atas adalah bagian terakhir artikel pertama dari dua puluh sembilan artikel yang tersaji dalam buku Sejarah Mati di Kampung Kami karya Nezar Patria, seorang aktivis, jurnalis, dan juga penyintas peristiwa penculikan 1998. Dalam artikel ini, Nezar mencoba memberikan gambaran nyata tentang keperihan para korban bencana gempa tsunami yang menghantam Aceh 19 tahun silam.
Dengan penuh penghayatan –dalam artikelnya yang bertajuk ”Sepotong Jalan Bertabur Azab”– Nezar juga menyajikan narasi yang bukan saja memilukan, tapi mengerikan tentang bagaimana bencana itu menelan sejarah. ”Di Ujong Meuloh, yang turut terseret arus adalah sejarah, dan bahkan jejaknya … misalnya di Lamno dan juga Lambeusoi, terkenal banyak warga Aceh keturunan Portugis … keturunan mereka gampang dikenali. Umumnya berambut pirang dengan bola mata biru … dia dan rekannya sudah menyisir sampai ke Lamno, mencari kalau saja masih ada nona bermata biru yang selamat. Tapi tak seorang pun warga berdarah Portugis itu ditemukan … mereka sudah punah di kawasan itu ….” (hal 8-9)
Sebagai orang yang melihat langsung puing-puing itu dua hari setelah air surut, saya tentu tidak kesulitan menangkap pesan kesedihan dan kengerian yang digambarkan Nezar dalam buku ini. Membaca tulisan Nezar, kenangan-kenangan itu kembali mengambang dan mengapung dalam ingatan saya.
Di bagian lain, sisi kewartawanan seorang Nezar kembali menyeruak ketika dia menceritakan kisah pembebasan Ferry Santoro, juru kamera RCTI yang disandera GAM pada Juni 2003 di Bukit Peudawa, Aceh Timur. ”Tersaruk-saruk saya mengikuti gerak kaki gerilyawan itu. Lampu senter hanya boleh menyala sekilas. Menengok ke belakang, saya melihat bayang-bayang moncong senapan mereka seperti lembing yang diacungkan.” (hal 43-44)
Dalam kondisi menegangkan seperti itu, Nezar masih bisa merekam setiap detail kejadian dengan sangat cermat. Dia menggunakan seluruh indranya untuk menangkap setiap rentetan peristiwa dan fakta secara jernih dan lalu menuliskannya dengan narasi yang sublim sehingga pembaca seolah hadir dan merasakan sendiri kejadian di sana.
Hampir semua tulisannya menggunakan teknik jurnalisme naratif dengan pendekatan sastra atau lebih tepatnya jurnalisme sastrawi. Genre ini diperkenalkan kali pertama oleh Tom Wolfe, seorang wartawan dan novelis ternama yang lahir di Virginia. Jurnalisme sastrawi bukan saja membuat berita memiliki daya pikat, tapi lebih dari itu, memberi kesan mendalam bagi para pembaca.
Dengan gaya penulisan demikian, Nezar bukan saja merekam kejadian-kejadian yang dialami dan ditemuinya di Aceh –tanah kelahirannya– tapi dia nyaris mencatat semua peristiwa penting yang terjadi di republik ini, pra dan pascareformasi, di mana dia sendiri bukan saja bertindak sebagai pencatat, tapi juga pelaku sejarah itu sendiri.
Hal ini tergambar ketika dia mengisahkan peristiwa penculikan yang dialaminya pada 1998. ”…saat itu mungkin matahari sudah terbenam. Saya diam … kerongkongan saya tercekat. Ajal terasa begitu dekat. Tak seorang keluarga pun tahu bahwa hidup saya berakhir di sini. Saya pasrah. Saya berdoa agar jalan kematian ini tidak begitu menyakitkan ….” (hal 191-192)
Dalam buku ini, Nezar mencoba mengumpulkan puing-puing sejarah yang pernah dialaminya sendiri sehingga dapatlah buku ini disebut sebagai petite histoire yang tentunya tidak bisa lepas dari narasi sejarah besar yang pernah terjadi di Indonesia dua dekade terakhir. Sebagai karya antologi (berisi 29 esai), buku ini bisa dibaca secara acak sehingga bisa menghindarkan pembaca dari kejenuhan.
Saya nyaris gagal menemukan kekurangan buku ini kecuali pada pola penyusunan yang terlihat tidak sistematis. Harusnya tiga topik besar dalam buku ini; Aceh, jurnalisme, dan demokrasi; bisa diklasifikasikan dalam bab-bab tersendiri sehingga tampak lebih estetis.
Namun, di luar kekurangan tersebut, penyajian data, fakta, dan cerita dalam narasi yang artistik membuat buku ini memiliki ”daya mistis” yang mampu memikat pembaca dari segala usia. Meskipun disajikan dalam bentuk jurnalisme sastrawi, kredibilitas dan akurasi konten dalam buku ini tetap terjaga karena penulisnya selalu mengedepankan etika jurnalistik dalam setiap tulisan. (*)
---
---

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
