Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Juni 2023, 15.14 WIB

Namamu Rahwana

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Nama adalah doa, namun kau dikutuk ibumu lewat namamu. Setidaknya itu menurutmu. Rahwana, satu kata mewakili segala bentuk keburukan di atas dunia. Aku bahkan nyaris tertawa saat mendengar namamu untuk kali pertama. Mengapa harus Rahwana?

MENGAPA bukan nama lain saja, Arjuna misalnya jauh lebih baik meski aku tak benar-benar menyukai sosok itu.

Tapi mungkin memang nasibmu, kau memiliki seorang ibu nyentrik seperti itu. Saat melihatmu dalam buaian ibumu, kuingat umurmu baru 7 hari kala itu, aku sudah menduga bahwa kehidupanmu kelak tak mudah lantaran menyandang nama seperti itu. Laksmi, ibumu itu memang keras kepala, sudah kuminta ia mengganti namamu sebelum mendaftarkan data dirimu ke dukcapil, sebelum akta kelahiranmu dibikin, tapi orang keras kepala itu enggan mendengarku dan jadilah kau memiliki nama Rahwana secara legal dan menggelikan.

”Seharusnya kauganti nama anakmu itu. Jangan Rahwana, nama itu tak cocok untuk manusia!” aku memandang wajahmu, saat itu kau lelap dalam pangkuan ibumu.

”Memangnya kenapa kalau kunamakan dia Rahwana? Nama itu bagus.” Ibumu memang keras kepala.

”Itu nama raja jahat, kau tak tahu cerita Ramayana?”

”Tahu. Siapa yang tak tahu tentang epos itu?”

”Lantas mengapa kau menamakan anakmu Rahwana? Ah, mengapa tidak Rama atau setidaknya Laksmana?”

Ibumu hanya menggelengkan kepala, tangan kanannya sibuk mengusap rambutmu. Dia tak segera menjawab pertanyaanku, malahan kemudian sibuk termangu-mangu. Aku tak bisa mengubah kemauannya dalam memberi nama untukmu. Baginya Rahwana tetaplah bagus. Aku mengajukan lagi nama untukmu, kusebut Wibisana namun lagi-lagi baginya itu kurang menarik.

”Anakku harus memiliki nama yang berbeda dari orang-orang kebanyakan. Bayangkan saja, di Indonesia ini berapa juta orang yang menyandang nama Rama, Laksmana, juga Wibisana. Ketiga nama itu biasa saja, tapi cobalah kaucari berapa jumlah orang dengan nama Rahwana. Masih jarang, sangat jarang, bahkan mungkin tak ada. Sekarang aku memiliki anak lelaki dan dia jadi satu-satunya yang menyandang nama Rahwana.”

Aku tak mengerti mengapa ibumu begitu menggandrungi nama Rahwana. Sejak kecil dulu aku telah dijejali dengan segala macam dongeng dan epos. Salah satu epos itu Ramayana. Sejak dulu hingga kini, tokoh Rama tentu saja menjadi idola. Rama, tokoh protagonis dengan watak luhur budi, tampan, serta keturunan suci. Kisah cinta Rama dengan Sita selalu menjadi primadona. Kecantikan Sita nan memesona menambah kembang cerita epos itu jauh lebih menarik.

Meski sudah kuingatkan menyoal cerita Ramayana, ibumu masih bersikeras memberikan nama itu untukmu. Aku bukan seorang ahli nujum, namun sudah kuketahui bahwa kelak kau akan selalu direpotkan lantaran namamu, dan tebakanku tak meleset. Nasibmu tak sebagus dongeng pengantar tidur. Sungguh semua orang yang mengenalmu pasti akan bertanya, namamu itu benar doa berisi harapan atau sekadar kutukan berisi rutukan.

***

Kau terlahir saat negeri ini sedang dilanda susah. Sehari sebelum kelahiranmu, sebuah mal besar di ibu kota dibakar massa. Kautahu berapa nyawa melayang karenanya? Wah, banyak sekali sampai aku lupa. Sesaat sebelum kau lahir, kami semua dibuat kalang kabut. Mobil-mobil pengangkut sembako macet di mana-mana, jalanan tak terkendali, mobilisasi tersendat bahkan kemudian mati suri. Nyaris saja kami mengalami langka pangan, namun untungnya waktu itu tak berlarut-larut. Tapi ada kisah menyeramkan, ibumu dan aku memiliki kawan baik bernama Aling. Rumah kami satu kompleks, kautahu apa yang terjadi dengan rumah Aling. Rumah itu nyaris terbakar karena dua buah bom molotov meledak menghancurkan kaca depan rumah Aling. Aku mengetahui semua itu dari ibumu, lewat sambungan telepon suaranya sedikit bergetar, tampak betul dia ketakutan. Tak kusangka seorang nyentrik seperti ibumu bisa ketakutan seperti itu.

Kau belum terlahir saat kekalutan itu terjadi. Ontran-ontran pecah di mana-mana, berita di radio dan televisi seolah tak pernah berhenti. Ibumu tak berani ke mana-mana saat itu, bahkan dia tak kuasa melihat rumah Aling. Akulah yang pergi ke kompleks sebelah, rumah Aling kelihatan payah. Tapi Aling sudah perlahan bangkit, bekas pecahan kaca sudah dibersihkan meninggalkan lubang menganga di jendela. Kusampaikan kabar baik Aling kepada ibumu, saat itu dia sudah terengah-engah duduk di sofa, katanya bayi di dalam perutnya akan merangsek keluar. Kau lahir malam sesudahnya. Bayi laki-laki montok, berwajah bulat, dengan kulit seterang ibumu. Kau tak mirip ibumu, melainkan mirip seorang penerbang muda yang gugur lantaran pesawat capung tunggangannya menukik dan menghantam parit beberapa bulan sebelumnya. Itu bapakmu tentu saja, bukan tetangga.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore