Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Februari 2017 | 15.38 WIB

Suara NU Sangat Besar di DKI, Yakin Ahok-Djarot Bisa Lolos?

Basuki Tjahaja Purnama saat menemui warga DKI di Rumah Lembang beberapa waktu lalu. - Image

Basuki Tjahaja Purnama saat menemui warga DKI di Rumah Lembang beberapa waktu lalu.


JawaPos.com - Hubungan tim cagub DKI nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan warga Nahdlatul Ulama (NU) kian panas. Bahkan, masalah tersebut melebar. Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum terima pemimpinnya disebut tidak netral pada Pilgub DKI 2017. Terlebih, Ahok ternyata mengaku hanya bicara berdasar sebuah berita di media online.



MUI akhirnya akan selalu bersikap tegas. Bahkan, majelis itu menantang kubu Ahok untuk membuka bukti percakapan Kiai Ma'ruf dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 



Apalagi, dalam sidang, pengacara Ahok mengaku memiliki bukti lengkap. "Kalau benar memiliki bukti, ya disampaikan. Tampilkan dong transkripnya,'' ujar Komisi Hukum MUI Ikhsan Abdullah dalam diskusi bertajuk Ngeri-Ngeri Sadap di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu malam (4/2).



Dia menilai pengadilan tidak bersikap baik. Seharusnya, pengadilan tidak membiarkan Kiai Ma'ruf dicecar. Pengadilan, lanjut Ikhsan, juga harus mendesak kubu Ahok untuk menunjukkan bukti-bukti yang dimaksud. 



Soal kegaduhan karena sikap Ahok, dia menyatakan bahwa Kiai Ma'ruf sudah sabar dan memaafkan. Itu bukti bahwa Kiai Ma'ruf masih menjadi panutan. Meski begitu, hubungan Ahok dengan NU tampak sudah sangat sulit dibenahi. Warga NU marah. Mereka juga diperintahkan para pemimpinnya untuk tidak memilih Ahok.



"Ini harus diperhatikan. Jangan sampai, isu di berbagai media mainstream membuat lengah," jelas Ketua Barisan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Girsang kemarin. 



Dia menambahkan, kelengahan publik sangat mungkin dimanfaatkan pihak-pihak dengan kepentingan tertentu untuk menabrak aturan. Pilgub DKI 2017 sejak awal memang menyedot perhatian. "Isu bakal adanya pemilih susupan itu sudah lama. Timbul tenggelam. Tidak pernah benar-benar hilang,'' katanya.



Betapa tidak, hingga saat ini, ternyata masih ada masalah dalam pendataan pemilih. Masih banyak warga yang dinyatakan tak masuk daftar pemilih tetap (DPT). Jadi, dimunculkan opsi memilih menggunakan surat keterangan (suket). 



Selain itu, prediksi angka pemilih yang tak datang ke TPS masih tinggi. "Jangan sampai kondisi itu disalahgunakan dengan memanfaatkan isu-isu yang mencuat saat ini,'' ucap Edysa. 



Secara sederhana, konflik Ahok-NU sudah menggambarkan kerugian besar bagi Ahok. Namun, hal tersebut dibantah serta tidak menyurutkan mental kubu Ahok dalam berjuang meraih kemenangan. "Publik berpikir sederhana. Suara NU besar sekali di DKI. Sebenarnya, sudah sangat berat bagi Ahok untuk lolos ke putaran dua sekalipun,'' tambahnya. 



Bestari Barus, juru bicara tim kampanye pasangan Ahok-Djarot, menyatakan, perjuangan terus berjalan. Dia tidak terlalu peduli terhadap anggapan bahwa jagoannya sudah kehilangan banyak suara. "Yang penting bagaimana di TPS (tempat pemungutan suara, Red) nanti,'' ucapnya. 



Dia sangat menghormati sikap segenap warga NU. Bagi dia, Ahok sudah melakukan yang terbaik. "Contohnya, meminta maaf," ungkapnya. (ydh/co3/ind/c24/diq) 


Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore