Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Februari 2018 | 06.20 WIB

Sindir Ahok, Presidium Alumni 212 Setuju Jakarta Bersyariah

Para narasumber dalam diskusi yang digelar Forum Nasional Jurnalis Indonesia (FNJI) di Jakarta, Rabu (7/2) - Image

Para narasumber dalam diskusi yang digelar Forum Nasional Jurnalis Indonesia (FNJI) di Jakarta, Rabu (7/2)

JawaPos.com - Kemenangan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di Pilgub DKI Jakarta, berkat dukungan merupakan aspirasi masyarakat Ibukota. Bukan lantaran persoalan SARA yang selama ini menjadi bola liar.


Pernyataan tersebut dilontarkan Aktivis dan Budayawan Jakarta, Geisz Khalifah dalamdiskusi yang digelar Forum Nasional Jurnalis Indonesia (FNJI).


Geisz tak setuju jika kemenangan Anies-Sandi dikatakan karena isu SARA. Hal itu menurutnya adalah sebuah aksi reaksi saja ketika relawan Teman Ahok berkampanye.


"'Lebih baik kafir tapi tidak korupsi dari pada muslim tapi korupsi'. Inikan seolah menuduh semua pemimpin dari orang muslim itu korupsi," ujar dia dalam diskusi bertema 100 Hari Anies-Sandi, 'Benarkah Ada Jakarta Bersyariah, Bagaimana Realisasinya? di kawasanMenteng Jakarta Pusat, Rabu (7/3).


Menurut Geisz, jangan juga isu syariah ini digeneralisir menjadi anti NKRI, intoleran dan dilawan dengan isu 'Saya Indonesia Saya Pancasila', "Rasanya tidak sehat kita ini bernegara. Tapi apapun itu kita harus mengucapkan terima kasih sama Ahok, karena tanpaAhok maka tak akan mungkin muncul sosok pemimpin seperti Anies," jelas dia.


Dijelaskan Geisz, justru kekalahan Ahok bukan karena isu SARA, melainkan lebih kepada sosok personal eks Bupati Belitung Timur itu.


"Ahok sendiri yang membuat ummat muslim moderat, ummat yang ditengah sekalipun marahdengan ucapannya soal Al-Maidah 51. Wong yang ikut aksi 212 itu temen-temen saya banyak kok yang sekuler, tukang mabok juga tapi merasa terganggu dengan ucapan Ahok itu", tegas Geisz yang mengaku sahabat Anies ini.


Sebelumnya di kesempatan yang sama, KH. Taufiq Damas, Wakil Khatib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Isu SARA hanya dijadikan sebagai alat kampanye, contoh kasus di Jakarta.


Menurutnya, isu SARA merupakan alat mobilisasi politik paling efektif, masjid dan musola di Jakarta digunakan sebagai mimbar politik untuk menyebarkannya.


"Ini tak boleh dibiarkan terus menerus terjadi dalam sebuah momen domokrasi seperti Pilkada. Agama dijadikan alat politik untuk mendelegitimasi lawan, ini berbahaya bagi kehidupan berbangsa kita," tegas dia.


Sementara itu, Ustad Aminuddin Presidum Alumni 212 mengatakan, sebenarnya secara kinerja umat Islam tak ada masalah dengan Ahok.


Mereka hanya mempersoalkan sebenarnya lebih pada etika kepemimpinan Ahok yang suka memgumbar kemarahan pada rakyat kecil di depan publik.


Selain itu kata Ustad Amin, dakwah yang paling efektif adalah lewat kekuasaan.


"Coba anda lihat ketika berkuasa, hanya dengan satu tanda tangan Alexis langsung di tutup," tegas dia.


Soal Jakarta bersyariah, NKRI bersyariah tegas Amin, dirinya setuju.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore