Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 September 2017 | 06.22 WIB

Suster Roma Kunjungi Makam Peneleh, It's Beautiful, but So Sad

KENANG: Ann Marie Gardiner Osu (dua kanan) dan Moekti Gondosasmito Osu (kanan) dari pusat ursulin Roma bersama suster dari Biara Santa Maria berziarah ke makam suster ursulin pertama Surabaya Moeder Louise Kamis (7/9) di pemakaman kuno Peneleh. - Image

KENANG: Ann Marie Gardiner Osu (dua kanan) dan Moekti Gondosasmito Osu (kanan) dari pusat ursulin Roma bersama suster dari Biara Santa Maria berziarah ke makam suster ursulin pertama Surabaya Moeder Louise Kamis (7/9) di pemakaman kuno Peneleh.

JawaPos.com – ’’Jesus, remember me when you come into your kingdom. Jesus, remember me when you come into your kingdom.” Lagu pujian itu dilantunkan 15 biarawati yang mengelilingi makam para Suster Ursulin di Makam Peneleh Kamis (7/9). Suara mereka terdengar harmoni, memecah keheningan di kompleks makam seluas 4,5 hektare tersebut.


Bunga-bunga ditaburkan di makam yang diisi lebih dari 40 suster dari ordo Santa Ursula. Banyak Suster Ursulin (sebutan mereka) yang berkarya di bidang pendidikan. Sekolah yang dikelola ordo itu masih berdiri hingga kini. Salah satunya, Sekolah Santa Maria di Surabaya.


Cecile Marijanti, salah seorang suster asal Santa Maria Surabaya, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut dilakukan secara rutin setahun tiga kali. Yakni, pada Tahun Baru 1 Januari, Natal 25 Desember, dan 2 November. ”Yang 2 November itu untuk peringatan arwah orang beriman,” kata perempuan yang memimpin rombongan tersebut.


Kunjungan kali ini dihadiri oleh dua dewan penasihat umum ursulin dari Roma, Italia. Yakni, Sr Ann Marie Gardiner Osu dan Sr Moekti Gondosasmito Osu. Marie berasal dari Skotlandia, sedangkan Moekti asli Semarang. Moekti sudah empat tahun bertugas di Roma.


Marie baru kali pertama datang ke Peneleh. Dia menilai makam yang dibangun pada 1814 tersebut sangat kuno dan cantik. ”It is beautiful, but so sad to see (makam ini indah, tapi sangat menyedihkan untuk dilihat, Red),” jelasnya.


Sudah banyak bagian makam yang hilang. Banyak nisan makam yang dicuri. Bahkan, sejumlah ornamen makam para Suster Ursulin ikut hilang. Rantai yang mengelilingi makam juga raib. Yang tersisa hanya makam dari batu dengan hiasan salib.


Tetapi, dari makam-makam lainnya di Peneleh, makam para Suster Ursulin terlihat paling terawat. Jelas, makam tersebut paling sering dikunjungi. Sebagian besar ahli waris makam Peneleh sudah kembali ke Eropa. Hanya segelintir keluarga yang datang ke Surabaya untuk berziarah.


Moekti menuturkan, secara pribadi, dirinya berharap pemerintah melestarikan Makam Peneleh. Menurut dia, bagaimanapun juga, Makam Peneleh adalah bagian dari sejarah Indonesia.


Rombongan juga berziarah ke makam Romo Martinus Van Den Elzen. Makamnya berjarak sekitar 50 meter dari makam para Suster Ursulin. Setelah memanjatkan doa, mereka bergegas kembali. Perjalanan bakal dilanjutkan ke sejumlah kota. Antara lain, Madiun, Malang, Pacet, dan Papua.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore