Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Mei 2017 | 02.55 WIB

Bentuk Paguyuban Masyarakat Cinta Tanah Leluhur

FAMILIER: Suasana sahur bersama keluarga Huda. - Image

FAMILIER: Suasana sahur bersama keluarga Huda.


JawaPos.com – Awalnya hanya Huda yang menolak menjual rumah dan tanahnya kepada PT Lapindo Brantas. Tetapi ternyata, banyak warga yang mengikuti jejaknya. Akhirnya, terbentuklah Paguyuban Masyarakat Cinta Tanah Leluhur Desa Ketapang pada 2013.



Anggota yang tercatat mencapai sekitar 60 KK di Dusun Ketapang. Huda menjadi ketua paguyuban tersebut. ’’Saya juga tidak menyangka, banyak warga yang ikut mempertahankan tanah leluhur. Paguyuban kami ini juga diresmikan di notaris,’’ ujarnya.



Huda mengaku, rumahnya pernah ditawar oleh BPLS dengan nilai yang tinggi. Namun, dia menolaknya. Sebab, jika dia mau menerima tawaran menjual tanah dan rumahnya, sangat dimungkinkan warga yang selama ini bertahan juga mengikuti jejaknya. ’’Selama ini, kami tinggal dengan damai. Alhamdulillah, sisa warga yang masih tertinggal sangat rukun meskipun beda RT dan RW,” tuturnya.



Lantaran jarak rumah yang masih bertahan di Dusun Ketapang sangat jauh, Huda pun akhirnya menjadikannya dua RT. Yakni, RT timur dan barat sungai. Hal itu memudahkan warga ketika harus melakukan rapat koordinasi untuk kebaikan desa. ’’Saya usulkan dibagi dua saja. Lha, RT saya saja hanya ada segelintir rumah,’’ ungkapnya.



Untungnya, selama bencana lumpur terjadi pada 2006, rumahnya tidak bermasalah dengan air bersih. Air sumurnya pun mengalir jernih. Meski begitu, dia tetap harus menyuplai air bersih untuk konsumsi makan dan minum sehari-hari. ’’Kalau air, rumah kami tidak masalah. Hanya di RT 6 yang airnya keruh, kuning, berminyak, dan asin,’’ katanya.



Kini Huda bersama keluarganya sudah sangat nyaman tinggal di rumahnya di Ketapang. Huda tidak berpikir bakal menjual rumahnya atau hengkang dari desanya. Bahkan, pria 48 tahun itu ingin mengembangkan desanya yang kini hanya tersisa puluhan rumah. Mulai memperbaiki tanah makam hingga meramaikan masjid. ’’Kadang juga dicemooh orang-orang, kenapa buang-buang uang untuk membuat pagar tanah makam warga, toh nanti juga diratakan,’’ ungkapnya.



Mendengar hal tersebut, pihaknya pun siap bertaruh nyawa jika itu terjadi. ’’Bukan masalah biaya untuk membuat pagar yang menghabiskan sekitar Rp 60 juta, tetapi makam tersebut adalah salah satu tanah penting bagi warga. Tempat warga dan para leluhur dimakamkan,” ucapnya.



Kini, dengan adanya Paguyuban Masyarakat Cinta Tanah Leluhur, warga telah berkomitmen. Meski ke depan desa yang dicintainya akan semakin sepi, hidup adalah pilihan. ’’Walaupun banyak warga yang pindah keluar dari Desa Ketapang, banyak di antara mereka yang rindu kembali pulang,” ujarnya. (ayu/c20/hud)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore