Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 April 2017 | 02.45 WIB

Johanes Aprilius Falerio Semula Menyangka Mengidap Kawasaki

TETAP BERPRESTASI: Johanes Aprilius Falerio, penyandang autoimun, memegang robot kebanggaannya. - Image

TETAP BERPRESTASI: Johanes Aprilius Falerio, penyandang autoimun, memegang robot kebanggaannya.


Orang-orang ini memang tak tampak sedang sakit. Saat si penyakit sedang tidur, mereka seperti orang sehat. Sayang sekali, sang penyakit tak bisa diprediksi. Kapan bangun, kapan tidur. Mereka pun harus ’’berteman’’ dengan autoimun tersebut. Tapi, orang-orang ini tidak lemah… (*)



LELAKI 13 tahun ini sangat gemar membuat robot. Beberapa perlombaan dia ikuti. Bahkan, hingga melanglang buana ke negeri seberang. Tapi, seumur hidupnya memang penuh perjuangan. Termasuk melawan autoimun yang kini belum jelas jenisnya.


Kekuatan Rio, sapaan Johanes Aprilius Falerio, terlihat saat dia menunjukkan tiga robot andalannya. Sekilas, bentuknya mirip mainan Tamiya, mobil mini-4WD, yang tidak ada bodinya. Kebanggaannya muncul karena tiga robot itu merupakan buatannya sendiri.


Siswa SMPN 1 Surabaya itu memang hobi membuat robot saat baru menapaki bangku SMP. Tapi, dia begitu serius di bidang tersebut. Dan itu membawa hasil. Beberapa perlombaan berakhir sukses. Rio menggondol piala. Termasuk saat mengikuti sejumlah turnamen di luar negeri. Di Singapura, misalnya.


Beberapa pialanya dipajang di ruang tamu. Sisanya berada di dalam kamar. Piala itu tidak hanya berasal dari lomba robot. Ada juga yang berasal dari lomba piano.


Seperti remaja pada umumnya, Rio senang menjajaki dunia baru. Dia suka mengikuti banyak kegiatan. Sayangnya, kegiatan-kegiatan tersebut tidak bisa dia ikuti dengan maksimal. Rio harus menjaga badan agar sakitnya tidak kambuh.


Dia pernah beberapa kali membuat orang-orang di sekitarnya panik. Misalnya, pada perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) yang diikutinya beberapa bulan lalu. Di situ, Rio kambuh. Ketika itu, dia sedang istirahat dan ingin mengambil minum di lantai 2.


”Selesai minum, langsung pingsan,” ceritanya. Salah seorang teman yang diajaknya minum panik saat melihat Rio tidak sadar. Guru pun dipanggil.


Awalnya, Rio hanya dirawat di sekolah dengan harapan lekas sadar. Tapi, Rio semakin parah. Napasnya sesak. Padahal, tabung oksigen di sekolah habis. Sebab, banyak murid yang sakit asma dan sedang kambuh.


Menurut cerita teman dan gurunya, nadi Rio sempat sulit teraba. Terkadang tak ada, terkadang terasa. Apalagi Rio pingsan cukup lama. Akhirnya, dia dibawa ke RS Katolik Vincentius a Paulo (RKZ).


Tidak terhitung pengalaman menegangkan yang dialami Rio dan keluarganya. Pada Februari 2016, Rio harus ke meja operasi karena terdiagnosis usus buntu. Untuk penegakan diagnosis itu, USG tak cukup. Rio juga harus menjalani CT-scan.


Setelah diagnosis pasti, Rio dioperasi. Begitu dibedah, seluruh organ pencernaan Rio bengkak. Dokter di kamar operasi harus memanggil Farida Anggraini, ibu Rio. Farida yang merupakan dokter spesialis paru diperbolehkan masuk ruang operasi. Dia ditunjukkan bagaimana pembengkakan di usus anaknya. ”Dokter bedah sampai heran,” ucap Farida.


Usus buntu memang sempat diambil. Namun, dokter berpesan, jika ada masih ada mual selama seminggu, Rio harus kontrol dengan dokter penyakit dalam yang ahli soal perut. Benar saja, selama seminggu Rio masih mual yang mengakibatkan nafsu makannya turun. Keluarganya pun telah membuat janji dengan dokter.


Paginya, sebelum sempat konsultasi dengan dokter yang ahli di bidang pencernaan, Rio kejang. Dia pingsan dan seluruh badannya bergerak tanpa kontrol. Dia pun dilarikan ke RS Adi Husada. ”Dokter sarafnya minta untuk pemeriksaan EEG (elektroensefalografi, alat untuk merekam aktivitas elektrik di sepanjang kulit kepala, Red). Untuk itu, saya dipindah ke RS Mitra Keluarga Satelit,” ungkap Rio.


Pada pemeriksaan EEG, ternyata tidak ditemukan adanya gelombang kejang. Dokter spesialis saraf anak tentu heran. Dia menuturkan bahwa gerakan tersebut bukan kejang, melainkan gerakan yang tidak bisa dikontrol oleh tubuh Rio. Keluarga dan dokter sempat bingung karena hal tersebut.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore