
AHLAN WA SAHLAN: Gerbang memasuki Kawasan Wisata Religi Ampel, di kawasan sekitar Makam Sunan Ampel itulah warga keturunan Arab banyak berdomisili.
Menengok sisi utara Surabaya, ada secuil Arab yang juga memperkaya kota ini. Sebagian besar masyarakatnya adalah keturunan Arab-Yaman. Bahkan, kulinernya khas.
SIBUK benar Mohamad Hadi siang itu (11/4). Pria 52 tahun tersebut sedang mempersiapkan barang dagangannya. Yakni, kitab suci Alquran dan buku-buku hadis. Dia menata dengan rapi dalam rak kayu setinggi 4 meter. Sebagian di antaranya berada di meja kayu yang terletak di bagian depan toko. Kalau ada pembeli, dia lebih mudah mengambil barang dagangannya.
”Buka tiap hari. Ramainya kalau menjelang perayaan hari besar. Dekat bulan Ramadan misalnya,” kata Hadi. Kesibukan juga dialami warga yang berjualan di sepanjang Jalan Sasak. Lagu-lagu berbahasa Arab yang bersahutan turut meramaikan.
Kawasan itu menjadi pusat ekonomi di Kampung Arab, begitu sebutan wilayah tersebut. Anda dapat mudah menjumpai barang-barang khas Arab. Selain buku-buku agama Islam dan Alquran, ada yang menjajakan pakaian muslim, parfum isi ulang, dan perlengkapan beribadah (sajadah, mukena, sarung, tasbih, kopiah, dan lainnya).
Tidak sulit juga mendapatkan makanan Arab di sana. Berbagai jenis kurma misalnya. Beberapa pedagang menawarkan kurma yang dijual kiloan maupun dalam wadah. Sebagian lainnya memilih berbisnis makanan Yaman. ”Kakek saya asli Yaman. Usaha ini turun-temurun,” ujar Abdullah bin Muhomad, pemilik toko Kuliner Yaman.
Aroma parfum langsung semerbak saat melintasi kawasan tersebut. Selain berasal dari toko parfum, aroma wangi itu berasal dari penduduk. Mereka suka menggunakan parfum. Tradisinya, bau harum itu merupakan bentuk menghormati tamu.
Jejeran pertokoan di Jalan Sasak memang begitu padat. Sebagian besar digunakan untuk berdagang. Kalaupun ada tempat tinggal, mereka menggunakan ruangan di lantai 2 di atas toko. Jadi, keramaian dapat dirasakan sejak pagi hingga malam. ”Nggak pernah sepi di sini,” ungkap Abdullah. Apalagi kawasan tersebut berdempetan dengan lokasi wisata religi Sunan Ampel. Bukan hanya warga Surabaya, pengunjung kawasan itu juga berasal dari luar kota dan luar negeri.
Warga Kampung Arab itu menetap di sana sejak lama. Turun-temurun hingga menjadi keluarga besar. Memang bukan masyarakat Arab asli. Ada yang kemudian menikah dengan orang Jawa. Namun, tradisinya masih terpelihara. ”Wes to, lek cul-culan ke Ampel, sak kedipmu, pasti ketemu wong Arab (Sudahlah, kalau ke (kawasan) Ampel, ke mana pun melihat, pasti ketemu orang Arab),” ucap Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ampel Surabaya Muhammad Chotib.
Dia menjelaskan, sebagian besar leluhur penduduk Kampung Arab berasal dari Yaman. Sekitar abad ke-18, orang Yaman datang ke Surabaya untuk berdagang. Sebagian mereka singgah dan beranak pinak di sana. ”Yang pria boleh menikah dengan penduduk non keturunan. Tapi, yang perempuan harus menikah dengan pria keturunan Arab juga,” jelas Chotib. Mereka yang menikah dengan non keturunan, kata Chotib, disebutnya ganda campuran. (bri/c6/jan/sep/JPG)

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
