Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Maret 2017 | 01.52 WIB

Kuliner-Kuliner Melegenda di Kota Delta, Saksi Perkembangan Pabrik Gula

LOKASI MASUK GANG: Pak Us sedang membakar sate kambing di atas arang membara. - Image

LOKASI MASUK GANG: Pak Us sedang membakar sate kambing di atas arang membara.

JawaPos.com – Kuliner enak selalu ada di dekat pabrik gula. Seperti itulah prinsip masyarakat zaman dulu. Salah satunya Pabrik Gula (PG) Kremboong. Berdiri sejak zaman kolonial Belanda tahun 1847, pabrik pengolahan tebu menjadi gula tersebut turut membentuk sebuah peradaban. Beberapa kuliner di sekitar PG Kremboong pun melegenda. Sate kambing adalah menu yang banyak diburu.


Lain daripada yang lain memang. Sate kambing di area PG Kremboong terkenal dengan dagingnya yang besar, lembut, dan tanpa bau khas kambing sedikit pun. Alhasil, banyak penggemar kuliner sate kambing yang berbondong-bondong ingin mencicipi kelezatan makanan tersebut. Salah satu warung sate kambing yang terkenal adalah Warung Sate Kambing Pak Us. Us diambil dari nama Usman, pemilik sekaligus juru masak pertama di warung itu.


Warung yang terletak di Dusun Krembung tersebut termasuk kecil dan terpencil. Untuk menemukannya, kita harus bertanya kepada warga yang tinggal di seberang PG Kremboong. Lokasinya masuk gang sempit dan melewati sungai yang cukup besar. Sebenarnya jaraknya tak jauh dari pabrik gula, tapi memang cukup menjorok. Apalagi, kondisi warung itu tak ubahnya seperti rumah. Hanya, ada jendela kayu yang dibuka lebar ke atas. Jendela yang dicat hijau tersebut disangga besi.


Spanduk bertuliskan Sate Kambing Pak Us terbentang di depannya. Namun, Usman sudah wafat. Warung yang dirintis sejak 1963 itu kini dikelola kedua anaknya. Miskah, putri sulungnya, dan adiknya Joko Supriyanto. Pada Kamis siang (23/2) Miskah tampak sibuk mengaduk bumbu sate. Sementara itu, Joko mempersiapkan arang untuk membakar sate. Keduanya langsung menyapa dengan ramah.


Sepuluh tusuk sate kambing dibakar dengan api sedang oleh Joko. Miskah menambahkan bawang merah pada bumbu agar rasanya makin mantap. ”Mau harga bumbu atau daging naik, nggak berani mengubah takaran bumbu,” ujar Miskah.


Menurut dia, resep sang ayah adalah wasiat yang tak boleh diubah-ubah. Miskah kemudian berkisah tentang warung kesayangan sang ayah. Warung itu adalah saksi perkembangan PG Kremboong. Sejak berdiri, bukan hanya buruh pabrik yang kerap makan di sana, tetapi juga para petinggi pabrik dan pegawai negeri sipil (PNS). ”Kalau buruh ya beli sepuluh buat bertiga. Kalau orang penting satu porsi sama gulai,” kata perempuan 63 tahun itu.


Harga satu porsi yang berisi 10 tusuk sate kambing mencapai Rp 65 ribu. Namun, jangan salah. Rasanya dijamin ciamik. Bumbunya benar-benar meresap dan gurih. Bumbu kacangnya melimpah dan dipenuhi irisan bawang merah untuk penyedap rasa. Bagi Miskah, sate kambing yang kini menjadi sumber penghidupannya bukan semata cara mencari nafkah. Tapi, warisan leluhur. ”Sampai nanti diturunkan ke anak cucu saya,” tuturnya. (via/c21/dio/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore