
MERANA: Para pedagang Sentra Kuliner Mangrove mengeluh karena sepi pengunjung.
Bukan hanya Sentra Ikan Bulak (SIB) yang nyaris mati. Sentra Kuliner Mangrove di Wonorejo pun mulai menampakkan gelagat sama. Jika pemkot tidak segera mengambil langkah konkret, sentra yang diresmikan pada Desember 2016 itu bisa mati.
SALMAN-OKKY PUTRI
BANGUNAN Sentra Kuliner Mangrove tergolong bagus dan rapi. Konstruksinya terbuat dari kayu, termasuk lantai. Lampion menghiasi interior bangunan.
Pemandangannya jangan ditanya. Segar. Maklum, tempat makan-makan itu dikelilingi hutan mangrove. Sayang, sentra tersebut belum bisa mencuri perhatian pengunjung.
Sepuluh stan pedagang yang menjual aneka olahan ikan tetap sepi. Rabu (11/1) kursi-kursi terlihat hanya diduduki beberapa petugas linmas yang memang bertugas menjaga kawasan tersebut.
Para pedagang di Sentra Kuliner Mangrove sebenarnya adalah mantan pedagang kaki lima (PKL). Mereka dulu berjualan di sekitar lahan parkir mangrove.
Karena terkesan liar dan berantakan, pemkot menyediakan tempat berjualan yang lebih layak. Sentra Kuliner Mangrove merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Selain menyediakan tempat berjualan bagi PKL, sentra itu menjadi pusat makanan olahan ikan. Apalagi, sentra tersebut berada dalam satu kawasan dengan wisata mangrove.
Namun, sentra itu justru dikeluhkan pedagang. Salah seorang adalah Sulis, pedagang pangsit mi ayam. Tadinya dia berjualan pangsit mi ayam biasa.
Demi menempati stan di Sentra Kuliner, dia mengubah menunya menjadi Pangsit Mi Udang Crispy. Modal yang dikeluarkannya pun bertambah.
’’Tapi, pendapatan malah menurun hampir setengahnya,” keluh Sulis. Nasib Sulis juga dialami Irhamni. Dia semula pedagang bakso daging. Namun, kini dia menjadi pedagang bakso ikan.
Meski demikian, dia mengaku sering curi-curi kesempatan dengan tetap menjual bakso daging. ’’Bakso ikan kurang peminat,” ujarnya terus terang.
Memang, Sentra Kuliner Mangrove ditujukan untuk mendukung program ’’Gemar Makan Ikan”. Namun, hal itu justru membuat pedagang kehilangan kesempatan untuk memiliki stan.
Matnasir adalah salah satunya. Dia dulu menggelar lapak di sekitar mangrove. Ketika lapaknya digusur, dia tidak bisa ikut boyongan ke Sentra Kuliner Mangrove.
Alasannya, makanan yang dia jual tidak berbahan dasar ikan. ’’Saya cuma jualan mi sama es,”ucap pria paro baya yang juga petani tersebut.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
