Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 7 Januari 2017 | 21.14 WIB

Warna-warni Kehidupan Penghuni Rusun, Setahun Tak Injak Tanah

BERSAMA AYAM: Warga Rusun Sumbo, Surabaya tinggal dalam suasana yang berdesak-desakan. - Image

BERSAMA AYAM: Warga Rusun Sumbo, Surabaya tinggal dalam suasana yang berdesak-desakan.

Hidup di rumah susun (rusun) yang penting mau berbagi. Berbagi ruang, berbagi tempat, berbagi air sumur, serta berbagi kesedihan dan kesenangan bersama. Asal tidak berbagi sikat gigi dan celana dalam. Memang, kehidupan di flat is never flat...


-----



PAGI menyambut. Warna-warna kuning tembok Rusun Sumbo, Simolawang, Simokerto, Surabaya mulai terlihat. Angin pagi membelai rambut, daster, celemek, sarung, dan kutang yang berkibar di ketinggian. Dilihat dari jauh, salah satu kompleks rusunawa tertua di Surabaya itu menyajikan pemandangan bak Kungfu Hustle, film besutan si kocak Stephen Chow pada 2012.


Manusia penghuni rusun segera sibuk naik turun. Rupanya, sedang ada hajatan pernikahan salah satu penghuni blok E. Tapi, Simpen tetap saja di lantai 3 blok I. Menguliti bawang. Simpen adalah salah seorang penghuni berusia lanjut. ’’Berapa ya umurnya? Kalau 70 tahun, lebih,’’ kata Fatimah, putri Simpen, yang menemani sang ibu di depan rumahnya.


Sudah setahun Simpen tidak pernah menyentuh tanah. Maklum, di rusun tidak ada eskalator. Semuanya tangga batu. Kaki-kaki Simpen sudah tidak mampu naik turun. ’’Lutut saya sakit kalau turun, Nak,’’ kata Simpen. Jadilah dia berdiam di lantai 3 menguliti bawang.


Itu baru Simpen, yang sehat dan masih bisa berbicara. Di seantero rusun, masih banyak orang tua yang sudah lumpuh, tak bisa melihat atau berjalan. Mereka juga diperkirakan belum bisa menyentuh tanah.


Tapi, ada pula para lansia yang masih bersemangat. Sebutlah Sunaryeh dan Muninten. Rumah Sunaryeh malahan berada di lantai 4. Rabu siang (4/1), dia tampak sendirian menaiki tangga. Pelan, satu per satu. ’’Satu, dua, entekLeambekane (Habis Nak, nafasku, Red),’’ kata perempuan berusia 62 tahun tersebut. Sementara itu, Muninten langsung ndelosor di lantai begitu mencapai lantai 4.


Rusunawa Sumbo dibangun pada 1989 dan mulai ditempati pada 1990. Tahap pertama adalah blok A dan blok E. Ada total 10 blok dengan ketua RT masing-masing. Kompleks rusunawa itu menempati area 700 meter persegi. Tiap blok dibangun setinggi empat lantai. Sombo lahir setelah rusunawa pertama Surabaya, Urip Sumoharjo. ’’Dulu daerah ini dikenal dengan nama Guminto,’’ jelas Sabullah, ketua RW.


Fasilitas umum di rusun cukup lengkap. Ada masjid pusat kegiatan warga, balai RW, kantor UPTD, sentra PKL, warung kopi, pos keamanan, dan kantor RT di masing-masing blok. Setiap lantai terdiri atas 16–17 unit rumah. Komplet dengan musala, dapur, serta kamar mandi umum. Malahan, dalam waktu dekat, diresmikan lapangan futsal dan gedung baru dua lantai. Gedung tersebut akan dimanfaatkan sebagai balai RW yang baru, sekolah PAUD, aula, serta perpustakaan.


Di rusun, semua hidup berdampingan. Tidak hanya manusia dengan manusia, tapi juga manusia dengan hewan. Penghuni tak resmi di rusunawa itu adalah kucing, burung merpati, ayam, tikus, dan itik. Saat Jawa Pos berkunjung pada Selasa (3/1), Faqih, putra ketua RW, tampak berjalan riang melintasi rusun. Seekor anak itik menguntit dengan setia di belakangnya. Keduanya berjalan-jalan di atas lantai paving rusun yang basah sehabis hujan.


Slaman, wakil ketua RT blok I, menemani Jawa Pos berkeliling. Bapak baik hati yang sudah berambut putih itu menunjukkan sudut-sudut blok tempat tinggalnya. ’’Di lantai 4 saja masih ada lansia yang tinggal,’’ katanya sambil berjalan menuju sudut lantai 4. Tak lama kemudian, prak! Seekor tikus sebesar kaki orang dewasa jatuh ke tumpukan nasi kering yang sedang dijemur.


Selepas tengah hari, hujan turun. Awalnya rintik-rintik, lalu berubah deras. Seekor ayam betina hitam tampak duduk bertengger di pagar ketinggian lantai 4 blok E. Sedari tadi si ayam diam saja, tidak bisa ke mana-mana. Ekornya menyentuh tembok belakang rumah warga. Tembok warga dan pagar rusun menempel ketat. Praktis, hanya ada segaris tipis pagar tempat kakinya berpijak. Ngantuk sedikit saja, ia akan terjun bebas dari ketinggian 11 meter.


Memang masih ada saja warga yang memelihara ayam meski di lantai 4. Eni, putri Hakim, penghuni blok E di lantai 4, dengan malu-malu mengakui bahwa keluarganya memelihara 2 ekor ayam, tapi tidak dikurung. Ditempatkan di belakang rumah saja. Apa tidak khawatir jatuh? ’’Ya kalau jatuh diambil dan digotong lagi ke atas,’’ kata Eni.


Kalau tempat nongkrong ayam cuma setipis ’’jembatan akhirat’’ begitu, pasti rawan jatuh. Kata Tohiran Alaydrus, tetangga Eni, si ayam memang sering jatuh ke bawah. ’’Kadang telek-nya, kadang sama ayam-ayamnya,’’ ujar Tohiran sambil cengar-cengir.


***

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore