Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 November 2016 | 23.29 WIB

Eksplorasi Bahasa Mandarin lewat Seni dan Budaya, Kreativitas Terasah

PROJECT BASED: Koordinator bahasa Mandarin di Nation Star Academy Sutoyo Raharto (kiri) membahas proyek dengan dua siswa SMP Nation Star Academy (NSA). - Image

PROJECT BASED: Koordinator bahasa Mandarin di Nation Star Academy Sutoyo Raharto (kiri) membahas proyek dengan dua siswa SMP Nation Star Academy (NSA).

Belajar bahasa Mandarin tidak semudah bahasa asing lain. Padahal, peran bahasa Mandarin di dunia bisnis sangatlah besar. Dibutuhkan trik khusus untuk mempelajarinya hingga mahir.





KEMAUAN dan belajar keras. Itulah modal belajar bahasa Mandarin menurut Koordinator Bahasa Mandarin di Nation Star Academy (NSA) Sutoyo Raharto. Tiga tahun lalu, saat bergabung di NSA, dia melihat bahwa siswa kurang berminat untuk belajar bahasa Mandarin.



Dia mencoba memberikan materi pelajaran bahasa Mandarin secara murni saat awal mengajar. Meski demikian, dia tidak melihat ketertarikan para murid.



Terutama ketika pembelajaran bahasa Mandarin secara konvensional seperti yang ada di Tiongkok. ”Belajar nulis dan sebagainya secara murni, tapi minat malah turun,” katanya.



Dia melakukan terobosan. Salah satunya project based. Maksudnya, siswa diajak untuk berkarya sesuai kreativitas. Misalnya melalui gambar, performance, dan desain.



Nah, dalam karya itu dimasukkan unsur pembelajaran bahasa Mandarin. ”It works,” ucapnya dengan mata berbinar. Para pelajar yang memiliki ketertarikan di bidang seni diwadahi melalui honing potential program (HPP).



Program untuk mengembangkan talenta itu hadir agar siswa mendalami potensi sesuai hobi. ”Terutama siswa yang tidak suka menghafal, tapi lebih bekerja dengan tangan,” terang pria yang biasa disapa Pak Yong itu.



Banyak ragam kreativitas yang bisa diwujudkan dalam sebuah proyek. Di antaranya, belajar tentang silsilah keluarga atau family tree. Siswa, terang dia, diajak untuk membuat pohon yang berisi nama-nama keluarga.



Termasuk nama-nama Tionghoa yang dimiliki anggota keluarga. Secara tidak langsung, imbuh dia, siswa belajar menuliskan huruf Hantze.



Bukan hanya itu, murid juga bisa mengenal Tiongkok tanpa harus didikte. Caranya, siswa berkreasi dengan membuat peta Tiongkok. Bukan sekadar peta. Peta itu didesain sedemikian rupa sesuai kreativitas mereka.



Bahkan dengan warna-warni ceria. Lalu, nama-nama wilayah dituliskan dalam peta itu. Dengan begitu, selain mengenal huruf Hantze, siswa belajar tentang wilayah Tiongkok.



”Hasilnya malah lebih bagus, sampai wilayah yang detail mereka tuliskan namanya,” katanya. Saat ujian tengah semester (UTS) atau ujian akhir semester (UAS), Pak Yong mengajak siswanya berkreasi melalui proyek.



Proyek itu menyesuaikan jenjang pendidikan. Sebab, NSA mengajarkan bahasa Mandarin sejak SD hingga SMA. Salah satu proyek itu berbasis budaya.



Misalnya, menyanyikan lagu Mandarin, berlatih wushu, ataupun menampilkan tarian Tiongkok. Hasilnya, para pelajar tersebut lebih antusias untuk belajar. Otomatis, mereka juga mencari informasi tentang budaya yang ditampilkan.



Untuk lagu, dia menyesuaikan dengan selera anak zaman sekarang. Sebab, lagu jadul bikin ngantuk. ”Cari Chinese song yang 2015–2016, jangan yang dulu-dulu,” jelasnya.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore