
PERPUSTAKAAN MINI: Dari kiri, Nindi Sania Bela, Prsitia Diana, dan Norma Tristanti, Senin (31/10) memanfaatkan Pojok Buku yang merupakan fasilitas ruang kelas, SMAN 3 Sidoarjo.
Pada 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta Pusat, pemuda Indonesia dengan lantang bersumpah menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Semangat itu harus dilanjutkan pemuda dan pelajar hingga kini. Khususnya bangga berbahasa Indonesia.
ADA banyak cara untuk melestarikan bahasa Indonesia. Selain menggunakannya dengan benar, bentuk pelestarian itu bisa melalui berkarya dan bertindak nyata agar bangsa Indonesia lebih bangga berbahasa Indonesia.
Tindakan tersebut bisa dilakukan dengan rajin membuat karya sastra. Misalnya, cerpen, puisi, dan novel. Selain itu, rajin membaca karya-karya tersebut.
Dengan begitu, alam bawah sadar terbiasa dengan penggunaan bahasa yang benar. Apalagi, bahasa Indonesia juga menjadi bahasa nasional.
Ini tentu menjadi kebanggaan karena banyak negara yang masih menggunakan bahasa dari negara lain sebagai bahasa nasional.
SMAN 3 Sidoarjo memiliki cara untuk meningkatkan gairah para siswa dalam membaca dan berkarya. Yakni, pojok buku. Pojok buku adalah tempat khusus yang memanfaatkan pojok kelas untuk tempat membaca sekaligus menyimpan buku siswa.
Di setiap kelas, tampilannya beragam sesuai kreativitas masing-masing. ”Tujuannya, anak-anak terbiasa (membaca dan berkarya). Kami membuat pojok buku di tiap kelas,” ujar guru bahasa Indonesia SMAN 3 Sidoarjo Sutrisno.
Karena itu, desain pun berbeda-beda. Ada yang penuh sentuhan alam, ada yang dibuat ramai dengan ornamen-ornamen penghias warna-warni. Juga, ada yang dikonsep go green dengan memanfaatkan bahan daur ulang.
Agar tempat seluas 3 meter itu nyaman, penghuni kelas juga meletakkan alas untuk duduk yang nyaman. Mulai karpet hingga kasur tipis yang empuk.
”Baru tahun ini ide itu diterapkan di sini,” kata pria yang tinggal di Desa Klurak, Kecamatan Candi, tersebut. Yang mendasari, lanjut Sutrisno, setiap kelas selalu mempunyai tempat kosong yang tidak digunakan.
Biasanya ada di pojok bagian belakang. Daripada kosong begitu saja, pihak sekolah meminta siswa di setiap kelas berembuk untuk memanfaatkan tempat itu.
Dengan demikian, saat ada waktu kosong, seperti istirahat maupun sebelum jam pelajaran, mereka bisa memanfaatkannya untuk membaca. ’’Yang jelas tidak mengganggu pelajaran inti,” tuturnya.
Pihak sekolah menyediakan waktu 15 menit saat pagi sebelum pelajaran, Selasa hingga Kamis, untuk membaca di pojok buku.
Untuk melengkapi koleksi pojok buku, siswa diperbolehkan menyumbangkan bukunya yang sudah tidak terpakai.
”Lumayan juga kan untuk menambah koleksi. Kalau satu siswa satu buku saja, yang terkumpul sudah sekitar 35 buku karena di tiap kelas rata-rata 35 siswa. Nanti bisa dibaca bergantian,” jelas Sutrisno.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
