Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 November 2016 | 20.29 WIB

Pengajar SMALB YPAC Konsisten Ajak Penyandang Disabilitas untuk Bangkit dengan Advokasi

Abdul Syakur - Image

Abdul Syakur

Sebagai pengajar, dia tidak hanya peduli pada murid-muridnya. Abdul Syakur juga peduli dengan sesama penyandang disabilitas. Cukup banyak yang dilakukan agar para penyandang disabilitas bisa nyaman dalam bermasyarakat.





ALUNAN nada keyboard sayup-sayup terdengar di sepanjang lorong Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) pada Rabu (23/11). Suara merdu tersebut berasal dari pijatan jari Abdul Syakur.



Di ruang kelas kesenian berukuran 3 x 8 meter itu, Syakur bersama empat muridnya berlatih menyanyikan lagu berjudul Cinta Terbaik yang dipopulerkan band Cassandra. Di tengah lagu, seorang siswa melantunkan puisi.



’’Kami sedang latihan. Mau tampil pada 3-4 Desember, memperingati Hari Disabilitas Internasional,’’ ujar Syakur setelah memberikan pelatihan yang berlangsung selama dua jam.



Selesai melatih, Syakur tidak segara pulang. Di atas kursi roda –tunggangan setianya–, dia bergegas menuju kantor. Menyelesaikan tugas dan menyiapkan materi pembelajaran esok hari.



Sebagai guru kelas XI SMALB YPAC, Syakur bertanggung jawab mempersiapkan anak didiknya agar menguasai materi pelajaran. Maklum saja, di SLB dia tidak seperti guru SMA pada umumnya yang hanya mengajar satu mata pelajaran.



Dia mengajarkan seluruh materi pelajaran. Mulai matematika, bahasa Indonesia, IPS, IPA, dan PKn. Semua harus dikuasai.



Alumnus Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ) itu mengungkapan, selain pelajaran, dia mengembangkan pendidikan life skill. Bersama dengan guru lain,



Syakur mengajarkan beberapa keahlian. Antara lain, bermain musik, komputer, dan membuat keset. ’’Pelajaran ini kami berikan agar mereka memiliki bekal keterampilan setelah lulus nanti,’’ jelasnya.



Pria kelahiran 22 Oktober 1974 itu menyampaikan, selama 14 tahun mengajar, suka duka sebagai guru sudah dirasakan. Mulai dicuekin siswa hingga ditinggal tidur di kelas.



Namun, semua itu diterima dengan sabar dan ikhlas. Syakur yakin kesabaran merupakan ilmu yang harus dimiliki setiap guru, selain harus pandai menyampaikan materi.



Bapak dua anak itu mengisahkan, awal pengabdianya menjadi seorang guru bisa dibilang kebetulan. Pada 2001 Syakur sering berkunjung ke SLB YPAC untuk memotivasi siswa.



Sebagai alumnus, dia tahu bahwa kekurangan fisik membuat sebagian besar penyandang disabilitas minim percaya diri. ’’Saya motivasi agar tetap survive dalam menjalani hidup. Jangan menyerah pada keadaan,’’ kata alumnus SDLB YPAC tahun 1986 itu.



Sering datang, ternyata ada guru yang menawarinya untuk mengajar komputer di SLB YPAC. ’’Guru sudah tahu kemampuan saya. Jadi, waktu melamar langsung diterima untuk mengajar,’’ jelas pria yang waktu kuliah jadi anak band tersebut.



Pada 2002 dia resmi menjadi pengajar di sekolah tersebut. Sebelum menjadi guru, Syakur memiliki pekerjaan strategis. Yakni, manajer keuangan salah satu koperasi syariah di Kabupaten Jember.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore