
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meresmikan ruang terapi anak berkebutuhan khusus (ABK) di pusat pembelajaran keluarga (puspaga) gedung Siola lantai 2, Surabaya, Rabu (2/5).
JawaPos.com - Pemerintah Kota Surabaya meresmikan ruang terapi anak berkebutuhan khusus (ABK) di pusat pembelajaran keluarga (puspaga) gedung Siola lantai 2, Surabaya, Rabu (2/5). Sesi terapi di ruang ABK itu tidak dipungut biaya alias gratis.
Ruang terapi ABK tersebut buka setiap hari hingga pukul 16.00 WIB. Ada 4 ruang terapi anak, 2 ruang konseling, dan 3 ruang bermain ABK. Sebanyak 1 hingga 2 ahli terapi ABK disiagakan di setiap ruangan.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, ruang ABK tersebut tidak hanya tersedia bagi keluarga tidak mampu. Juga, sebagai tempat bagi orang tua yang kurang memahami cara menangani ABK.
"Jadi dengan adanya ruang ini, orang tua juga dapat belajar mendeteksi apa saja yang dialami ABK. Karena banyak orang tua yang tidak memahami bagaimana (menangani perilaku ABK)," kata Risma ditemui wartawan di gedung Siola, Surabaya, Rabu (2/4).
Karenanya, ruang terapi ABK tersebut juga menyediakan sesi diskusi antara orang tua dengan para terapis. Sehingga, orang tua mampu menentukan penanganan yang tepat bagi si anak.
Senada, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan, penyuluhan dan konseling juga tersedia bagi orang tua si anak. Sejumlah ahli terapi ABK akan melakukan penyuluhan kepada orang tua sesuai permasalahanya.
Antiek menjelaskan, sesi terapi untuk orang tua akan berlangsung selama anaknya juga dalam masa penanganan para ahli. Sebab, terapi ABK tidak diberikan hanya dalam sekali kunjungan.
Selain itu, lanjutnya, faktor lingkungan juga mempengaruhi proses dan hasil terapi untuk si anak. "Jadi sesi terapi memang harus terus dilakukan beserta keluarganya," kata Antiek.
Lebih lanjut, Antiek menjelaskan, ruang ABK tersebut melayani pelbagai jenis kelainan mental. Antara lain, Global Development Delay (GDD), Down Syndrome, dan Autisme. Setiap ruang juga dilengkapi dengan beberapa alat bantu terapi berupa mainan dan alat peraga.
Penggunaan mainan dan alat peraga tersebut akan menyesuaikan jenis kebutuhan khusus si anak. Yang didasari diagnosa para ahli terapi atau psikolog anak. "Sementara ini, ruang terapi itu khusus melayani ABK hingga usia lima belas tahun," jelasnya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
