Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 Januari 2017 | 19.33 WIB

Menelusuri Prostitusi Asing di Surabaya (1): Parasnya Dingin, Khas Negara Beruang Merah

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Ini memang rahasia umum. Setidaknya di kalangan penggemar jagat malam. Bahwa di metropolis ada prostitusi berkedok terapi pijat. Perempuannya impor. Dari Tiongkok, Vietnam, Thailand, hingga Russia. Hmmm...



--- 



HOTEL itu tak jauh dari pusat Kota Surabaya. Waktu tempuhnya hanya sekitar 15 menit perjalanan ke arah timur. Lokasinya berada di sebuah pusat perbelanjaan modern. Karena itu, yang tampak dari luar adalah swalayan yang terletak di pojok jalan tersebut.



Tapi, tim Jawa Pos memang tidak berniat belanja barang kebutuhan pokok.



Karena itu, kami langsung naik ke lantai paling atas atau rooftop. Setelah sampai di tempat parkir paling atas, pengunjung (baca: pencari hiburan) bisa langsung memilih. Ke kanan adalah tempat dugem. Ke kiri adalah hotel sekaligus tempat spa.



Dan ''nasib" membawa kami ke kiri, hehe... Tempat spa. Sasaran orang-orang yang mencari kebugaran.



Namun, jam sudah mendekati pukul 22.00. Apakah sudah closed order? "Masih terima, Om. Last order (layanan terakhir, Red) jam 12 (pukul 00.00, Red)," kata kasir yang berdiri di depan komputer itu.



Kami berangkat bertiga. Tapi, yang ''ditugasi" untuk pijat hanya seorang. Dua lainnya hanya mengantar. ''Tapi kalau masuk, tetap harus bayar,'' kata kasir perempuan dengan rambut sebahu tersebut. Tiap orang, meski tidak pijat, harus membayar Rp 175 ribu. Itu biaya untuk menikmati sauna dan spa.



Begitu melewati kasir, seorang perempuan menyambut kami. Bajunya putih dengan motif kembang sepatu. ''Halo. Halo. Silakan. Silakan,'' katanya. Logatnya asing. Seperti orang Tiongkok. Perempuan itu mengaku bernama Tintin. Entah nama asli atau sekadar ''nama panggung''.



Perempuan dengan ikat rambut kuning itu lantas menawarkan ''komoditas'' layanannya. ''Mau yang lokal atau yang asing?'' tanyanya.



Sesuai penugasan dari kantor (eaaa...), kami harus mencari perempuan asing. "Yang dari Vietnam ya," tawar Tintin. Tanpa menunggu jawaban panjang, dia minta waktu ke sebuah ruang di belakang tempat kami duduk.



Dengan bahasanya, Tintin memanggil anak buah. Dua menit kemudian, lima perempuan yang mengaku dari Vietnam berdiri di hadapan kami. Tingginya rata-rata sekitar 170 sentimeter. Cukup jangkung. Mereka mengenakan gaun berwarna emas yang menonjolkan belahan dada.



"Hai, selamat datang," ujar perempuan paling kiri. Mereka kemudian menunduk. Mirip penghormatan ala masyarakat Jepang.



Tintin lalu meminta kelimanya mengenalkan diri. Namun, alih-alih menyebut nama. Mereka hanya menyebut nomor urut. Nomor tersebut tersemat pada badge merah yang dipasang di pundak kanan. "Saya delapan kosong dua. Saya delapan satu tiga." Mereka bergantian menyebut nomornya.



Kami minta dihadirkan opsi lainnya. Kali ini Tintin menawarkan dari Tiongkok. Dengan cara yang sama, mereka menawarkan diri. Tintin menyatakan bahwa mereka berlima adalah yang paling senior. Paling ahli memijat. "Saya jamin kalau yang ini, pijatannya enak," tawarnya.

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore