Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 April 2017 | 09.31 WIB

Kesibukan di Pasar Pagi Dupak Magersari, Kereta Lewat, Ayo Belanja Lagi

SAATNYA MINGGIR: Kalau kereta sedang lewat seperti ini, pedagang dan pembeli sigap menepi. Barang dagangan diangkat mundur atau ditutup kain. Setelah kereta lewat, mereka mulai kembali berjualan. - Image

SAATNYA MINGGIR: Kalau kereta sedang lewat seperti ini, pedagang dan pembeli sigap menepi. Barang dagangan diangkat mundur atau ditutup kain. Setelah kereta lewat, mereka mulai kembali berjualan.


Pasar pagi di Dupak Magersari ini unik. Para pedagang berjualan di tepi kanan dan kiri rel kereta api. Kalau kereta mau lewat, aktivitas jual beli berhenti sejenak. Setelah itu lanjut lagi.





SIRENE palang pintu kereta api berbunyi. ”Sepur, sepur, sepur. Lewat sing kene,” teriak Rohmat, salah seorang pedagang pasar pagi di pinggir rel kereta api. Lokasinya berada di Dupak Magersari, barat Stasiun Pasar Turi.



Setelah menutup dagangannya, pakaian dalam anak-anak, laki-laki, dan perempuan, dengan terpal, Rohmat menyusuri jalan di sepanjang rel sambil memberi tahu pedagang lain bahwa akan ada kereta yang datang. Teriakan beberapa pedagang menghentikan aktivitas pembeli dan pedagang sejenak. Beberapa payung untuk menampik terik matahari pun ditutup. Beberapa pedagang makanan menutup dagangan dengan koran atau kain seadanya. Selain meninggalkan dagangan, pembeli dan pedagang menyingkir. Mereka menepi ke sisi kanan dan kiri untuk membiarkan kereta lewat.



Pagi itu pukul 07.30 (25/4) kereta api KRD Bojonegoro melintas. Setelah kereta berlalu, mereka kembali asyik melakukan tawar-menawar harga barang dagangan. Terdapat dua lajur kereta api di lokasi pasar yang buka pukul 05.00–10.00 tersebut. Para pedagang mulai berdatangan pada pukul 04.30. Pada jam-jam sibuk, pukul 06.00–08.00, kereta api kerap berlalu-lalang.



Berjalan di sepanjang rel menjadi pemandangan yang wajar bagi para penjual dan pembeli di sana. Lokasinya memang tak terlalu lebar untuk dijadikan pasar. Namun, setiap pagi, pasar itu ramai sekali. Kereta bisa lewat 3–4 kali. Beberapa pedagang mengaku tak hafal jam berapa saja kereta lewat. Namun, mereka saling mengingatkan satu sama lain.



Jalur kereta tersebut terhubung ke Stasiun Pasar Turi. Biasanya pedagang yang berjualan di lokasi paling dekat dengan palang pintu akan melihat perpindahan sekat besi rel untuk menentukan kereta akan melaju ke arah mana. Cara lainnya menengok dari kejauhan.



Pedagang berjualan di bantaran rel selebar kurang dari 2 meter. Barang dagangan menempel di besi rel. Jadi, pembeli mau tak mau harus berjalan di atas rel ketika hendak berbelanja. Rata-rata mereka mengaku tak kebagian tempat untuk menggelar dagangan di pasar. Beberapa pedagang mengaku tak berniat untuk berpindah lokasi.



Aktivitas jual beli berlangsung setiap hari. Berbeda dengan penjual di pasar biasa, para pedagang di pasar pagi tidak membawa barang dagangan terlalu banyak. ”Pilihan sayurnya sedikit kalau ke sini. Habis langsung pulang,” tutur salah seorang pedagang.



Pasar pagi yang berlokasi di rel kereta api itu sudah hadir cukup lama. Bahkan, ada pedagang yang mengaku berjualan sejak 15–20 tahun lalu. Sebagian datang dari luar daerah. Yakni, Madura, Jawa Tengah, dan beberapa dari luar Kota Surabaya. Para pedagang tersebut sudah tahu lebar dan tinggi kereta. Karena itu, dagangan mereka tak mungkin tertabrak.



”Yang sebelah sini (sisi barat, Red) biasanya dilewati kereta barang. Yang sini (sisi timur) adalah kereta ke arah Sidoarjo. Ada juga yang ke Bojonegoro,” ucap Amin Miyati, salah seorang pedagang jamu. Amin merupakan pendatang dari Solo. Selama delapan tahun, dia berjualan di pasar itu. ”Saya nggak apal (jadwal kereta). Sebab, jam lewat kereta setiap hari bisa berubah. Tapi, biasanya setelah ini ada, pukul 07.25,” tuturnya sambil menuang segelas beras kencur untuk Jawa Pos.



Amin menata dagangannya dengan sedemikian rupa sehingga tampak praktis untuk dipindahkan. Dia membuat rak untuk botol-botol jamu dan membawa satu bangku kecil untuk duduk. Ketika kereta lewat, dia berdiri, lalu memundurkan sedikit dagangannya. Hal yang sama dilakukan Mutmainah, pedagang sayur yang menggelar dagangan sederet dengan Amin. ”Yo uwis tak ukur, Mbak. Nantitinggi keretanya tuh segini. Dadi terong-terongku gak kenek,” jelasnya, lalu tertawa. Kereta-kereta yang melewati rel saat pasar sedang ramai juga ”pengertian” kok. Mereka pasti berjalan pelan-pelan.



Pemandangan pasar di bantaran rel kereta api itu memang menjadi keunikan tersendiri. Di tengah modernitas dan gairah Kota Metropolis untuk bersolek, ada sekelumit gambaran tentang kearifan lokal di sana. Satu dengan yang lain saling perhatian, saling mengingatkan, dan saling menjaga.



Keunikan pasar pagi tersebut juga jadi jujukan komunitas fotografer. Pagi itu, beberapa mahasiswa terlihat sedang jeprat-jepret dengan kamera DSLR. Mereka adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga. ”Untuk tugas mata kuliah fotografi,” ucap salah seorang mahasiswi, Pipin Nastika.



Para mahasiswa mengetahui lokasi pasar dari senior mereka. ”Banyak yang hunting ke sini. Baik dari komunitas maupun sekadar penghobi fotografi,” tambah Yuli Istitania, mahasiswi lain.



Menghadapi jepretan para pemburu gambar, pedagang tak ambil pusing. ”Ayo, nek aku wis mbok foto. Tukonono,” canda salah seorang perempuan paro baya, lalu tersenyum. Untuk para pengunjung pasar, sebaiknya berhati-hati jika belum terbiasa dan hafal dengan kelebaran bodi kereta. Sebaiknya ambil jarak agak jauh ketika ada kereta yang datang. (esa/c16/jan/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore