Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Februari 2017 | 02.54 WIB

Dua Bulan Rugi Rp 20 Juta, Wisata Kuliner Keputih Ditinggal Pedagang

PINDAH: Para pedagang pada meninggalkan stan di Wisata Kuliner Keputih. - Image

PINDAH: Para pedagang pada meninggalkan stan di Wisata Kuliner Keputih.

JawaPos.com – Pemkot perlu mengkaji ulang rencana penambahan Wisata pedagang kaki lima (PKL) maupun pusat kuliner. Sebab, semakin banyak Wisata yang tidak laku dan akhirnya ditinggal pedagang. Lihat saja kondisi Wisata Kuliner Keputih yang kini mangkrak.


Bangunan Wisata Kuliner Keputih terdiri atas dua lantai. Lantai 1 menjajakan produk UMKM dan sayur-mayur. Totalnya ada 57 stan. Lantai 2 diisi 27 stan untuk pedagang makanan-minuman. Pembangunan selesai pada Mei tahun lalu. Pada Agustus seluruh stan dihuni pedagang. Namun, bangunan dua lantai tersebut belum diresmikan. Semula, Wisata kuliner itu ramai pembeli. Namun, lambat laun kondisinya berubah. Pembeli semakin sedikit. Akibatnya, sebagian pedagang memutuskan hengkang dari sana.


Salah seorang pedagang yang memilih hengkang itu adalah Warto. Dia sebenarnya memiliki stan di lantai 1. Kini dia menyewa lahan warga di Jalan Arif Rahman Hakim untuk berjualan buah dan kerajinan kaligrafi. Warto bercerita, dirinya pindah karena sering rugi saat berjualan di Wisata Kuliner Keputih. ’’Dua bulan bertahan saya rugi sampai Rp 20 juta,’’ ungkapnya. Warto menjelaskan, selama menempati Wisata Kuliner Keputih, iuran yang dikeluarkan memang tidak banyak. Hanya Rp 5 ribu per hari untuk listrik, air, dan keamanan. Namun, kondisi yang tidak kunjung ramai membuat Warto enggan bertahan. Di tempat yang sekarang, tarif sewa setahun memang lebih mahal, yakni Rp 15 juta. Namun, dia merasa betah karena dagangannya laris.


Jawa Pos kemarin mendatangi Wisata Kuliner Keputih. Kondisinya kosong melompong. Di dalam stan masih terisi barang-barang seperti kompor dan alat masak. Sejak tiga minggu lalu para pedagang memilih kembali berjualan keliling. Sebetulnya, lokasi Wisata Kuliner Keputih terbilang strategis karena berada tepat di sebelah Terminal Keputih. Selain itu, jarak dengan Taman Harmoni dan Taman Bambu yang ramai wisatawan hanya sekitar 30 meter. Entah mengapa tempat makan-minum tersebut tidak kunjung ramai.


Meski sepi, Ika Damayanti, pedagang soto, masih bertahan. Namun, dia pindah ke lantai 1. Ika mengatakan rugi saat berjualan di atas. Bahkan, dagangannya sering tidak laku sama sekali dalam sehari.


Bukan hanya Ika yang memilih turun. Hasan juga sama. Pemilik warkop itu memakai stan kosong di bawah untuk menjual dagangannya. Padahal, stan tersebut seharusnya dihuni produk UMKM seperti kerajinan tangan.


Abdul Azis Manan, kepala pengurus Wisata Kuliner Keputih, menyatakan masih terus berusaha menyuruh pedagang untuk kembali ke stan. Dia juga sudah merancang upaya promosi seperti mengadakan hiburan musik. Namun, prioritasnya sekarang adalah mengumpulkan kembali para pedagang. Upaya tersebut mendapat dukungan dari Putut, sekretaris Kelurahan Keputih. Bahkan, dia juga membantu promosi melalui pengumuman ke RT dan RW. ’’Saya sampai menyuruh warga untuk belanja di sana,’’ katanya.



Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Surabaya Eko Haryanto menuturkan belum memiliki konsep untuk meramaikan Wisata baru tersebut. Dia mengatakan masih menunggu hasil koordinasi dengan LKMK. ’’Setelah itu baru kita fokus ke pengembangannya,’’ ungkapnya. (kik/c15/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore