Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 April 2017 | 02.10 WIB

Belum Terjangkau Layanan PDAM, Sedia Jeriken untuk Tampung Air Hujan

MANDI PELUH: Manto, warga Keputih Timur Pompa Air, harus mencari air bersih tiap subuh untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. - Image

MANDI PELUH: Manto, warga Keputih Timur Pompa Air, harus mencari air bersih tiap subuh untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

JawaPos.com – Nasib apes warga Kampung Keputih Pompa Air ini sama dengan warga Waru Gunung. Sesuai namanya, lokasi kampung itu sejatinya dekat dengan pompa air. Meski begitu, warga tidak mendapatkan akses air bersih selama bertahun-tahun. Sebab, pipa PDAM tidak bisa masuk karena masalah sengketa tanah. Untung, masalah yang sempat mencuat pada pertengahan 2016 itu kini memasuki tahap akhir.


Adalah Hendrik Kurniawan, warga yang juga perwakilan Kampung Keputih Pompa Air, yang memperjuangkan hak-hak mereka. Lulusan Fakultas Hukum Universitas dr Soetomo itu terbilang penduduk baru. Dia baru resmi berdomisili di sana pada 2013. Namun, jiwa aktivis membuatnya tergerak memperjuangkan aliran air di kampung berpenduduk 160 KK tersebut.


Selama ini, warga berusaha memenuhi kebutuhan air bersih secara swadaya. Yakni, dengan membeli air jeriken. ”Satu hari butuh 12 jeriken alias satu geledekan (gerobak),” tutur Irawati, salah seorang warga yang membuka warung kopi. Karena membuka usaha warung itu, Irawati kadang tidak bisa menghemat air. Dalam sehari, 12 jeriken air selalu habis untuk mandi, memasak, dan berjualan. ”Beda lagi kalau yang tidak jualan, mungkin bisa lebih hemat,” katanya.


Untuk menambah stok air, sebagian warga menyediakan tandon penampung air hujan di luar rumah. Karena itu, warga Kampung Keputih Pompa Air menganggap musim hujan penuh berkah. ”Bahagia itu sederhana, kalau turun hujan dan persediaan air banyak,” kelakar Irawati.


Deretan tong oranye-kuning serta gerobak dengan jeriken biru menjadi pemandangan biasa di kampung itu. ”Semua orang di sini pasti punya jeriken,” kata Hendrik. Sehari-hari, warga bahkan rela membeli air saat pagi buta untuk kebutuhan mandi sebelum beraktivitas. ”Kalau tidak ngalahi begitu, bagaimana anak-anak mau sekolah?” imbuhnya.


Selain azan Subuh, bunyi jeriken yang beradu dalam gerobak menjadi musik yang selalu menemani pagi mereka. Apalagi, jalan di Kampung Keputih Pompa Air terbilang tidak layak. Masih berupa tanah dengan bebatuan kapur. Bagian yang bopeng ditambal dengan keramik atau batu gragal seadanya.


Berbulan-bulan Hendrik dan rekan-rekannya memperjuangkan air bersih bagi kampung itu. ”Ironis, Surabaya termasuk kota terbaik di bidang pengairan, tapi masih ada warga yang kesulitan air seperti ini,” ujarnya. Dikawal oleh anggota Komisi C DPRD Surabaya, Hendrik akhirnya bisa bertemu dengan pihak PDAM Surya Sembada yang selama ini juga kesulitan memfasilitasi warga di sana.



Setelah perjuangan panjang itu, kini warga mulai melihat titik terang. Hasil perundingan, rencananya PDAM memasang master meter di depan kampung mereka. Sejauh pengetahuan Hendrik, pemasangan pipanya dilakukan bulan ini. Master meter tersebut nanti meng-cover seluruh rumah warga. Sistem pembayarannya kolektif. Namun, Hendrik menyatakan, hal itu masih berupa wacana. ”Kalau boleh, kami juga ajukan supaya sampai ke pengadaan pipanya sekalian,” terangnya. Namun, bila tidak, warga akan mengupayakan untuk membangun instalasi pipa secara swadaya. (deb/c6/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore