JawaPos Radar

Saya Surabaya

31/05/2017, 07:00 WIB | Editor: Miftakhul F.S
Saya Surabaya
BANGGA: Meski tidak lahir di Surabaya, tapi Is Yuniarto sangat mencintai Surabaya. (Arya Dhitya/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com- Kebesaran dan kemajuan Surabaya tentu tidak bisa diklaim oleh satu pihak atau satu person saja. Kota ini sedemikian menarik. Arek-arek-nya asyik. Dan justru arek-arek itulah sejatinya yang mendukung Surabaya hingga menjadi seperti saat ini. Warga itulah yang menciptakan kota yang kondusif, toleran, mendukung kreativitas, ramah investasi, dan –sekali lagi– asyik. Warga yang dengan bangganya bisa mengatakan #Saya Surabaya…

------

IS YUNIARTO, kurator komik Garudayana, memang bukan arek Surabaya asli. Dia baru mencecap Kota Pahlawan ketika kuliah di Universitas Kristen (UK) Petra pada 1999. Namun, di kota ini dia melahirkan karya. Berkat iklim Surabaya, kreativitasnya tumbuh. Namanya pun mulai dikenal.

Is Yuniarto memang sudah gemar menggambar sejak kecil. Tepatnya, ketika duduk di bangku sekolah dasar. Namun, di Surabaya karyanya mulai dikenal. Yakni, saat dia memenangi lomba komik Jawa Pos pada 2001. Saat itulah, dia merasa bangga karena karyanya untuk kali pertama bisa dinikmati banyak orang.

Tak berhenti di sana, sepanjang Juli 2002 komik buatannya dimuat bersambung di Jawa Pos. ”Bagi seorang artis atau seniman, membuat karya itu sebuah kebanggaan. Namun, ketika karyanya mendapatkan respons, kebahagiaan itu berlipat ganda,” tutur pria asli Semarang tersebut.

Pada awal 2000-an, jagat komik di Surabaya mulai menggeliat. Ada sekitar sepuluh komikus yang aktif. Namun, di antara sepuluh orang itu, Is adalah komikus laki-laki satu-satunya.

Kebangkitan komik di Surabaya membuat Is semakin bersemangat menggambar. Tak jarang, mereka berdiskusi. Apalagi soal bagaimana harus telaten menggambar agar komik bisa berwujud buku. ”Pada era saya, kalau mau maju ke penerbit, harus berwujud buku yang kira-kira sebanyak 180 hingga 200 halaman HVS,” ujar pria kelahiran 22 Juni 1981 itu.

Is harus menggambar setidaknya tiga hingga empat bulan untuk menyelesaikan komiknya. Itu terwujud kalau dia rajin menggambar setiap hari. Namun, idealnya dia menyelesaikan sekitar enam bulan. Menjaga mood dan fokus selama itu tentu tidak mudah. Adanya komikus-komikus seangkatan Is membuatnya merasa terbantu.

Perjuangan untuk menghasilkan karya lagi terus meletup. Pada 2005, WindRider, komik besutan Is, diterbitkan Elexmedia. Pada tahun yang sama, komik tersebut menerima nominasi dari Komikasia Award.

Menerbitkan komik tersebut harus melalui perjuangan lebih. ”Awalnya, ketika saya lulus dari UK Petra, saya bolak-balik Jakarta–Surabaya,” katanya. Hal itu disebabkan di Surabaya belum ada penerbit komik. Dia biasa sehari di Jakarta, lalu pulang ke Surabaya.

Namun, hari ini dia merasa tidak demikian. Di Surabaya sudah banyak komunitas yang menggemari komik. Dunia kreatifnya kian baik. Karena itu, sekarang banyak dukungan dari komunitas dan media.

Suami Melvina Oktavianti mulai dikenal setelah menerbitkan komik Garudayana. Itu adalah komik cerita wayang. Namun, konsep dan ceritanya lebih simpel. Gambar tokohnya pun dibuat lebih pop sehingga menarik pembaca muda.

”Di komik itu tidak hanya berisi hiburan. Pembaca juga bisa belajar. Sebab, saya tampilkan juga semacam ensiklopedia tokoh-tokoh wayang,” ujarnya. Ada tokoh Suro dan Boyo yang juga ditampilkan. ”Namun, tokoh itu saya jadikan monster,” kata Is.

Respons atas komik Garudayana cukup hebat. Apalagi lisensi komiknya juga dibeli oleh penerbit dari Jepang. Komiknya diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Karakter unik komik tersebut tidak diubah. ”Misalnya, biasanya kan komik Jepang itu dibaca dari kanan ke kiri, nah ini enggak. Bahkan, sound effect-nya tidak diubah. Khas Indonesia,” jelasnya.

Makin banyaknya komik yang harus diselesaikan membuat Is kewalahan. Apalagi mulai bulan ini dia harus membuat game untuk sebuah snack. Untuk membantu mengerjakan semua gambarnya, dia memiliki partner kerja. John G. Reinhart sudah beberapa tahun terakhir ikut menemani Is berkarya.

Sejak awal kuliah di Surabaya, keduanya memang selalu bersama walaupun John mengambil arsitektur sementara Is mengambil jurusan desain komunikasi visual. Keduanya memang sahabat sejak SMA di Semarang. ”Ya, tidak menyangka saja di Surabaya malah bisa kerja bareng,” katanya.

Surabaya merupakan kota besar. Tak jarang, orang luar Surabaya juga turut mewarnai hiruk-pikuk metropolis. Is Yuniarto salah satunya. Dia tidak keberatan jika disebut arek Surabaya. Sebab, Surabaya membesarkan namanya. (Fajrin Marhaendra Bakti/dos)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up