
BERDAYA SAING: Kades Kenongo M. Husin (dua dari kanan) saat bertandang ke Galeri Painah Hartono (tiga dari kiri), pengusaha batik Sari Kenongo yang sudah merambah pasar ekspor.
Mempertahankan kesuksesan usaha dari satu generasi ke generasi tentu bukan perkara mudah. Namun, itulah yang diperjuangkan Kampung Kenongo dan para pelaku usaha batiknya. Berkat upaya itu, Desa Kenongo mendapat penghargaan untuk kategori Pemberdayaan UKM Desa Terbaik.
SEJUMLAH pihak bahu-membahu untuk terus mempertahankan komoditas batik warisan leluhur di Kenongo. Konon, sejak 1970, mayoritas perempuan di desa yang masuk wilayah Kecamatan Tulangan tersebut adalah pembatik.
Mereka mengenal canting sejak usia belia. Ilmu membatik juga turun-temurun di setiap keluarga. Tak heran, batik tidak hanya menjadi usaha kecil menengah (UKM), tapi juga sebagai budaya dan sejarah desa.
’’Sekarang ada empat kelompok pembatik. Sari Kenongo, Pratang, Kenongo Mas, dan Kunto. Nah, yang terakhir (Kunto, Red) itu yang paling lama,” ujar Kepala Desa (Kades) Kenongo M. Husin.
Masing-masing kelompok tersebut memiliki galeri sendiri-sendiri. Husin lantas mengajak Jawa Pos berkunjung ke rumah produksi Sari Kenongo.
Selama ini galeri itu telah menjadi pusat workshop. Kalau ada pengunjung yang mau belajar membatik, mereka singgah ke tempat tersebut.
Pasar usaha batik di Kenongo sangat populer. Bahkan, sudah menjebol pasar luar negeri. Di antaranya, Jepang, Swiss, Amerika Serikat, dan Australia.
’’Semua sudah saya serahkan ke Lintang memang. Saya bagian mengurus administrasi kayak pajak,’’ kata Painah Hartono, pemilik Galeri Sari Kenongo.
Itulah kenapa Husin tidak pernah lupa untuk mengajukan produk-produk UKM batik di desanya jika ada pameran. ’’Selalu saya gilir supaya mendapat kesempatan yang sama. Kecuali pameran besar, ya saya keluarkan semua,’’ tuturnya.
Lintang yang dimaksud adalah Lintang Septianti, penerus Painah di generasi kedua. Husin mengaku saat ini sedang menghadapi kendala untuk mengembangkan UKM batik.
’’Tenaga kerjanya mulai tua-tua semua. Jadi, pusing memikirkan regenerasinya,’’ terangnya.
Lintang baru saja tuntas mengurus kepemilikan hak paten motif khas batik Desa Kenongo dari Kementerian Hukum dan HAM. Yakni, motif bunga sirih sunduk kentang.
Lintang terus melangkah. Dia rajin mengadakan workshop ke daerah-daerah lain agar tertarik menjadi pembatik. Dia pun bercerita, belum lama ini dirinya mengisi pelatihan di Kecamatan Balongbendo.
’’Ada dua peserta yang nyantol, konsisten sampai sekarang,’’ ujarnya. Di Desa Kenongo, Husin berupaya untuk terus menyelenggarakan pelatihan membatik bagi ibu rumah tangga dan para pemuda yang masih produktif.
Selain itu, jika ada kesempatan, dia tidak pernah lupa mempromosikan produknya lewat pameran. Termasuk saat pameran di Canberra, Australia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
