
PRODUK LOKAL KARYA UMKM: Eva Bachtiar menunjukkan beberapa. (Robertus Risky/Jawa Pos)
Tren gaya hidup ramah lingkungan kian diminati. Alasannya, tak mau merasa bersalah karena membuang sampah plastik maupun bahan pangan. Selain itu, kualitas hidup bisa semakin baik.
---
Noer Ratih Anggraeni memilih beberapa item bahan pangan di Mamaramah Eco Bulk Store Rabu (23/9). Ibu tiga anak itu lantas mengambil dua varian tea flower. Masing-masing 10 gram rose bud dan 5 gram butterfly pea atau bunga telang. Keduanya dimasukkan ke paper bag mini. Dia juga mengambil extra virgin coconut oil yang dikemas dalam botol kaca berukuran 225 gram. Untuk belanjaan lain, ada sirup jahe dan bubuk kaldu ayam.
Ratih pergi ke eco store saat stok bahan pangan di dapur habis. Dia lebih sreg dengan konsep toko yang ramah lingkungan. ’’Aku juga merasa terbantu karena semua bahan yang dibeli bisa ditakar sendiri sesuai kebutuhan. Jadi, nggak sampai kebanyakan, bersisa, dan dibuang,’’ ujarnya.
Pola hidup zero waste dilakoninya sejak empat tahun lalu. Alasan utamanya, dia ingin ikut ambil bagian untuk mengurangi limbah plastik maupun limbah pangan rumah tangga. Perempuan yang pernah menjadi anggota Komunitas Organik Indonesia (KOI) itu juga meniatkan diri untuk memperbaiki kualitas hidup dengan mengonsumsi bahan-bahan yang lebih sehat serta natural. ’’Ya sesekali masih jajan di luar sih,’’ imbuhnya. ’’Saya juga membiasakan hal yang sama ke suami dan anak,’’ lanjutnya.
Hal serupa dilakukan Nadya Qisthi Diadasa. Alumnus geografi lingkungan dari UGM itu tidak pernah alpa membawa tas belanja, kontainer, hingga botol dan stoples kaca sendiri. Gaya hidup natural dianggap lebih sesuai dengan dirinya yang vegetarian. ’’Paling nggak sebulan sekali belanja di eco store. Aku jadi nggak merasa bersalah karena tidak membuang sisa bahan pangan dan nggak lagi nyampah plastik,’’ ujarnya.
Ogi Dhaneswari Dara Ninggar, penggagas Mamaramah Eco Bulk Store, mengungkapkan, salah satu misi utamanya adalah mengubah kebiasaan hedon masyarakat saat berbelanja. Di toko yang didesain ramah lingkungan, setiap orang membeli apa pun dengan jumlah sesuai kebutuhannya. Tidak lebih. ’’Saya sendiri bikin ini tepat saat peringatan Hari Bumi, 22 April 2019. Saya memang pengin kasih hadiah untuk bumi,’’ ungkap alumnus DKV UK Petra itu.
Keinginan yang sama diungkapkan Eva Bachtiar dan Lydia Hapsari. Mereka mendirikan Alang-Alang Zero Waste Store untuk mewadahi masyarakat yang memiliki gaya hidup serupa. ’’Pembeli di sini harus membawa tas belanja sendiri,’’ ujar Eva.
Menurut Eva, market dari toko ramah lingkungan memang sangat spesifik. Meski begitu, pelanggan yang berbelanja di Alang-Alang Zero Waste Store cukup banyak. Bahkan, trennya meningkat. ’’Biasanya pas weekend banyak banget. Namun, sejak pandemi, toko sempat tutup lima bulan untuk offline. Yang delivery jalan terus,’’ lanjutnya.
Meski tidak berbelanja, pelanggan bisa ngedrop sampah. Selain itu, pelanggan bisa ngedrop baju yang tidak terpakai. Nanti baju-baju itu diolah menjadi sesuatu yang layak dan dijual kembali di toko. ’’Ada juga drop boks elektronik,’’ ujarnya.
---
APA ECO BULK STORE?

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
