Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Oktober 2026 | 22.09 WIB

7 Alasan Mengapa Memulai Karier dengan Work From Home Dapat Merugikan Karier Menurut Psikologi

seseorang yang kesulitan saat work from home. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Memulai karier dengan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) terdengar seperti situasi yang ideal. Tidak perlu menghadapi kemacetan, tidak perlu menghabiskan waktu di perjalanan, pakaian kerja bisa lebih santai, dan lingkungan kerja dapat diatur sesuai kenyamanan pribadi.


Namun, bagi seseorang yang baru memasuki dunia profesional, fleksibilitas tersebut memiliki sisi lain yang sering kali tidak terlihat.

Masa awal karier bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan dan menerima gaji. Periode ini merupakan fase ketika seseorang membangun identitas profesional, keterampilan sosial, jaringan, reputasi, kepercayaan diri, serta pemahaman tentang bagaimana organisasi bekerja.

Dari sudut pandang psikologi, banyak proses pembelajaran tersebut terjadi melalui interaksi sosial yang spontan dan berulang. Ketika seseorang memulai karier sepenuhnya dari rumah, sebagian pengalaman tersebut dapat berkurang.

Bukan berarti WFH pasti membuat karier seseorang buruk. Banyak orang justru dapat berkembang sangat baik melalui sistem kerja jarak jauh. Masalahnya muncul ketika WFH membuat seorang pekerja muda kehilangan pengalaman-pengalaman penting yang biasanya diperoleh secara alami ketika bekerja bersama orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (17/10), terdapat tujuh alasan mengapa memulai karier dengan WFH dapat berpotensi merugikan perkembangan karier, terutama pada tahap awal.

1. Kesempatan Belajar Secara Langsung Menjadi Lebih Sedikit

Salah satu cara manusia belajar adalah melalui observational learning, yaitu belajar dengan mengamati perilaku orang lain.

Karyawan baru biasanya tidak hanya belajar dari pelatihan formal. Mereka belajar dengan memperhatikan bagaimana senior berbicara dengan atasan, bagaimana seseorang menangani klien yang sulit, bagaimana rekan kerja menyampaikan pendapat dalam rapat, hingga bagaimana sebuah masalah diselesaikan ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.

Banyak pembelajaran tersebut terjadi secara tidak sengaja.

Misalnya, seorang karyawan junior duduk di dekat seniornya. Ia mendengar bagaimana senior tersebut menerima kritik dari manajer. Ia melihat bagaimana senior menyusun argumen ketika terjadi perbedaan pendapat. Ia juga mungkin bertanya secara spontan ketika melihat sesuatu yang belum dipahami.

Dalam lingkungan kantor, proses seperti ini dapat terjadi berkali-kali dalam satu hari.

Dalam WFH, interaksi tersebut biasanya harus direncanakan.

Jika ingin bertanya, seseorang harus mengirim pesan. Jika ingin berdiskusi, perlu membuat panggilan. Jika ingin mengetahui bagaimana senior menyelesaikan sebuah masalah, informasi tersebut mungkin tidak pernah terlihat karena hanya komunikasi formal yang terjadi.

Akibatnya, karyawan baru dapat mengalami apa yang bisa disebut sebagai learning gap.

Ia tetap mengerjakan tugas, tetapi kehilangan sebagian proses belajar yang biasanya terjadi di sekitar tugas tersebut.

Inilah salah satu risiko terbesar WFH pada awal karier: seseorang mungkin menjadi cukup baik dalam melakukan pekerjaan yang diberikan, tetapi lebih lambat dalam memahami bagaimana menjadi seorang profesional.

2. Networking Profesional Bisa Berkembang Lebih Lambat

Karier tidak hanya dibangun dari kemampuan teknis.

Dalam banyak lingkungan kerja, peluang juga muncul karena orang lain mengenal kemampuan kita, mempercayai kita, dan mengingat kontribusi kita.

Inilah alasan mengapa networking memiliki peran penting dalam perkembangan karier.

Di kantor, networking tidak selalu terjadi melalui acara formal. Bahkan, sebagian besar hubungan profesional justru terbentuk dari interaksi kecil.

Makan siang bersama.

Mengobrol sebelum rapat.

Bertanya kepada rekan kerja.

Bertemu seseorang dari divisi lain di lorong.

Membantu menyelesaikan masalah kecil.

Ikut dalam percakapan informal.

Interaksi sederhana tersebut secara perlahan membuat seseorang menjadi lebih dikenal oleh organisasi.

Sebaliknya, WFH cenderung membuat komunikasi lebih terfragmentasi. Seorang karyawan dapat bekerja selama berbulan-bulan hanya berinteraksi dengan beberapa orang yang memang terlibat langsung dalam pekerjaannya.

Masalahnya bukan sekadar jumlah interaksi yang berkurang.

Kualitas hubungan juga dapat berubah.

Hubungan profesional yang kuat biasanya membutuhkan interaksi berulang, konteks sosial, dan pengalaman bersama. Ketika sebagian besar komunikasi hanya berupa pesan singkat dan rapat daring, hubungan tersebut bisa menjadi lebih transaksional.

Seseorang mungkin dikenal sebagai "orang yang mengerjakan laporan X", tetapi belum tentu dikenal sebagai individu yang kompeten, dapat dipercaya, kreatif, atau cocok memimpin proyek.

Dalam jangka panjang, perbedaan ini bisa memengaruhi siapa yang pertama kali dipikirkan ketika muncul peluang baru.

3. Perkembangan Keterampilan Komunikasi Bisa Lebih Lambat

Kemampuan komunikasi adalah salah satu modal terpenting dalam karier.

Sayangnya, komunikasi profesional tidak hanya berarti mampu menulis email atau berbicara dalam rapat Zoom.

Ada banyak keterampilan sosial yang dipelajari melalui pengalaman langsung.

Contohnya:

membaca ekspresi wajah lawan bicara,

memahami kapan harus berbicara,

mengetahui kapan harus diam,

menangkap perubahan suasana dalam rapat,

menyampaikan kritik tanpa menyinggung,

bernegosiasi,

menghadapi konflik,

berbicara dengan orang yang memiliki jabatan lebih tinggi,

membangun hubungan dengan orang yang berbeda karakter.

Keterampilan seperti ini sebagian besar bersifat kontekstual.

Artinya, seseorang tidak cukup hanya mempelajari teorinya. Ia harus mengalami berbagai situasi sosial secara berulang.

Karyawan yang sejak awal bekerja sepenuhnya dari rumah mungkin memiliki lebih sedikit kesempatan untuk berlatih dalam situasi tersebut.

Misalnya, komunikasi melalui chat cenderung membuat pesan lebih langsung dan terstruktur. Namun komunikasi tatap muka memiliki berbagai sinyal tambahan seperti intonasi, ekspresi wajah, gestur, dan jeda.

Semua informasi tersebut membantu manusia memahami maksud orang lain.

Ketika kesempatan berinteraksi langsung berkurang, kemampuan membaca konteks sosial juga berpotensi berkembang lebih lambat.

Hal ini menjadi semakin penting ketika seseorang mulai naik ke posisi yang membutuhkan kepemimpinan.

Semakin tinggi posisi seseorang, biasanya semakin sedikit pekerjaannya yang hanya membutuhkan kemampuan teknis dan semakin besar tuntutan untuk mempengaruhi, bernegosiasi, meyakinkan, dan memimpin orang lain.

4. Batas Antara "Bekerja" dan "Tidak Bekerja" Bisa Menjadi Kabur

WFH memberikan fleksibilitas, tetapi fleksibilitas juga membutuhkan kemampuan self-regulation yang tinggi.

Di kantor, lingkungan fisik memberikan sinyal psikologis yang jelas.

Ketika seseorang berangkat ke kantor, otaknya mendapatkan konteks bahwa sekarang adalah waktu bekerja.

Ketika pulang, konteks tersebut berubah.

Rumah menjadi tempat beristirahat.

Dalam WFH, dua lingkungan tersebut menyatu.

Tempat tidur dapat berada hanya beberapa meter dari meja kerja. Laptop yang digunakan untuk bekerja juga berada di ruangan yang sama dengan tempat bersantai.

Akibatnya, batas psikologis antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat menjadi lebih sulit dibangun.

Bagi pekerja berpengalaman, masalah ini mungkin bisa diatasi dengan rutinitas dan disiplin.

Namun bagi orang yang baru memulai karier, kemampuan mengatur diri masih berkembang.

Ada dua risiko yang berlawanan.

Pertama, seseorang menjadi mudah terdistraksi.

Notifikasi media sosial, pekerjaan rumah, keluarga, makanan, hiburan, atau aktivitas lain dapat mengganggu fokus.

Kedua, seseorang justru bekerja terlalu lama.

Karena kantor tidak pernah benar-benar "ditinggalkan", pekerjaan dapat terus terasa belum selesai.

Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat meningkatkan kelelahan dan mengganggu pemulihan psikologis.

Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar produktivitas.

Kemampuan membangun batas kerja juga merupakan keterampilan profesional.

5. Rasa Percaya Diri Profesional Bisa Berkembang Lebih Lambat

Memulai karier sering kali membuat seseorang merasa tidak yakin.

Apakah saya cukup pintar?

Apakah pekerjaan saya benar?

Bagaimana cara berbicara dengan atasan?

Apakah orang lain menganggap saya kompeten?

Dalam psikologi, pengalaman berhasil menyelesaikan sesuatu merupakan salah satu sumber penting bagi perkembangan self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan tugas tertentu.

Lingkungan kerja yang memberikan banyak kesempatan untuk mendapatkan umpan balik dapat membantu membangun keyakinan tersebut.

Misalnya, seorang junior menyelesaikan presentasi, kemudian senior memberikan masukan secara langsung.

Pada kesempatan berikutnya, ia melakukan presentasi lagi.

Lalu ia mendapatkan pengalaman bahwa dirinya ternyata mampu memperbaiki kesalahan.

Pengalaman berulang semacam ini membangun rasa kompeten.

Dalam WFH, feedback tetap dapat diberikan, tetapi frekuensinya kadang lebih rendah atau lebih formal.

Seorang atasan mungkin hanya memberikan evaluasi ketika rapat mingguan atau melalui pesan.

Akibatnya, karyawan baru dapat lebih sulit mengetahui apakah performanya sudah sesuai harapan.

Ironisnya, orang yang sebenarnya bekerja dengan baik dapat merasa tidak kompeten karena kurangnya sinyal sosial mengenai performanya.

Jika perasaan tersebut berlangsung lama, seseorang bisa menjadi terlalu takut mengambil inisiatif.

Padahal keberanian mengambil tanggung jawab baru merupakan salah satu faktor yang membantu perkembangan karier.

6. Visibilitas Kerja Dapat Menjadi Lebih Rendah

Ini merupakan salah satu masalah yang sering dibicarakan dalam konteks pekerjaan jarak jauh.

Ada perbedaan antara bekerja keras dan terlihat bekerja keras.

Idealnya, organisasi menilai karyawan berdasarkan hasil. Namun manusia tetap merupakan makhluk sosial, sehingga persepsi terhadap seseorang dapat dipengaruhi oleh seberapa sering orang tersebut berinteraksi dengan kita.

Ketika bekerja di kantor, kontribusi seseorang dapat terlihat dalam berbagai bentuk.

Seorang manajer mungkin melihat bahwa karyawan tertentu selalu membantu anggota tim lain.

Seorang senior mungkin mendengar ide yang disampaikan junior dalam diskusi.

Rekan dari departemen lain mungkin mengetahui kemampuan seseorang karena pernah bekerja sama secara langsung.

Semua itu membentuk reputasi profesional.

Dalam WFH, banyak kontribusi tersebut menjadi kurang terlihat.

Seorang karyawan bisa bekerja selama delapan jam dan menghasilkan pekerjaan yang sangat baik, tetapi jika komunikasi hanya terjadi melalui beberapa pesan dan satu rapat, orang lain mungkin tidak memiliki banyak kesempatan untuk memahami kapasitasnya.

Hal ini menjadi penting ketika organisasi mulai mencari kandidat untuk:

promosi,

proyek strategis,

posisi kepemimpinan,

pekerjaan lintas departemen,

atau tanggung jawab yang lebih besar.

Jika seseorang tidak memiliki visibilitas yang cukup, kemampuannya bisa saja kurang dikenal.

Tentu, ini bukan berarti seseorang harus "cari muka".

Yang dibutuhkan adalah komunikasi kontribusi secara sehat.

Namun pekerja yang baru memulai karier mungkin belum mengetahui bagaimana cara melakukan hal tersebut.

7. Masa Awal Karier Seharusnya Menjadi Masa Eksplorasi, Bukan Hanya Masa Produksi

Alasan terakhir mungkin yang paling penting.

Karier awal bukan hanya tentang menghasilkan output.

Karier awal adalah periode ketika seseorang sedang membentuk identitas profesional.

Ia mulai mengetahui:

"Bidang apa yang sebenarnya saya sukai?"

"Bagaimana cara saya bekerja?"

"Apakah saya cocok menjadi pemimpin?"

"Apakah saya lebih menikmati pekerjaan kreatif atau analitis?"

"Bagaimana saya menghadapi konflik?"

"Bagaimana saya bekerja dalam sebuah tim?"

"Orang seperti apa yang ingin saya jadikan mentor?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih mudah dijawab ketika seseorang mendapatkan banyak pengalaman.

Lingkungan kantor secara alami memberikan paparan terhadap berbagai macam orang, pekerjaan, konflik, budaya organisasi, dan gaya kepemimpinan.

Seorang junior mungkin awalnya bekerja sebagai analis, tetapi kemudian tertarik pada manajemen proyek setelah melihat bagaimana seorang project manager bekerja.

Atau seseorang yang awalnya ingin menjadi programmer menyadari bahwa dirinya ternyata lebih menikmati berkomunikasi dengan klien dan kemudian berpindah ke product management.

Eksplorasi seperti ini membutuhkan exposure.

Jika seseorang bekerja dari rumah dengan lingkup pekerjaan yang sangat sempit, ia mungkin memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melihat kemungkinan karier di luar tugasnya.

Risikonya adalah seseorang menjadi sangat nyaman dalam satu pola kerja tanpa pernah mengetahui apakah ada kemampuan lain yang sebenarnya dapat berkembang lebih jauh.

Jadi, Apakah WFH Buruk untuk Karier?

Tidak.

Kesimpulan bahwa "WFH pasti merusak karier" akan terlalu sederhana.

WFH justru dapat memberikan banyak keuntungan.

Seseorang bisa menghemat waktu perjalanan, memiliki fleksibilitas lebih tinggi, mendapatkan lingkungan kerja yang lebih nyaman, dan bahkan memiliki kesempatan bekerja untuk perusahaan internasional tanpa harus pindah kota atau negara.

Masalah utamanya bukan WFH versus bekerja di kantor.

Masalahnya adalah apa yang hilang ketika WFH dilakukan pada tahap perkembangan karier yang membutuhkan banyak pembelajaran sosial.

Bagi pekerja senior yang sudah memiliki jaringan, reputasi, kemampuan komunikasi, dan pengalaman profesional yang kuat, WFH mungkin tidak menjadi masalah besar.

Namun bagi seseorang yang baru lulus kuliah atau baru memasuki dunia kerja, kebutuhan psikologisnya berbeda.

Ia membutuhkan:

observasi + feedback + networking + mentoring + exposure + pengalaman sosial + kesempatan mencoba.

Jika semua kebutuhan tersebut tetap dapat dipenuhi melalui sistem kerja jarak jauh, maka risiko WFH dapat diminimalkan.

Sebaliknya, jika WFH membuat seorang junior hanya menerima tugas melalui aplikasi, mengerjakannya sendirian, mengirim hasil, lalu menunggu tugas berikutnya, perkembangan kariernya berpotensi menjadi lebih lambat.

Cara Menghindari Kerugian Karier Jika Harus WFH

Jika pekerjaan pertama Anda adalah WFH, tidak berarti Anda harus meninggalkannya.

Anda dapat secara sengaja menciptakan pengalaman yang biasanya muncul secara alami di kantor.

1. Cari mentor

Jangan hanya mengandalkan atasan formal.

Cari seseorang yang lebih berpengalaman dan bersedia berdiskusi secara rutin mengenai pekerjaan dan perkembangan karier.

2. Jadwalkan percakapan informal

Tidak semua komunikasi harus berhubungan dengan pekerjaan.

Sesekali berbicaralah dengan rekan kerja mengenai pengalaman mereka, industri, atau perkembangan karier.

3. Minta feedback secara aktif

Jangan menunggu evaluasi tahunan.

Tanyakan:

"Bagian mana dari pekerjaan saya yang menurut Anda sudah baik?"

"Hal apa yang perlu saya tingkatkan?"

"Jika saya ingin naik ke level berikutnya, kemampuan apa yang perlu saya bangun?"

4. Cari kesempatan bertemu langsung jika memungkinkan

Jika perusahaan sesekali mengadakan pertemuan fisik, manfaatkan kesempatan tersebut.

Interaksi tatap muka yang jarang justru bisa menjadi sangat berharga.

5. Bangun visibilitas dengan cara yang sehat

Bagikan perkembangan proyek, hasil pekerjaan, dan kontribusi Anda secara profesional.

Bukan untuk mencari perhatian, tetapi agar orang yang tepat mengetahui kontribusi Anda.

6. Perbanyak interaksi lintas tim

Jangan hanya mengenal orang yang berada di tim sendiri.

Berinteraksilah dengan orang dari departemen lain ketika ada kesempatan.

Jaringan yang luas dapat membantu Anda memahami organisasi secara lebih menyeluruh.

7. Tetapkan rutinitas kerja yang jelas

Buat batas antara waktu bekerja dan waktu pribadi.

Misalnya, memiliki jam mulai dan selesai kerja yang konsisten serta ruang khusus untuk bekerja.

Penutup

Memulai karier dengan WFH bukanlah kesalahan.

Namun, dari perspektif psikologi perkembangan karier, ada alasan untuk berhati-hati.

Masa awal karier merupakan periode ketika seseorang tidak hanya mengumpulkan pengalaman teknis, tetapi juga membangun modal sosial, identitas profesional, self-efficacy, kemampuan komunikasi, jaringan, dan reputasi.

Sebagian proses tersebut dapat terjadi secara alami ketika seseorang bekerja bersama orang lain secara langsung.

WFH menghilangkan sebagian kesempatan tersebut—bukan karena bekerja dari rumah secara intrinsik buruk, tetapi karena lingkungan virtual membutuhkan usaha yang lebih disengaja untuk menciptakan pengalaman sosial dan pembelajaran yang sebelumnya terjadi secara spontan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:

"Apakah WFH buruk untuk karier?"

Melainkan:

"Apakah sistem WFH yang saya jalani memberi saya cukup kesempatan untuk belajar, berinteraksi, mendapatkan feedback, membangun jaringan, dan terlihat oleh orang yang tepat?"

Jika jawabannya ya, WFH dapat menjadi awal karier yang sangat baik.

Namun jika jawabannya tidak, kenyamanan bekerja dari rumah bisa memiliki harga yang tidak langsung terlihat: perkembangan karier yang lebih lambat.

Dan justru karena konsekuensinya tidak selalu terlihat dalam beberapa bulan pertama, pekerja muda perlu menyadarinya sejak awal.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore