seseorang yang merasa memiliki masalah mental. (Magnific)
Namun, ada fenomena lain yang juga semakin sering terlihat: sebagian anak mulai meyakini bahwa dirinya memiliki masalah mental hanya karena mengalami emosi atau perilaku tertentu yang sebenarnya dapat muncul secara normal dalam proses perkembangan.
Seorang anak yang mudah menangis mungkin menyimpulkan dirinya depresi. Anak yang merasa gugup ketika harus berbicara di depan kelas mungkin menganggap dirinya mengalami gangguan kecemasan. Anak yang sulit berkonsentrasi ketika belajar mungkin langsung berpikir bahwa dirinya memiliki ADHD. Sementara itu, anak yang sedang mengalami perubahan suasana hati dapat menganggap dirinya memiliki gangguan psikologis tertentu.
Tentu saja, kondisi tersebut tidak berarti bahwa masalah kesehatan mental pada anak tidak nyata. Gangguan mental memang dapat terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja, dan sebagian anak membutuhkan bantuan profesional. Persoalannya adalah perbedaan antara mengalami gejala tertentu dan memenuhi kriteria suatu gangguan psikologis.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (27/8), psikologi memandang perilaku manusia secara lebih kompleks. Satu perilaku saja biasanya tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan mental. Psikolog atau tenaga profesional perlu mempertimbangkan durasi, intensitas, konteks, perkembangan anak, lingkungan keluarga dan sekolah, serta sejauh mana kondisi tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari.
Lalu, mengapa banyak anak dapat sampai meyakini bahwa mereka memiliki masalah mental?
1. Paparan Informasi Kesehatan Mental di Media Sosial
Salah satu faktor terbesar adalah semakin mudahnya anak menemukan informasi psikologi di media sosial.
TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform lainnya dipenuhi konten yang membahas kesehatan mental. Banyak konten tersebut sebenarnya memiliki tujuan positif: meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, dan mendorong orang untuk mencari pertolongan.
Masalah muncul ketika informasi yang kompleks disederhanakan menjadi daftar ciri yang sangat umum.
Misalnya, sebuah video mengatakan bahwa seseorang mungkin mengalami kecemasan jika sering berpikir berlebihan, sulit tidur, merasa takut, atau merasa tidak nyaman berada di tengah banyak orang.
Anak yang mengalami beberapa hal tersebut dapat dengan mudah berpikir, "Berarti aku punya anxiety."
Padahal, rasa takut, khawatir, sulit tidur sesekali, atau merasa gugup merupakan pengalaman manusia yang sangat umum. Hal tersebut belum tentu menunjukkan adanya gangguan kecemasan.
Media sosial juga cenderung menggunakan format yang sangat mudah dikonsumsi. Pernyataan seperti "5 tanda kamu mengalami..." atau "Jika kamu sering melakukan ini, mungkin kamu..." membuat persoalan psikologis yang sebenarnya rumit terlihat sederhana.
Dalam psikologi klinis, diagnosis tidak ditentukan hanya berdasarkan satu atau dua karakteristik. Konteks sangat penting.
Seorang anak yang merasa gugup sebelum ujian, misalnya, belum tentu mengalami gangguan kecemasan. Rasa gugup bisa menjadi respons normal terhadap situasi yang dianggap penting.
Namun, ketika anak terus-menerus mengalami kecemasan yang intens, sulit mengendalikannya, dan kondisi tersebut secara signifikan mengganggu sekolah, hubungan sosial, tidur, atau aktivitas sehari-hari, barulah diperlukan perhatian lebih lanjut.
Dengan kata lain, memiliki suatu gejala tidak selalu berarti memiliki suatu gangguan.
2. Anak Sedang Berusaha Memahami Perasaan yang Sulit Dijelaskan
Alasan kedua berkaitan dengan perkembangan psikologis anak dan remaja.
Masa kanak-kanak dan remaja merupakan periode ketika seseorang sedang belajar mengenali dan memberi nama pada berbagai emosi. Mereka dapat mengalami rasa sedih, marah, takut, malu, kecewa, kesepian, cemas, atau frustrasi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk memahami penyebab dan kompleksitas perasaan tersebut.
Ketika menemukan istilah psikologi yang terasa cocok, mereka dapat menggunakannya sebagai cara untuk menjelaskan pengalaman dirinya.
Misalnya, seorang remaja berkata:
"Aku bukan malas. Aku depresi."
Atau:
"Aku bukan pemalu. Aku punya social anxiety."
Pernyataan tersebut tidak selalu berarti anak sengaja mencari perhatian. Bisa jadi ia sedang mencoba memahami dirinya sendiri.
Label psikologis dapat memberikan rasa lega karena membantu seseorang memberikan nama terhadap pengalaman yang sebelumnya terasa membingungkan.
Bayangkan seorang anak yang selama berbulan-bulan merasa sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai. Ketika ia membaca tentang depresi, ia mungkin merasa, "Akhirnya aku tahu apa yang terjadi padaku."
Perasaan seperti ini dapat dimengerti.
Namun, label yang ditemukan sendiri belum tentu merupakan penjelasan yang tepat. Gejala yang sama dapat memiliki banyak kemungkinan penyebab. Kesulitan berkonsentrasi, misalnya, dapat berkaitan dengan kurang tidur, tekanan akademik, konflik keluarga, stres, kecemasan, perubahan lingkungan, atau berbagai faktor lainnya.
Karena itu, kemampuan mengenali perasaan penting, tetapi kesimpulan mengenai diagnosis membutuhkan evaluasi yang lebih menyeluruh.
3. Pengaruh Teman Sebaya dan Keinginan untuk Merasa "Sama"
Pada masa pertumbuhan, hubungan dengan teman sebaya memiliki pengaruh besar terhadap cara anak melihat dirinya.
Anak dan remaja sering membandingkan dirinya dengan kelompok sosial di sekitarnya. Mereka ingin diterima, dipahami, dan merasa menjadi bagian dari suatu kelompok.
Ketika pembicaraan mengenai kesehatan mental menjadi populer di lingkungan pertemanan, istilah-istilah psikologis dapat menjadi bagian dari bahasa sehari-hari.
Teman mengatakan:
"Aku anxiety banget."
"Aku ADHD banget."
"Aku trauma."
"Aku depresi."
Lama-kelamaan, anak lain dapat mulai menggunakan istilah yang sama untuk menggambarkan pengalaman mereka sendiri.
Fenomena ini tidak selalu buruk. Membicarakan kesehatan mental secara terbuka justru dapat membantu mengurangi stigma.
Namun, ada risiko ketika istilah klinis digunakan terlalu luas untuk menjelaskan pengalaman sehari-hari.
Misalnya, seseorang yang tidak menyukai keramaian dapat mengatakan dirinya "social anxiety". Seseorang yang mudah terdistraksi saat belajar dapat menganggap dirinya "ADHD". Anak yang merasa sedih setelah bertengkar dengan teman mungkin menyebut dirinya "depresi".
Penggunaan istilah seperti ini dapat membuat anak mencampurkan antara pengalaman emosional normal dengan kondisi psikologis yang membutuhkan diagnosis profesional.
Di sisi lain, anak juga dapat merasa bahwa memiliki masalah mental membuatnya lebih mudah mendapatkan penerimaan dari kelompok tertentu.
Bukan berarti anak berpura-pura. Identitas dan pemahaman diri pada masa perkembangan memang masih sangat dinamis. Apa yang dipercaya seorang anak mengenai dirinya hari ini dapat berubah ketika ia memperoleh pengalaman dan pemahaman baru.
4. Anak Menggunakan Label Mental untuk Menjelaskan Perilakunya
Alasan berikutnya adalah kecenderungan manusia untuk mencari penjelasan terhadap perilakunya sendiri.
Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak ia pahami, ia biasanya ingin mengetahui penyebabnya.
Mengapa aku sulit fokus?
Mengapa aku selalu menunda pekerjaan?
Mengapa aku mudah marah?
Mengapa aku tidak percaya diri?
Mengapa aku takut bertemu orang baru?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya sangat wajar.
Namun, ketika anak menemukan satu label psikologis yang tampaknya sesuai, label tersebut dapat menjadi penjelasan yang terasa sederhana.
Misalnya, seorang anak mengalami kesulitan mengerjakan tugas sekolah. Setelah melihat konten mengenai ADHD, ia menemukan bahwa salah satu cirinya adalah sulit mempertahankan perhatian. Ia kemudian menyimpulkan bahwa dirinya memiliki ADHD.
Padahal, kesulitan konsentrasi dapat terjadi karena banyak faktor.
Anak yang kurang tidur akan lebih sulit fokus. Anak yang sedang mengalami masalah keluarga dapat kesulitan berkonsentrasi di kelas. Anak yang merasa tidak tertarik terhadap suatu pelajaran juga mungkin terlihat mudah terdistraksi.
Begitu pula dengan perilaku menunda.
Kebiasaan menunda pekerjaan tidak otomatis menunjukkan gangguan tertentu. Seseorang dapat menunda karena tugas terasa terlalu sulit, takut gagal, tidak memahami instruksi, kurang memiliki motivasi, atau belum memiliki keterampilan mengatur waktu.
Dalam psikologi, perilaku perlu dilihat dalam konteksnya.
Satu perilaku tidak dapat berdiri sendiri sebagai bukti diagnosis.
5. Tekanan Akademik dan Lingkungan Membuat Anak Merasa Ada yang "Salah" pada Dirinya
Lingkungan anak juga memiliki peran penting.
Anak yang terus-menerus mendapatkan tuntutan akademik, tekanan untuk berprestasi, konflik dengan teman, masalah keluarga, atau ekspektasi yang tinggi dapat mengalami stres.
Jika stres berlangsung cukup lama, anak mungkin mulai merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
Misalnya, seorang siswa mendapatkan nilai yang lebih rendah daripada yang diharapkan. Ia kemudian merasa kecewa, kehilangan motivasi belajar, sulit tidur sebelum ujian, dan terus memikirkan kegagalannya.
Ia mungkin kemudian berpikir:
"Kenapa aku tidak bisa seperti teman-temanku?"
"Aku pasti punya masalah mental."
Padahal, reaksi emosional terhadap tekanan tidak selalu berarti adanya gangguan psikologis.
Manusia memang memiliki respons terhadap stres. Anak juga memiliki kapasitas yang berbeda-beda dalam menghadapi tuntutan.
Namun, penting untuk tidak menggunakan gagasan "ini normal" sebagai alasan untuk mengabaikan penderitaan anak.
Ada perbedaan antara reaksi stres yang wajar dan kesulitan psikologis yang sudah berlangsung lama serta mengganggu fungsi kehidupan.
Jika seorang anak terus mengalami kesedihan, kecemasan, perubahan perilaku, masalah tidur, penurunan prestasi, menarik diri dari lingkungan sosial, atau kehilangan minat terhadap berbagai aktivitas dalam jangka waktu yang cukup lama, kondisi tersebut layak diperhatikan.
Jadi, pertanyaannya bukan sekadar "Apakah anak ini sedih atau cemas?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Seberapa berat kondisinya? Berapa lama berlangsung? Apa penyebab dan konteksnya? Dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak?
6. Anak Mendapat Respons dari Lingkungan yang Memperkuat Keyakinannya
Lingkungan sosial dapat memperkuat keyakinan anak mengenai kondisi mentalnya.
Bayangkan seorang anak berkata kepada orang tuanya:
"Aku merasa sangat cemas."
Respons orang tua yang sehat dapat berupa:
"Apa yang membuat kamu merasa cemas? Ceritakan kepada Ayah/Ibu."
Respons tersebut membuka ruang untuk memahami pengalaman anak.
Sebaliknya, apabila setiap emosi langsung diberi label tertentu, anak dapat belajar mengasosiasikan emosi biasa dengan gangguan psikologis.
Misalnya, setiap kali anak menangis, orang di sekitarnya mengatakan:
"Kamu depresi, ya?"
Ketika anak takut:
"Kamu anxiety, ya?"
Ketika anak sulit berkonsentrasi:
"Jangan-jangan kamu ADHD."
Lama-kelamaan, anak dapat menginternalisasi label tersebut.
Sebaliknya, lingkungan juga dapat melakukan hal yang berlawanan: menganggap semua keluhan mental sebagai sesuatu yang dibuat-buat.
"Kamu masih kecil, kok sudah stres?"
"Jangan lebay."
"Semua orang juga mengalami hal seperti itu."
Respons semacam ini juga bermasalah karena dapat membuat anak merasa bahwa emosinya tidak valid.
Pendekatan yang lebih sehat adalah mengakui perasaan anak tanpa buru-buru memberikan diagnosis.
Contohnya:
"Aku bisa melihat kamu sedang kesulitan. Mau cerita apa yang terjadi?"
Kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa emosinya penting tanpa membuatnya langsung melekat pada suatu label.
Apakah Berbahaya Jika Anak Menganggap Dirinya Memiliki Masalah Mental?
Tidak selalu.
Dalam beberapa kasus, keyakinan bahwa dirinya memiliki masalah mental justru dapat menjadi langkah awal untuk mencari pertolongan.
Seorang anak yang menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kesulitan mungkin menjadi lebih berani berbicara dengan orang tua, guru, konselor, psikolog, atau tenaga profesional lainnya.
Masalah muncul ketika label tersebut menjadi identitas yang terlalu kuat.
Anak mungkin mulai berpikir:
"Aku memang seperti ini."
"Aku tidak akan pernah berubah."
"Aku memang orang yang bermasalah."
"Aku tidak bisa melakukan itu karena aku punya gangguan."
Di sinilah label dapat berubah dari alat untuk memahami diri menjadi batasan terhadap diri sendiri.
Dalam psikologi, cara seseorang memandang dirinya memiliki hubungan dengan perilaku dan perkembangan identitasnya. Anak yang terus melihat dirinya sebagai "anak bermasalah" dapat semakin memperhatikan bukti yang mendukung pandangan tersebut dan mengabaikan pengalaman yang bertentangan dengannya.
Karena itu, penting untuk membedakan antara:
"Aku sedang mengalami kesulitan."
dan
"Aku adalah orang yang bermasalah."
Keduanya memiliki makna psikologis yang sangat berbeda.
Kesadaran Kesehatan Mental Tetap Penting
Membahas fenomena ini bukan berarti kita harus kembali pada masa ketika kesehatan mental dianggap tabu.
Sebaliknya, anak memang perlu mendapatkan pendidikan mengenai kesehatan mental.
Mereka perlu tahu bahwa merasa sedih itu boleh. Merasa takut itu manusiawi. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Dan gangguan mental bukan sesuatu yang memalukan.
Yang perlu diperbaiki adalah cara informasi tersebut disampaikan.
Anak sebaiknya diajarkan bahwa gejala psikologis memiliki spektrum dan konteks. Mereka juga perlu memahami bahwa internet dapat menjadi sumber informasi, tetapi bukan pengganti evaluasi profesional.
Daripada mengatakan:
"Kalau kamu melakukan lima hal ini berarti kamu depresi."
Lebih baik mengatakan:
"Beberapa pengalaman tersebut dapat muncul pada depresi, tetapi juga dapat terjadi karena berbagai alasan lain. Jika pengalaman ini menetap atau mengganggu kehidupanmu, bicarakan dengan orang dewasa tepercaya atau tenaga profesional."
Pendekatan seperti ini membantu anak menjadi sadar terhadap kesehatan mental tanpa membuat mereka terburu-buru melakukan diagnosis terhadap diri sendiri.
Kapan Orang Tua Perlu Mulai Mencari Bantuan?
Orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan label yang digunakan anak, tetapi juga perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa hal yang patut diperhatikan antara lain perubahan perilaku yang menetap, penurunan fungsi sekolah yang signifikan, perubahan pola tidur atau makan, menarik diri dari orang lain, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, kecemasan atau kesedihan yang berat dan terus berlangsung, serta kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Yang juga penting adalah mendengarkan anak tanpa langsung menghakimi atau membantah.
Jika anak berkata, "Aku merasa punya masalah mental," respons pertama tidak harus berupa "Kamu tidak apa-apa."
Respons yang lebih membantu adalah:
"Kenapa kamu merasa seperti itu?"
"Apa yang sedang kamu rasakan?"
"Sejak kapan kamu merasakan ini?"
"Apa yang membuat keadaan ini terasa sulit?"
Pertanyaan tersebut dapat membuka percakapan yang lebih bermakna.
Jika kekhawatiran tetap ada, evaluasi dari psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu membedakan antara respons perkembangan yang wajar, masalah situasional, dan kondisi yang memang membutuhkan intervensi.
Kesimpulan
Banyak anak dan remaja saat ini memiliki pemahaman yang lebih besar mengenai kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya. Ini merupakan perkembangan yang pada dasarnya positif. Namun, akses terhadap informasi psikologi yang sangat luas juga dapat membuat sebagian anak terlalu cepat memberikan label psikologis kepada dirinya sendiri.
Ada setidaknya enam faktor yang dapat menjelaskan fenomena tersebut: paparan informasi kesehatan mental di media sosial, kebutuhan untuk memahami emosi yang sulit dijelaskan, pengaruh teman sebaya, penggunaan label untuk menjelaskan perilaku, tekanan lingkungan dan akademik, serta respons lingkungan yang dapat memperkuat keyakinan anak.
Hal terpenting adalah tidak meremehkan pengalaman anak sekaligus tidak terburu-buru mendiagnosisnya.
Anak tidak harus memilih antara "aku baik-baik saja" dan "aku memiliki gangguan mental". Ada banyak kondisi di antaranya: seseorang dapat sedang mengalami stres, kesulitan beradaptasi, konflik sosial, perubahan emosi, atau masalah tertentu yang membutuhkan dukungan tanpa harus langsung memberikan label diagnosis.
Pada akhirnya, tujuan memahami kesehatan mental bukanlah membuat setiap emosi memiliki nama gangguan, melainkan membantu anak mengenali dirinya, memahami apa yang sedang dialaminya, dan mengetahui kapan ia membutuhkan dukungan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Prediksi Skor Celje vs Slovan Bratislava di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Berujung Penalti?
Prediksi Skor Lyon vs Fenerbahce di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Kans Les Gones Menang!
Kiai Ta’in Tebuireng Dipolisikan Jelang Muktamar NU, TAAT Pasang Badan
Prediksi Skor Rapid Wien vs Hearts di Play-off Liga Konferensi Eropa: Tim Tamu Dijagokan Lolos!
