seseorang yang sering mengeluh. (Magnific)
JawaPos.com - Ada masa dalam hidup ketika rasanya hampir semua hal berjalan tidak sesuai harapan.
Pekerjaan terasa melelahkan. Keuangan tidak kunjung membaik. Hubungan dengan orang lain terasa rumit. Rencana yang sudah disusun berulang kali gagal. Melihat kehidupan orang lain di media sosial pun terkadang membuat kita semakin merasa tertinggal.
Akhirnya, tanpa sadar kita lebih sering mengeluh.
“Kenapa hidup saya begini-begini saja?”
“Kenapa orang lain terlihat lebih mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan?”
“Saya sudah berusaha, tetapi kenapa hasilnya tidak berubah?”
Keluhan seperti itu sebenarnya manusiawi. Setiap orang pernah mengalaminya. Mengeluh sesekali juga bukan berarti seseorang lemah atau tidak bersyukur. Namun, masalah mulai muncul ketika keluhan menjadi pola yang terus berulang tanpa diikuti usaha untuk memahami masalah dan mengambil tindakan.
Kita mulai terbiasa membicarakan apa yang salah, tetapi lupa bertanya: “Apa yang masih bisa saya lakukan?”
Dalam psikologi, kondisi seperti ini dapat berkaitan dengan pola pikir, perhatian yang terlalu terfokus pada hal negatif, serta keyakinan bahwa diri kita tidak memiliki cukup kendali untuk mengubah keadaan.
Kabar baiknya, pola tersebut bukan sesuatu yang harus diterima selamanya.
Jika saat ini Anda sedang berada dalam fase hidup yang membuat Anda mudah mengeluh, mungkin Anda tidak membutuhkan perubahan besar dalam satu malam. Anda mungkin hanya membutuhkan beberapa langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (27/8), terdapat tujuh cara yang dapat membantu Anda mulai bergerak maju.
1. Akui bahwa Anda sedang lelah, bukan langsung menyalahkan diri sendiri
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah berhenti memusuhi diri sendiri.
Sering kali ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan, kita bukan hanya menghadapi masalah dari luar, tetapi juga memberikan tekanan tambahan kepada diri sendiri.
“Kok saya tidak bisa seperti orang lain?”
“Kenapa saya selemah ini?”
“Seharusnya saya sudah lebih sukses.”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar seperti motivasi, tetapi jika terus digunakan untuk menyalahkan diri sendiri, justru dapat memperberat beban psikologis.
Cobalah mengganti pertanyaan tersebut dengan:
“Sebenarnya apa yang sedang membuat saya lelah?”
Mungkin jawabannya adalah terlalu banyak tanggung jawab. Mungkin Anda kecewa karena harapan yang tidak tercapai. Mungkin Anda terlalu lama memendam sesuatu. Atau mungkin Anda memang membutuhkan istirahat.
Mengakui kelelahan bukan berarti menyerah.
Justru dengan mengakui kondisi diri, Anda bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Anda tidak harus selalu terlihat kuat. Ada kalanya langkah pertama untuk maju adalah mengakui bahwa Anda memang sedang tidak baik-baik saja.
2. Bedakan antara hal yang bisa Anda kendalikan dan yang tidak
Salah satu penyebab seseorang merasa semakin frustrasi adalah terlalu banyak menghabiskan energi untuk sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Anda tidak bisa mengendalikan pendapat semua orang.
Anda tidak bisa memaksa seseorang menyukai Anda.
Anda tidak bisa mengubah masa lalu.
Anda tidak bisa menentukan bagaimana orang lain memperlakukan Anda.
Anda juga tidak selalu bisa mengendalikan hasil dari setiap usaha.
Namun, ada sesuatu yang masih berada dalam wilayah kendali Anda: respons Anda terhadap keadaan tersebut.
Misalnya, Anda tidak bisa mengendalikan apakah lamaran pekerjaan diterima atau ditolak. Tetapi Anda bisa mengendalikan berapa banyak lamaran yang dikirim, bagaimana Anda memperbaiki CV, bagaimana Anda mempersiapkan wawancara, dan keterampilan apa yang ingin Anda tingkatkan.
Anda tidak bisa mengendalikan apakah seseorang menghargai Anda. Tetapi Anda bisa menentukan batasan apa yang perlu dibuat dalam hubungan tersebut.
Cobalah membagi masalah Anda menjadi dua kelompok:
Tidak bisa saya kendalikan:
Pendapat orang lain, masa lalu, hasil akhir, keputusan orang lain.
Masih bisa saya kendalikan:
Tindakan saya hari ini, cara saya berbicara kepada diri sendiri, keputusan yang saya ambil, batasan yang saya buat, dan usaha yang saya lakukan.
Perubahan perspektif ini sederhana, tetapi penting.
Daripada terus bertanya, “Mengapa ini terjadi kepada saya?”, Anda mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan dari posisi saya sekarang?”
Pertanyaan kedua jauh lebih memungkinkan Anda untuk bergerak.
3. Ubah keluhan menjadi pertanyaan yang menghasilkan tindakan
Tidak semua keluhan harus ditekan.
Terkadang keluhan justru membawa informasi penting. Ketika Anda berkata, “Saya benci pekerjaan ini,” mungkin sebenarnya ada kebutuhan yang belum terpenuhi.
Ketika Anda berkata, “Saya capek dengan hubungan ini,” mungkin ada batasan yang selama ini tidak pernah dibicarakan.
Ketika Anda berkata, “Saya bosan dengan hidup saya,” mungkin ada kebutuhan untuk mencoba sesuatu yang baru.
Karena itu, ketika muncul keluhan, jangan langsung berhenti pada keluhannya.
Tanyakan:
“Apa sebenarnya yang ingin diberitahukan oleh keluhan ini kepada saya?”
Kemudian ubah menjadi pertanyaan tindakan.
“Pekerjaan saya membuat saya stres.”
menjadi:
“Apa satu hal yang bisa saya ubah dari rutinitas pekerjaan saya minggu ini?”
“Saya tidak punya waktu untuk diri sendiri.”
menjadi:
“Aktivitas apa yang bisa saya kurangi agar memiliki 30 menit untuk diri sendiri?”
“Hidup saya tidak berkembang.”
menjadi:
“Keterampilan apa yang bisa saya mulai pelajari bulan ini?”
Dengan cara ini, keluhan tidak lagi menjadi tempat Anda berhenti.
Keluhan menjadi sinyal.
Dan setelah mendapatkan sinyal tersebut, Anda mengambil tindakan.
4. Jangan menunggu motivasi untuk mulai bergerak
Banyak orang berpikir bahwa mereka harus merasa termotivasi terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.
Padahal, dalam banyak situasi, hubungan antara motivasi dan tindakan tidak selalu berjalan seperti itu.
Sering kali kita justru mendapatkan motivasi setelah mulai bertindak.
Bayangkan Anda sedang tidak bersemangat untuk berolahraga. Jika Anda menunggu sampai merasa sangat termotivasi, mungkin Anda tidak akan pernah mulai.
Namun, jika Anda mengenakan sepatu dan berjalan selama lima menit, Anda sudah menciptakan momentum.
Hal yang sama berlaku untuk banyak aspek kehidupan.
Tidak perlu langsung memperbaiki seluruh hidup Anda.
Mulailah dengan satu tugas.
Rapikan meja.
Kirim satu lamaran.
Baca lima halaman buku.
Berjalan selama sepuluh menit.
Membalas satu pesan penting.
Menyelesaikan satu pekerjaan yang selama ini ditunda.
Tindakan kecil dapat memberikan pengalaman bahwa “Saya masih bisa melakukan sesuatu.”
Perasaan memiliki kendali tersebut dapat menjadi bahan bakar untuk melakukan langkah berikutnya.
Jangan meremehkan kemajuan kecil hanya karena belum menghasilkan perubahan besar.
Seseorang tidak selalu keluar dari fase sulit dengan satu lompatan besar.
Terkadang ia keluar dengan melakukan satu hal kecil setiap hari.
5. Kurangi kebiasaan membandingkan hidup Anda dengan orang lain
Salah satu bahan bakar terbesar bagi rasa tidak puas adalah perbandingan sosial.
Anda melihat seseorang membeli rumah.
Orang lain menikah.
Teman Anda mendapatkan promosi.
Orang lain memulai bisnis.
Ada yang bepergian ke berbagai tempat.
Kemudian Anda melihat kehidupan sendiri dan berpikir:
“Saya masih di sini.”
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan kita yang sebenarnya dengan versi kehidupan orang lain yang terlihat dari luar.
Kita melihat hasilnya, tetapi tidak melihat seluruh prosesnya.
Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak melihat kegagalannya.
Kita melihat senyumnya, tetapi tidak mengetahui masalah yang mungkin sedang dihadapinya.
Karena itu, sesekali tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah saya benar-benar menginginkan kehidupan itu, atau saya hanya merasa tertinggal karena melihat orang lain memilikinya?”
Pertanyaan ini penting.
Sebab bisa saja Anda sebenarnya tidak membutuhkan kehidupan orang lain.
Anda hanya membutuhkan kehidupan yang lebih sesuai dengan nilai dan kebutuhan Anda sendiri.
Daripada bertanya, “Mengapa saya belum seperti dia?”, cobalah bertanya:
“Apakah saya hari ini sedikit lebih baik daripada diri saya beberapa bulan yang lalu?”
Perbandingan dengan diri sendiri sering kali jauh lebih sehat daripada terus mengukur hidup berdasarkan pencapaian orang lain.
6. Berhenti menunggu hidup menjadi sempurna
Ada jebakan psikologis yang sering tidak disadari: kita merasa baru boleh bahagia setelah masalah selesai.
“Nanti saya akan tenang kalau sudah punya uang.”
“Nanti saya akan bahagia kalau sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”
“Nanti saya akan menikmati hidup kalau semuanya sudah beres.”
Masalahnya, kehidupan hampir tidak pernah benar-benar bebas dari masalah.
Satu persoalan selesai, persoalan lain mungkin muncul.
Jika kebahagiaan selalu ditunda sampai seluruh keadaan sempurna, kita berisiko melewatkan kehidupan yang sedang berlangsung sekarang.
Bukan berarti Anda harus berpura-pura bahagia ketika sedang menghadapi masalah.
Artinya, Anda tetap memberi ruang untuk hal-hal kecil yang menyenangkan meskipun hidup belum sempurna.
Makan makanan yang Anda sukai.
Berbicara dengan orang yang membuat Anda nyaman.
Berjalan di luar rumah.
Mendengarkan musik.
Membaca.
Beristirahat tanpa merasa bersalah.
Menikmati secangkir kopi.
Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang berarti.
Hal-hal tersebut mungkin tidak menyelesaikan masalah utama Anda.
Tetapi hidup bukan hanya tentang menyelesaikan masalah.
Hidup juga tentang mengalami momen-momen kecil yang membuat perjalanan terasa layak dijalani.
7. Buat satu langkah kecil yang bisa dilakukan hari ini
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Jangan hanya membaca, merasa terinspirasi selama beberapa menit, lalu kembali ke rutinitas yang sama.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Setelah membaca ini, apa satu hal yang bisa saya lakukan hari ini?”
Bukan sepuluh hal.
Bukan perubahan hidup yang spektakuler.
Satu saja.
Jika Anda sedang bermasalah dengan pekerjaan, mungkin hari ini Anda memperbarui CV.
Jika Anda merasa terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial, mungkin Anda mengurangi penggunaannya selama satu jam.
Jika Anda merasa tubuh terlalu lelah, mungkin Anda tidur lebih awal malam ini.
Jika hubungan tertentu membuat Anda terus terbebani, mungkin Anda mulai memikirkan batasan yang perlu dibuat.
Jika Anda merasa hidup stagnan, mungkin Anda mulai belajar sesuatu selama 20 menit.
Tujuannya bukan membuat hidup langsung berubah.
Tujuannya adalah memutus siklus mengeluh → merasa tidak berdaya → tidak melakukan apa-apa → semakin frustrasi.
Gantilah dengan:
menyadari → memilih → bertindak → mengevaluasi → memperbaiki.
Siklus kecil tersebut, jika dilakukan berulang kali, dapat membawa Anda jauh lebih maju daripada sekadar menunggu keadaan berubah.
Anda Tidak Harus Menyelesaikan Semuanya Hari Ini
Jika saat ini Anda sedang berada dalam fase hidup yang membuat Anda banyak mengeluh, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidup Anda gagal.
Mungkin Anda sedang lelah.
Mungkin Anda sedang kecewa.
Mungkin ada sesuatu yang perlu diubah.
Mungkin Anda terlalu lama bertahan dalam situasi yang sebenarnya sudah tidak sesuai dengan kebutuhan Anda.
Atau mungkin Anda hanya sedang berada dalam salah satu fase sulit yang hampir setiap manusia pernah alami.
Yang penting adalah jangan menjadikan fase tersebut sebagai identitas.
“Saya sedang mengalami masa sulit” berbeda dengan “hidup saya memang selalu seperti ini.”
Kalimat pertama membuka kemungkinan perubahan.
Kalimat kedua menutupnya.
Anda tidak perlu mengetahui seluruh jalan untuk mulai melangkah.
Anda hanya perlu mengetahui langkah berikutnya.
Jadi, ketika keluhan kembali muncul hari ini, berhentilah sejenak dan tanyakan:
“Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan?”
“Apa yang berada dalam kendali saya?”
“Apa satu tindakan kecil yang bisa saya lakukan sekarang?”
Mungkin masalah Anda tidak langsung hilang.
Namun, perlahan Anda akan berpindah dari posisi sebagai seseorang yang hanya bereaksi terhadap keadaan menjadi seseorang yang mulai mengambil kembali kendali atas hidupnya.
Dan terkadang, melangkah maju bukan berarti hidup tiba-tiba menjadi mudah.
Melangkah maju berarti Anda tidak lagi membiarkan keadaan yang sulit menentukan seluruh arah hidup Anda.
Satu langkah kecil hari ini mungkin terlihat tidak berarti.
Tetapi jika Anda terus melangkah, suatu hari nanti Anda akan menoleh ke belakang dan menyadari:
ternyata Anda sudah berjalan cukup jauh.***
***