Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03.29 WIB

Jika Anda Ingin Meningkatkan Daya Berpikir Kritis Si Kecil, Ucapkan 7 Kalimat Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha meningkatkan daya pikir kritis anaknya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Kemampuan berpikir kritis tidak muncul begitu saja ketika seorang anak tumbuh dewasa. Kemampuan tersebut mulai dibentuk sejak anak terbiasa bertanya, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, mengemukakan alasan, serta memahami bahwa sebuah persoalan tidak selalu memiliki satu jawaban yang mutlak.


Karena itu, peran orang tua bukan hanya memberikan jawaban ketika anak bertanya. Lebih penting lagi, orang tua perlu menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk berpikir, bertanya, berbeda pendapat, bahkan melakukan kesalahan.

Dalam psikologi perkembangan anak, kebiasaan orang tua dalam berkomunikasi dapat memengaruhi cara anak memproses informasi dan menyelesaikan masalah. Anak yang sering diajak berdiskusi dan diminta menjelaskan alasan di balik pemikirannya akan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk melatih kemampuan penalarannya.

Menariknya, orang tua tidak harus memberikan pelajaran khusus tentang logika atau berpikir kritis. Percakapan sederhana sehari-hari pun dapat menjadi latihan yang sangat berharga.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (21/8), terdapat tujuh kalimat yang dapat digunakan orang tua untuk membantu menumbuhkan daya berpikir kritis pada anak.

1. “Menurut kamu, kenapa hal itu bisa terjadi?”

Ini adalah salah satu pertanyaan sederhana yang dapat mengubah cara anak melihat sebuah peristiwa.

Ketika anak mengatakan, “Kenapa hujan turun?” atau “Kenapa temanku tidak mau bermain denganku?”, orang tua mungkin tergoda untuk langsung memberikan jawaban. Namun, sebelum menjawab, cobalah mengembalikan pertanyaan tersebut kepada anak.

“Menurut kamu, kenapa hal itu bisa terjadi?”

Pertanyaan ini mendorong anak untuk berhenti sejenak dan menyusun pemikirannya sendiri. Anak belajar bahwa ketika menghadapi suatu masalah, ia tidak selalu harus menunggu orang dewasa memberikan jawaban.

Misalnya, ketika mainan anak tiba-tiba tidak berfungsi, orang tua dapat berkata, “Menurut kamu, kenapa mainan ini tidak menyala?”

Anak mungkin menjawab, “Baterainya habis.”

Orang tua kemudian dapat melanjutkan, “Apa yang membuat kamu berpikir begitu?”

Percakapan sederhana tersebut sebenarnya sedang melatih proses penalaran: mengamati masalah, membuat dugaan, lalu memberikan alasan.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan menjadikan pertanyaan ini sebagai ujian. Tujuannya bukan untuk mencari jawaban yang benar secepat mungkin, tetapi membantu anak terbiasa memikirkan alasan di balik sesuatu.

2. “Apa alasan kamu berpikir seperti itu?”

Anak tentu memiliki pendapat. Namun, kemampuan berpikir kritis bukan sekadar kemampuan memiliki pendapat.

Anak juga perlu belajar menjelaskan mengapa ia memiliki pendapat tersebut.

Karena itu, daripada langsung mengatakan “Kamu salah,” orang tua dapat bertanya:

“Apa alasan kamu berpikir seperti itu?”

Kalimat ini memberi pesan bahwa pemikiran anak layak didengarkan.

Misalnya, anak berkata, “Aku tidak suka sekolah karena sekolah membosankan.”

Daripada langsung menjawab, “Jangan bilang begitu, sekolah itu penting,” orang tua dapat bertanya:

“Apa yang membuat kamu merasa sekolah membosankan?”

Anak mungkin kemudian menjelaskan bahwa ia tidak menyukai pelajaran tertentu, merasa kesulitan mengikuti materi, atau sedang memiliki masalah dengan teman.

Dengan demikian, orang tua tidak hanya mendapatkan jawaban, tetapi juga membantu anak belajar menguraikan pemikirannya.

Dalam jangka panjang, kebiasaan menjelaskan alasan dapat membantu anak membedakan antara “saya merasa demikian” dan “saya mempunyai alasan mengapa saya berpikir demikian.”

Keduanya penting, tetapi tidak selalu sama.

3. “Apakah ada kemungkinan lain?”

Anak sering melihat dunia dari sudut pandang yang sangat sederhana. Jika seseorang tidak mengajaknya bermain, misalnya, anak mungkin langsung menyimpulkan, “Dia tidak suka aku.”

Padahal, ada banyak kemungkinan lain.

Mungkin temannya sedang lelah. Mungkin ia sedang ingin bermain sendiri. Mungkin ia tidak mendengar ajakan tersebut. Atau mungkin memang sedang terjadi konflik.

Pada situasi seperti ini, orang tua dapat berkata:

“Apakah ada kemungkinan lain?”

Pertanyaan tersebut membantu anak memahami bahwa satu kejadian dapat memiliki lebih dari satu penjelasan.

Ini merupakan bagian penting dari berpikir kritis karena anak belajar untuk tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Orang tua bahkan dapat membuat permainan sederhana. Ketika membaca cerita bersama, tanyakan:

“Menurutmu, apa yang mungkin terjadi selanjutnya?”

“Atau, apakah ada kemungkinan lain?”

Anak kemudian belajar menghasilkan beberapa kemungkinan, bukan hanya menerima satu alur pemikiran.

Kemampuan seperti ini juga berguna ketika anak semakin besar. Ia akan lebih terbiasa mempertimbangkan perspektif orang lain sebelum mengambil kesimpulan.

4. “Bagaimana kamu bisa mengetahui bahwa itu benar?”

Di era ketika anak semakin mudah memperoleh informasi dari internet, media sosial, video, dan berbagai sumber digital, kemampuan memeriksa informasi menjadi semakin penting.

Anak dapat mendengar sesuatu dari teman dan langsung menganggapnya sebagai fakta. Ia juga dapat melihat sebuah video dan menganggap semua yang ada di dalamnya pasti benar.

Orang tua dapat mulai mengajarkan kebiasaan memeriksa informasi melalui pertanyaan sederhana:

“Bagaimana kamu bisa mengetahui bahwa itu benar?”

Pertanyaan ini bukan berarti orang tua harus selalu mencurigai semua informasi. Tujuannya adalah mengajarkan anak bahwa sebuah klaim sebaiknya memiliki dasar.

Misalnya, anak berkata, “Katanya minum air dingin bikin sakit.”

Daripada hanya berkata “Itu salah,” orang tua dapat bertanya:

“Siapa yang mengatakan itu?”

“Menurutmu, bagaimana kita bisa mengetahui apakah informasi tersebut benar?”

Dengan pendekatan seperti ini, anak mulai mengenal konsep sumber informasi, bukti, dan verifikasi.

Semakin sering dilakukan dengan cara yang sesuai usia, semakin terbiasa anak untuk tidak langsung percaya hanya karena seseorang mengatakan sesuatu dengan yakin.

5. “Kalau kamu berada di posisi dia, bagaimana menurutmu?”

Berpikir kritis tidak hanya berkaitan dengan fakta dan logika. Anak juga perlu belajar memahami perspektif yang berbeda.

Karena itu, pertanyaan seperti:

“Kalau kamu berada di posisi dia, bagaimana menurutmu?”

dapat menjadi latihan yang sangat baik.

Misalnya, anak sedang kesal karena guru memberikan tugas tambahan. Orang tua dapat mengajaknya melihat situasi dari sudut pandang lain:

“Kalau kamu menjadi guru, menurutmu apa alasan guru memberikan tugas itu?”

Pertanyaan ini tidak berarti orang tua harus membenarkan tindakan orang lain. Anak hanya diajak memahami bahwa setiap orang dapat memiliki informasi, kebutuhan, dan sudut pandang yang berbeda.

Kemampuan melihat persoalan dari beberapa perspektif dapat membantu anak menjadi lebih fleksibel dalam berpikir.

Ia tidak terburu-buru menganggap bahwa dirinya selalu benar dan orang lain selalu salah.

6. “Apa yang bisa kita lakukan untuk mencari tahu?”

Ini adalah kalimat yang sangat berguna ketika orang tua tidak mengetahui jawabannya.

Banyak orang tua merasa harus selalu memiliki jawaban ketika anak bertanya. Padahal, mengatakan “Ayah/Ibu tidak tahu” bukanlah tanda kegagalan.

Justru, orang tua dapat melanjutkannya dengan:

“Apa yang bisa kita lakukan untuk mencari tahu?”

Kalimat ini mengajarkan bahwa tidak mengetahui sesuatu adalah bagian normal dari proses belajar.

Misalnya anak bertanya tentang hewan yang belum pernah dilihatnya. Orang tua tidak harus langsung memberikan penjelasan panjang.

Orang tua dapat berkata:

“Ibu juga belum tahu pasti. Menurut kamu, bagaimana kita bisa mencari tahu?”

Anak kemudian dapat diajak mencari buku, mengamati gambar, bertanya kepada orang yang lebih memahami, atau menggunakan sumber informasi yang terpercaya.

Dengan demikian, anak belajar bahwa pengetahuan bukan hanya sesuatu yang diberikan oleh orang lain. Pengetahuan juga dapat diperoleh melalui proses mencari, membandingkan, mengamati, dan mengevaluasi.

7. “Apa yang kamu pelajari dari kesalahan itu?”

Kesalahan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari. Padahal, dalam proses belajar, kesalahan dapat menjadi sumber informasi yang sangat berharga.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua mungkin spontan berkata:

“Kan sudah Mama bilang.”

Namun, kalimat tersebut biasanya tidak banyak membantu anak memahami proses berpikirnya.

Cobalah menggantinya dengan:

“Apa yang kamu pelajari dari kesalahan itu?”

Pertanyaan tersebut mengubah fokus dari menyalahkan menjadi belajar.

Misalnya anak gagal membuat sesuatu karena tidak mengikuti instruksi. Orang tua dapat membantunya mengevaluasi:

“Bagian mana yang menurutmu membuat hasilnya berbeda?”

“Kalau dicoba lagi, apa yang akan kamu lakukan dengan cara berbeda?”

Dengan begitu, anak belajar melakukan refleksi.

Ia memahami bahwa kegagalan tidak selalu berarti “aku tidak mampu”. Kegagalan dapat berarti “ada sesuatu yang perlu diperbaiki dari cara yang aku lakukan.”

Jangan Terlalu Cepat Memberikan Jawaban

Salah satu tantangan terbesar dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak adalah keinginan orang tua untuk segera memberikan solusi.

Ketika anak bertanya, orang tua langsung menjawab.

Ketika anak mengalami masalah, orang tua langsung menyelesaikannya.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua langsung memperbaikinya.

Padahal, jika dilakukan terus-menerus, anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengalami proses berpikir secara mandiri.

Bukan berarti orang tua harus selalu membiarkan anak mencari jawaban sendiri.

Pada usia tertentu, anak tetap membutuhkan penjelasan, arahan, dan bantuan. Namun, orang tua dapat memberikan ruang berpikir sebelum memberikan jawaban.

Misalnya:

“Menurut kamu bagaimana?”

“Coba kita pikirkan bersama.”

“Apa pilihan yang kamu punya?”

“Mana yang menurutmu paling baik? Kenapa?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membuat percakapan sehari-hari menjadi kesempatan belajar.

Berpikir Kritis Bukan Berarti Anak Harus Sering Membantah

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Anak yang berpikir kritis bukan berarti anak yang selalu membantah orang tua.

Berpikir kritis berarti anak belajar mengevaluasi informasi, mempertimbangkan bukti, memahami alasan, melihat berbagai perspektif, serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang masuk akal.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak mematikan pertanyaan anak hanya karena pertanyaannya terasa merepotkan.

Ketika anak bertanya “Kenapa?”, mungkin memang melelahkan jika pertanyaan itu muncul berkali-kali.

Namun, di balik pertanyaan tersebut terdapat rasa ingin tahu.

Daripada selalu berkata, “Sudah, pokoknya begitu,” orang tua dapat sesekali mengajak anak mencari jawabannya bersama.

Tentu saja, orang tua juga perlu menetapkan batas. Anak tidak harus mempertanyakan setiap aturan keluarga. Beberapa aturan memang dibuat demi keselamatan dan belum dapat dinegosiasikan.

Namun, untuk banyak situasi sehari-hari, ruang berdiskusi dapat membantu anak membangun kebiasaan berpikir.

Yang Terpenting Bukan Kalimatnya, Melainkan Cara Mengucapkannya

Tujuh kalimat tersebut akan lebih efektif jika disampaikan dengan rasa ingin tahu, bukan dengan nada menginterogasi.

Bandingkan:

“Kenapa kamu melakukan itu? Coba jelaskan!”

dengan:

“Menurut kamu, apa yang membuat kamu memilih melakukan itu?”

Pesannya mungkin serupa, tetapi suasananya berbeda.

Anak yang merasa dihakimi cenderung lebih fokus mempertahankan diri. Sebaliknya, anak yang merasa aman untuk mengemukakan pendapat akan lebih mungkin mengeksplorasi pikirannya.

Karena itu, orang tua tidak perlu menjadikan percakapan sebagai tes kecerdasan.

Tidak masalah jika jawaban anak belum tepat.

Tidak masalah jika pemikirannya masih sederhana.

Yang penting adalah anak mendapatkan kesempatan untuk berpikir, menjelaskan, mempertimbangkan, dan memperbaiki pemahamannya.

Pada Akhirnya, Ajarkan Anak Cara Berpikir, Bukan Hanya Apa yang Harus Dipikirkan

Anak akan terus bertemu dengan persoalan baru sepanjang hidupnya.

Orang tua tidak mungkin memberikan jawaban untuk setiap masalah yang akan dihadapinya.

Itulah sebabnya kemampuan berpikir menjadi bekal yang sangat penting.

Ketika orang tua bertanya, “Menurut kamu, kenapa?”, anak belajar mencari sebab.

Ketika orang tua bertanya, “Apa alasan kamu?”, anak belajar memberikan dasar bagi pendapatnya.

Ketika orang tua berkata, “Apakah ada kemungkinan lain?”, anak belajar mempertimbangkan alternatif.

Ketika orang tua bertanya, “Bagaimana kamu tahu itu benar?”, anak belajar mengevaluasi informasi.

Ketika orang tua berkata, “Kalau kamu berada di posisi dia?”, anak belajar melihat perspektif lain.

Ketika orang tua bertanya, “Bagaimana kita bisa mencari tahu?”, anak belajar menjadi pembelajar yang mandiri.

Dan ketika orang tua bertanya, “Apa yang kamu pelajari dari kesalahan itu?”, anak belajar bahwa pengalaman dapat menjadi bahan untuk berkembang.

Pada akhirnya, tujuan membangun daya berpikir kritis bukan membuat anak selalu memiliki jawaban yang benar. Tujuannya adalah membantu anak menjadi seseorang yang mau bertanya, mampu mempertimbangkan, berani mengakui ketika tidak tahu, dan bersedia mengubah pikirannya ketika menemukan informasi yang lebih baik.

Kebiasaan-kebiasaan kecil dalam percakapan sehari-hari itulah yang perlahan dapat membentuk cara anak memahami dunia.

Dan sering kali, pendidikan berpikir kritis tidak dimulai dari buku pelajaran yang rumit, melainkan dari satu pertanyaan sederhana yang diucapkan orang tua dengan sabar:

“Menurut kamu, bagaimana?”***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore