Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 01.44 WIB

Jika Anda dan Pasangan Ingin Saling Melengkapi, Lakukan 8 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang saling melengkapi dengan pasangannya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Hubungan yang sehat bukan tentang menemukan seseorang yang memiliki sifat, pemikiran, dan kebiasaan yang sama persis dengan kita. Justru, dalam banyak hubungan yang bertahan lama, dua orang dapat memiliki perbedaan karakter tetapi mampu belajar menyesuaikan diri, memahami kebutuhan masing-masing, dan bekerja sebagai sebuah tim.


Saling melengkapi juga bukan berarti satu orang harus selalu mengalah sementara yang lain selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Saling melengkapi berarti memahami bahwa setiap orang memiliki kekuatan, kelemahan, kebutuhan emosional, cara berkomunikasi, serta cara menghadapi masalah yang berbeda.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (21/8), dalam perspektif psikologi hubungan, pasangan yang sehat bukan pasangan yang tidak pernah bertengkar. Mereka adalah pasangan yang mampu menghadapi perbedaan tanpa menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk saling merendahkan atau menyakiti.

Jika Anda dan pasangan benar-benar ingin tumbuh bersama dan saling melengkapi, berikut delapan cara yang dapat dilakukan.

1. Kenali Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing

Saling melengkapi dimulai dari kesadaran bahwa Anda dan pasangan adalah dua individu yang berbeda.

Mungkin Anda lebih tenang ketika menghadapi masalah, sementara pasangan lebih berani mengambil keputusan. Anda mungkin lebih teratur dalam mengelola keuangan, sedangkan pasangan lebih kreatif dalam mencari peluang. Anda mungkin pandai mengungkapkan perasaan, sementara pasangan membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami dan menyampaikan emosinya.

Perbedaan seperti ini tidak selalu menjadi masalah.

Justru, ketika dikelola dengan baik, perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan dalam hubungan.

Daripada berpikir, "Mengapa dia tidak seperti saya?", cobalah mengubahnya menjadi, "Apa yang bisa saya pelajari dari dirinya?"

Begitu pula sebaliknya.

Hubungan akan terasa lebih sehat ketika pasangan tidak berusaha mengubah satu sama lain menjadi versi yang sama, tetapi belajar memanfaatkan kelebihan masing-masing.

Namun, mengenali kekurangan pasangan bukan berarti mencari kelemahannya untuk digunakan saat bertengkar. Kekurangan harus dipahami sebagai bagian dari manusia yang dapat dibicarakan dan dikelola bersama.

2. Berhenti Menganggap Perbedaan sebagai Ancaman

Salah satu sumber konflik dalam hubungan adalah kecenderungan menganggap perbedaan sebagai tanda bahwa hubungan tersebut tidak cocok.

Padahal, pasangan dapat berbeda dalam banyak hal: kepribadian, kebiasaan, cara berkomunikasi, cara menghabiskan waktu, hingga cara menunjukkan kasih sayang.

Misalnya, satu orang merasa dicintai ketika mendapatkan perhatian dan percakapan panjang. Sementara pasangannya menunjukkan kasih sayang dengan membantu pekerjaan, memberikan solusi, atau memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi.

Jika keduanya tidak memahami perbedaan tersebut, masing-masing bisa merasa tidak dicintai.

Padahal masalah sebenarnya bukan kurangnya cinta, melainkan perbedaan cara mengekspresikannya.

Karena itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa pasangan tidak peduli hanya karena ia menunjukkan kasih sayang dengan cara yang berbeda dari Anda.

Cobalah bertanya:

"Kalau kamu sedang merasa dicintai, biasanya kamu membutuhkan apa?"

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membuka percakapan yang jauh lebih sehat daripada saling menebak.

3. Belajar Berkomunikasi tentang Kebutuhan, Bukan Menuntut

Saling melengkapi tidak akan berjalan jika masing-masing berharap pasangannya bisa membaca pikiran.

Tidak sedikit konflik muncul karena seseorang berharap pasangannya memahami apa yang ia butuhkan tanpa pernah mengatakannya.

Ketika harapan itu tidak terpenuhi, muncullah kekecewaan.

Padahal pasangan mungkin benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya diharapkan.

Daripada mengatakan:

"Kamu memang tidak pernah mengerti aku."

Lebih baik katakan:

"Aku sedang membutuhkan dukunganmu. Aku ingin kamu mendengarkan dulu sebelum memberikan solusi."

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.

Kalimat pertama menyerang karakter pasangan. Kalimat kedua menjelaskan kebutuhan.

Dalam hubungan yang sehat, komunikasi bukan sekadar berbicara lebih banyak. Komunikasi berarti mampu menyampaikan kebutuhan dengan jelas tanpa merendahkan atau menyalahkan pasangan.

4. Berikan Ruang untuk Saling Bertumbuh

Mencintai seseorang bukan berarti menguasai seluruh hidupnya.

Pasangan tetap membutuhkan ruang untuk berkembang sebagai individu.

Ia mungkin memiliki pekerjaan, hobi, pertemanan, impian, atau tujuan pribadi yang ingin dicapai. Begitu pula Anda.

Hubungan yang sehat seharusnya menjadi tempat seseorang berkembang, bukan tempat ia kehilangan dirinya sendiri.

Karena itu, dukung pasangan ketika ia ingin belajar sesuatu yang baru, mengejar tujuan karier, mengembangkan kemampuan, atau melakukan aktivitas yang positif.

Tentu saja, kebebasan dalam hubungan tetap membutuhkan batas dan kesepakatan. Memberikan ruang bukan berarti tidak peduli. Begitu pula kedekatan bukan berarti harus selalu bersama.

Pasangan yang saling melengkapi memahami bahwa kehidupan bersama terdiri dari dua individu yang memilih untuk berjalan berdampingan, bukan dua orang yang harus kehilangan identitas masing-masing.

5. Belajar Menjadi Pendengar yang Baik

Banyak orang mendengar hanya untuk menunggu giliran berbicara.

Ketika pasangan bercerita tentang masalahnya, kita langsung memikirkan solusi. Ketika pasangan mengeluh, kita buru-buru membandingkannya dengan pengalaman sendiri. Ketika pasangan menyampaikan perasaan, kita langsung menjelaskan mengapa perasaannya tidak masuk akal.

Padahal, terkadang seseorang tidak membutuhkan solusi.

Ia hanya ingin merasa didengar.

Cobalah memberikan perhatian penuh ketika pasangan berbicara. Letakkan sejenak ponsel, jangan langsung memotong pembicaraan, dan jangan buru-buru memberikan penilaian.

Anda bisa mengatakan:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."

Atau:

"Jadi, yang paling membuat kamu berat adalah bagian itu, ya?"

Respons seperti ini menunjukkan bahwa Anda berusaha memahami, bukan sekadar menunggu kesempatan untuk menjawab.

Kemampuan mendengarkan sering kali menjadi salah satu fondasi penting dalam hubungan karena membuat pasangan merasa aman untuk terbuka.

6. Hadapi Masalah sebagai "Kita Melawan Masalah", Bukan "Aku Melawan Kamu"

Ketika konflik terjadi, pasangan mudah berubah menjadi dua kubu.

Satu pihak ingin membuktikan dirinya benar. Pihak lain ingin menunjukkan bahwa pasangannya yang salah.

Akhirnya, tujuan menyelesaikan masalah berubah menjadi memenangkan pertengkaran.

Padahal, dalam hubungan jangka panjang, kemenangan satu orang sering kali bukan kemenangan hubungan.

Cobalah mengubah cara pandang.

Bukan:

"Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa dia salah?"

Melainkan:

"Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini tanpa merusak hubungan?"

Perubahan perspektif ini sangat penting.

Anda dan pasangan berada dalam tim yang sama. Masalahnya adalah sesuatu yang perlu dihadapi bersama.

Misalnya, jika persoalannya adalah keuangan, jangan menjadikan pasangan sebagai musuh. Duduk bersama dan cari tahu apa penyebab masalah, apa yang dapat diperbaiki, dan apa kesepakatan yang bisa dibuat.

Jika masalahnya adalah komunikasi, jangan hanya mencari siapa yang paling bersalah. Cari pola komunikasi apa yang membuat konflik terus berulang.

Dengan begitu, konflik dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan.

7. Belajar Memberi dan Menerima Dukungan

Saling melengkapi bukan berarti satu orang selalu menjadi pihak yang kuat.

Ada masa ketika Anda menjadi orang yang lebih tenang dan pasangan sedang kesulitan.

Namun, ada pula masa ketika Anda yang membutuhkan bantuan sementara pasangan menjadi tempat bersandar.

Hubungan yang sehat memungkinkan peran tersebut berubah secara alami.

Jangan merasa harus selalu terlihat kuat di depan pasangan. Mengakui bahwa Anda sedang lelah, bingung, takut, atau membutuhkan bantuan bukan berarti Anda lemah.

Begitu pula ketika pasangan sedang mengalami masa sulit, jangan langsung menghakiminya karena tidak sekuat biasanya.

Tanyakan:

"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu?"

Pertanyaan tersebut memberikan ruang kepada pasangan untuk menyampaikan kebutuhannya.

Terkadang ia membutuhkan solusi. Terkadang ia hanya membutuhkan pelukan. Terkadang ia membutuhkan waktu sendiri. Dan terkadang ia membutuhkan seseorang yang duduk di sampingnya tanpa banyak bicara.

Memahami bentuk dukungan yang dibutuhkan pasangan adalah bagian penting dari proses saling melengkapi.

8. Bangun Kebiasaan untuk Mengevaluasi Hubungan

Hubungan yang sehat tidak berjalan secara otomatis.

Seiring waktu, kebutuhan seseorang dapat berubah. Prioritas berubah. Pekerjaan berubah. Kondisi keluarga berubah. Cara seseorang melihat kehidupan juga dapat berkembang.

Karena itu, pasangan perlu sesekali mengevaluasi hubungan mereka.

Bukan hanya ketika sedang bertengkar.

Anda dapat meluangkan waktu untuk membicarakan beberapa pertanyaan sederhana:

"Menurutmu, apa yang sudah berjalan baik dalam hubungan kita?"

"Apa yang akhir-akhir ini membuatmu merasa kurang nyaman?"

"Apa yang bisa aku lakukan agar hubungan kita lebih baik?"

"Apakah ada sesuatu yang selama ini kamu butuhkan tetapi belum pernah kamu sampaikan?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu pasangan memahami perubahan yang terjadi dalam hubungan.

Jangan menunggu masalah menjadi besar baru mulai berbicara.

Sering kali, masalah kecil yang dibicarakan lebih awal jauh lebih mudah diselesaikan daripada kekecewaan yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun.

Saling Melengkapi Bukan Berarti Saling Menutupi Kesalahan

Ada satu hal penting yang perlu dipahami.

Saling melengkapi bukan berarti Anda harus menerima semua perilaku pasangan atas nama cinta.

Ada perbedaan antara menerima kekurangan manusiawi dan mentoleransi perilaku yang merusak.

Pasangan mungkin memiliki kebiasaan yang berbeda dari Anda. Ia mungkin lebih pendiam, lebih spontan, lebih sensitif, atau lebih membutuhkan waktu sendiri.

Hal-hal seperti itu dapat dipahami dan dinegosiasikan.

Namun, perilaku seperti penghinaan terus-menerus, manipulasi, intimidasi, kekerasan, perselingkuhan berulang, atau kontrol berlebihan bukan sesuatu yang harus diterima hanya karena ingin mempertahankan hubungan.

Hubungan yang sehat tetap membutuhkan batas.

Saling melengkapi berarti membantu satu sama lain menjadi lebih baik, bukan membenarkan perilaku yang menyakiti.

Pada Akhirnya, Hubungan yang Sehat Dibangun oleh Dua Orang yang Mau Belajar

Tidak ada pasangan yang selalu cocok dalam segala hal.

Bahkan pasangan yang sangat mencintai satu sama lain tetap dapat memiliki perbedaan pendapat, kebutuhan, kebiasaan, dan cara menghadapi masalah.

Yang membedakan hubungan yang sehat dan tidak sehat sering kali bukan ada atau tidaknya konflik, tetapi bagaimana konflik tersebut dihadapi.

Jika Anda dan pasangan ingin saling melengkapi, mulailah dengan mengenali perbedaan, berkomunikasi dengan jujur, mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan ruang untuk berkembang, saling mendukung, serta menghadapi masalah sebagai satu tim.

Yang paling penting, jangan menjadikan hubungan sebagai tempat untuk mencari seseorang yang sempurna.

Carilah seseorang yang bersedia belajar bersama Anda.

Karena pada akhirnya, saling melengkapi bukan tentang menemukan dua orang yang sempurna.

Saling melengkapi adalah tentang dua orang yang tidak sempurna, tetapi sama-sama bersedia memahami, menghargai, memperbaiki diri, dan tumbuh bersama.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore