Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 01.26 WIB

CC - 7 Perilaku dari Orang Narsis yang Tidak Boleh Ditoleransi Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang tidak menoleransi sikap orang narsis. (Magnific) - Image

seseorang yang tidak menoleransi sikap orang narsis. (Magnific)

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah berhadapan dengan seseorang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian, sulit menerima kritik, merasa dirinya paling benar, atau terus-menerus membutuhkan pengakuan dari orang lain. Pada tingkat tertentu, sifat seperti percaya diri, ingin dihargai, atau ingin mendapatkan perhatian adalah hal yang manusiawi.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika perilaku tersebut dilakukan secara berulang, merugikan orang lain, dan membuat hubungan terasa tidak sehat.

Istilah “narsis” juga perlu digunakan dengan hati-hati. Dalam percakapan sehari-hari, narsis sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sangat mementingkan dirinya sendiri. Dalam psikologi klinis, Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah kondisi yang jauh lebih spesifik dan membutuhkan penilaian profesional. Jadi, kita tidak bisa mendiagnosis seseorang hanya karena ia egois, percaya diri, atau sesekali mencari perhatian.

Yang lebih penting adalah mengenali perilaku yang merusak, terutama ketika perilaku tersebut terus-menerus membuat kita kehilangan batas, harga diri, ketenangan, atau rasa aman.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (21/8), terdapat tujuh perilaku yang sebaiknya tidak dianggap normal atau terus-menerus ditoleransi dalam sebuah hubungan.

1. Merendahkan orang lain untuk membuat dirinya terlihat lebih tinggi

Salah satu perilaku yang patut diwaspadai adalah kebiasaan merendahkan orang lain.

Orang dengan kecenderungan narsistik dapat berusaha mempertahankan citra dirinya dengan membuat orang lain terlihat lebih rendah. Bentuknya bisa sangat terang-terangan, seperti menghina kemampuan, pekerjaan, penampilan, atau pendidikan seseorang.

Namun, terkadang perilaku ini muncul secara lebih halus.

Misalnya:

“Ah, kamu saja tidak mampu melakukan hal sederhana seperti itu.”

“Atasanmu memuji kamu? Mungkin dia sedang berbaik hati.”

“Kalau aku berada di posisimu, masalah seperti itu tidak akan terjadi.”

Jika dilakukan sesekali dalam konteks bercanda dan kedua pihak merasa nyaman, tentu tidak otomatis berarti seseorang narsis. Tetapi apabila penghinaan menjadi pola yang terus berulang, terutama ketika dilakukan untuk membuat seseorang merasa tidak berharga, hal tersebut tidak layak dinormalisasi.

Secara psikologis, hubungan yang sehat tidak membutuhkan satu orang menjadi “lebih tinggi” dengan cara menjatuhkan orang lain.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore