
seseorang yang tidak menoleransi sikap orang narsis. (Magnific)
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah berhadapan dengan seseorang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian, sulit menerima kritik, merasa dirinya paling benar, atau terus-menerus membutuhkan pengakuan dari orang lain. Pada tingkat tertentu, sifat seperti percaya diri, ingin dihargai, atau ingin mendapatkan perhatian adalah hal yang manusiawi.
Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika perilaku tersebut dilakukan secara berulang, merugikan orang lain, dan membuat hubungan terasa tidak sehat.
Istilah “narsis” juga perlu digunakan dengan hati-hati. Dalam percakapan sehari-hari, narsis sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sangat mementingkan dirinya sendiri. Dalam psikologi klinis, Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah kondisi yang jauh lebih spesifik dan membutuhkan penilaian profesional. Jadi, kita tidak bisa mendiagnosis seseorang hanya karena ia egois, percaya diri, atau sesekali mencari perhatian.
Yang lebih penting adalah mengenali perilaku yang merusak, terutama ketika perilaku tersebut terus-menerus membuat kita kehilangan batas, harga diri, ketenangan, atau rasa aman.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (21/8), terdapat tujuh perilaku yang sebaiknya tidak dianggap normal atau terus-menerus ditoleransi dalam sebuah hubungan.
1. Merendahkan orang lain untuk membuat dirinya terlihat lebih tinggi
Salah satu perilaku yang patut diwaspadai adalah kebiasaan merendahkan orang lain.
Orang dengan kecenderungan narsistik dapat berusaha mempertahankan citra dirinya dengan membuat orang lain terlihat lebih rendah. Bentuknya bisa sangat terang-terangan, seperti menghina kemampuan, pekerjaan, penampilan, atau pendidikan seseorang.
Namun, terkadang perilaku ini muncul secara lebih halus.
Misalnya:
“Ah, kamu saja tidak mampu melakukan hal sederhana seperti itu.”
“Atasanmu memuji kamu? Mungkin dia sedang berbaik hati.”
“Kalau aku berada di posisimu, masalah seperti itu tidak akan terjadi.”
Jika dilakukan sesekali dalam konteks bercanda dan kedua pihak merasa nyaman, tentu tidak otomatis berarti seseorang narsis. Tetapi apabila penghinaan menjadi pola yang terus berulang, terutama ketika dilakukan untuk membuat seseorang merasa tidak berharga, hal tersebut tidak layak dinormalisasi.
Secara psikologis, hubungan yang sehat tidak membutuhkan satu orang menjadi “lebih tinggi” dengan cara menjatuhkan orang lain.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Alaves: Momentum Tuan Rumah Bangkit!
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
