Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 Juli 2026 | 19.56 WIB

8 Alasan Mengapa Orang-Orang Narsis Berpikir Bahwa Unggahan Media Sosial Mereka Selalu Disukai Menurut Psikologi

seseorang yang sering mengunggah banyak hal di media sosial / foto: Magnific/tirachardz

 

JawaPos.com - Media sosial telah menjadi panggung bagi setiap orang untuk berbagi pengalaman, pencapaian, hingga opini pribadi. Namun, bagi sebagian individu dengan kecenderungan narsistik, media sosial bukan sekadar tempat berbagi, melainkan sarana untuk memperoleh pengakuan dan validasi dari orang lain. Mereka sering kali percaya bahwa hampir semua unggahan mereka disukai, dikagumi, dan menjadi pusat perhatian banyak orang.

Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan berbagai bias kognitif, kebutuhan akan validasi eksternal, serta karakteristik kepribadian narsistik. Penting dipahami bahwa tidak semua orang yang gemar mengunggah foto di media sosial memiliki gangguan kepribadian narsistik. Spektrum narsisme bervariasi, mulai dari sifat narsistik ringan hingga kondisi klinis yang dikenal sebagai Narcissistic Personality Disorder (NPD).

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (21/7), terdapat delapan alasan utama mengapa orang-orang dengan kecenderungan narsistik percaya bahwa unggahan media sosial mereka selalu disukai.

1. Mereka Memiliki Kebutuhan Besar Akan Validasi Eksternal

Salah satu ciri paling menonjol dari individu narsistik adalah kebutuhan yang tinggi terhadap pengakuan dari lingkungan. Harga diri mereka sering kali bergantung pada respons orang lain.

Ketika mereka mengunggah foto, video, atau pencapaian pribadi, mereka berharap memperoleh:

Banyak "Like"
Komentar positif
Pujian
Jumlah penonton yang tinggi

Setiap bentuk interaksi dianggap sebagai bukti bahwa mereka memang layak dikagumi.

Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai external validation, yaitu kondisi ketika seseorang menggantungkan rasa percaya dirinya pada penilaian orang lain, bukan pada penerimaan diri sendiri.

2. Mereka Mengalami Self-Enhancement Bias

Self-enhancement bias adalah kecenderungan seseorang untuk melihat dirinya lebih positif dibandingkan kenyataan.

Individu narsistik biasanya meyakini bahwa mereka:

lebih menarik,
lebih sukses,
lebih cerdas,
lebih penting,
lebih populer

dibandingkan kebanyakan orang.

Akibatnya, mereka juga percaya bahwa unggahan mereka pasti lebih menarik daripada unggahan orang lain.

Bahkan ketika jumlah interaksi biasa saja, mereka tetap merasa kontennya sebenarnya luar biasa dan hanya "belum cukup banyak orang yang melihat."

3. Mereka Menganggap Diam Sebagai Bentuk Kekaguman

Dalam banyak kasus, orang narsistik tidak selalu membutuhkan komentar positif secara langsung.

Jika seseorang hanya melihat unggahan tanpa memberikan komentar, mereka dapat menafsirkannya sebagai:

iri,
kagum,
malu memberikan pujian,
diam-diam mengagumi.

Fenomena ini disebut sebagai confirmation bias, yaitu kecenderungan hanya menerima informasi yang mendukung keyakinan pribadi sambil mengabaikan bukti yang bertentangan.

4. Algoritma Media Sosial Memperkuat Keyakinan Mereka

Platform media sosial memang dirancang untuk menampilkan metrik seperti:

jumlah Like,
komentar,
jumlah tayangan,
jumlah pengikut.

Bagi individu narsistik, angka-angka tersebut menjadi "bukti" bahwa mereka populer.

Padahal, algoritma media sosial tidak selalu mencerminkan tingkat kesukaan seseorang terhadap konten. Banyak faktor yang memengaruhi jangkauan suatu unggahan, seperti waktu publikasi, interaksi awal, dan sistem rekomendasi platform.

Namun, individu narsistik cenderung mengartikan peningkatan jangkauan sebagai bukti bahwa semua orang menyukai mereka.

5. Mereka Sulit Menerima Kritik

Salah satu karakteristik narsisme adalah sensitivitas yang tinggi terhadap kritik.

Ketika menerima komentar negatif, mereka sering kali:

menghapus komentar tersebut,
memblokir pengkritik,
menganggap kritik berasal dari orang yang iri,
mencari pembenaran atas dirinya.

Dengan menghilangkan sumber kritik, lingkungan digital mereka menjadi dipenuhi komentar positif, sehingga semakin memperkuat keyakinan bahwa unggahan mereka memang disukai semua orang.

Fenomena ini disebut sebagai echo chamber, yaitu situasi ketika seseorang hanya terpapar informasi yang menguatkan pandangannya sendiri.

6. Mereka Memusatkan Dunia Sosial Pada Diri Sendiri

Psikologi mengenal konsep egosentrisme, yaitu kecenderungan melihat dunia dari sudut pandang diri sendiri.

Pada individu narsistik, egosentrisme sering kali lebih kuat sehingga mereka menganggap dirinya sebagai pusat perhatian.

Misalnya, ketika mengunggah foto liburan, mereka berpikir:

semua teman melihatnya,
banyak orang membicarakannya,
semua pengikut memperhatikan aktivitas mereka.

Padahal, sebagian besar pengguna media sosial hanya melihat sekilas sebelum melanjutkan menggulir linimasa.

7. Mereka Menghubungkan Popularitas Dengan Nilai Diri

Bagi banyak orang, media sosial hanyalah sarana komunikasi.

Namun bagi individu narsistik, media sosial menjadi ukuran harga diri.

Semakin tinggi:

jumlah Like,
jumlah komentar,
jumlah pengikut,

semakin besar pula keyakinan bahwa mereka merupakan pribadi yang sukses dan penting.

Sebaliknya, ketika unggahan sepi respons, mereka dapat mengalami:

frustrasi,
marah,
cemas,
bahkan mengunggah konten baru demi memperoleh perhatian kembali.

Hal ini menunjukkan bahwa rasa percaya diri mereka sangat dipengaruhi oleh penerimaan sosial secara daring.

8. Mereka Mengalami "Illusion of Audience"

Dalam psikologi terdapat konsep imaginary audience, yaitu keyakinan bahwa banyak orang selalu memperhatikan diri kita.

Pada individu narsistik, fenomena ini dapat muncul lebih kuat sehingga mereka merasa:

semua orang melihat unggahan mereka,
semua orang mengingat foto mereka,
semua orang membicarakan kehidupan mereka.

Padahal, penelitian mengenai perilaku pengguna media sosial menunjukkan bahwa mayoritas pengguna hanya menghabiskan beberapa detik untuk melihat sebuah unggahan sebelum berpindah ke konten berikutnya.

Dengan kata lain, perhatian orang lain sering kali jauh lebih singkat daripada yang dibayangkan oleh individu narsistik.

Apakah Semua Orang yang Aktif di Media Sosial Bersifat Narsis?

Tentu tidak.

Mengunggah foto liburan, pencapaian kerja, atau momen bersama keluarga adalah perilaku yang umum dan tidak otomatis menunjukkan sifat narsistik.

Psikolog biasanya melihat kombinasi beberapa karakteristik berikut sebelum menyimpulkan adanya kecenderungan narsistik:

kebutuhan yang berlebihan akan pujian,
rasa diri yang sangat superior,
kurangnya empati terhadap orang lain,
sulit menerima kritik,
kecenderungan mengeksploitasi hubungan demi kepentingan pribadi,
haus akan perhatian dan pengakuan secara terus-menerus.

Dengan demikian, intensitas penggunaan media sosial saja tidak cukup untuk menilai kepribadian seseorang.

Kesimpulan

Kepercayaan bahwa unggahan media sosial selalu disukai bukan semata-mata muncul karena banyaknya jumlah "Like" atau komentar. Dalam perspektif psikologi, keyakinan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai mekanisme mental seperti kebutuhan akan validasi eksternal, self-enhancement bias, confirmation bias, egosentrisme, hingga ilusi bahwa diri sendiri selalu menjadi pusat perhatian.

Meski demikian, penting untuk menghindari memberi label "narsis" hanya berdasarkan aktivitas seseorang di media sosial. Diagnosis gangguan kepribadian narsistik hanya dapat ditegakkan oleh profesional kesehatan mental melalui evaluasi yang menyeluruh. Bagi kebanyakan orang, media sosial hanyalah salah satu cara untuk berbagi pengalaman, bukan cerminan langsung dari kondisi psikologis atau kepribadian mereka.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore