Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Agustus 2026 | 00.22 WIB

6 Alasan Mengapa Pandangan Politik Dapat Membuat Seseorang Mengabaikan Nilai-Nilai yang Dianut

seseorang yang nilainya terpengaruh oleh pandangan politik / foto: Magnific/stockking

 

JawaPos.com - Politik bukan sekadar persoalan memilih calon pemimpin, mendukung partai tertentu, atau memiliki pandangan berbeda mengenai kebijakan publik. Bagi banyak orang, politik dapat menjadi bagian dari identitas diri. Seseorang bisa merasa bahwa kelompok politik tertentu mewakili nilai, harapan, bahkan gambaran tentang siapa dirinya.

Masalah muncul ketika keterikatan terhadap pandangan politik menjadi begitu kuat sehingga seseorang mulai membenarkan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini ia pegang.

Orang yang sebelumnya menjunjung tinggi kejujuran mungkin membela kebohongan dari tokoh politik yang ia dukung. Orang yang biasanya menolak penghinaan bisa memaklumi penghinaan ketika dilakukan oleh kelompoknya sendiri. Seseorang yang dahulu mengutamakan keadilan dapat tiba-tiba mencari alasan untuk membenarkan perlakuan tidak adil terhadap pihak yang dianggap sebagai lawan politik.

Fenomena semacam ini bukan berarti setiap orang yang memiliki pandangan politik tertentu pasti kehilangan prinsip. Namun, psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki sejumlah mekanisme mental yang dapat membuat penilaian moral berubah ketika identitas kelompok, emosi, dan kepentingan politik terlibat.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (13/8), terdapat enam alasan psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi.

1. Identitas Politik Dapat Menjadi Bagian dari Identitas Diri

Salah satu alasan paling kuat adalah ketika pilihan politik tidak lagi dipandang sebagai sekadar pilihan, tetapi menjadi bagian dari identitas seseorang.

Pada awalnya seseorang mungkin berkata, "Saya mendukung kebijakan ini karena saya menganggapnya baik." Namun, dalam situasi tertentu, pernyataan tersebut dapat berkembang menjadi, "Saya adalah bagian dari kelompok yang mendukung kebijakan ini."

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis sangat penting.

Ketika sebuah pandangan politik sudah menjadi bagian dari identitas diri, kritik terhadap pandangan tersebut dapat terasa seperti kritik terhadap pribadi. Akibatnya, seseorang tidak hanya mempertahankan sebuah gagasan, tetapi juga mempertahankan gambaran dirinya sendiri.

Misalnya, seseorang selama bertahun-tahun menganggap dirinya sebagai orang yang rasional, nasionalis, religius, progresif, konservatif, atau pembela rakyat kecil. Kemudian, kelompok politik yang ia identifikasikan dengan dirinya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang selama ini ia yakini.

Pada titik tersebut muncul konflik psikologis.

Jika ia mengakui bahwa kelompoknya melakukan kesalahan, ia mungkin merasa bahwa identitasnya sendiri ikut terancam. Karena itu, otak dapat terdorong untuk mencari pembenaran.

"Memang salah, tetapi ada alasannya."

"Kelompok lain melakukan hal yang lebih buruk."

"Ini sebenarnya demi kepentingan yang lebih besar."

"Media hanya membesar-besarkannya."

Pembenaran tersebut membuat seseorang tidak perlu menghadapi kenyataan yang tidak nyaman bahwa kelompok yang ia dukung ternyata tidak selalu sesuai dengan nilai yang ia percayai.

Inilah salah satu alasan mengapa diskusi politik dapat berubah menjadi sangat emosional. Yang dipertaruhkan bukan lagi hanya pendapat, tetapi rasa memiliki dan identitas.

2. Manusia Cenderung Melindungi Kelompoknya Sendiri

Psikologi sosial telah lama menunjukkan adanya kecenderungan manusia untuk membedakan antara "kelompok kita" dan "kelompok mereka".

Dalam konteks politik, pembagian tersebut dapat menjadi sangat kuat.

Ketika seseorang sudah merasa menjadi bagian dari kelompok politik tertentu, ia cenderung lebih mudah memberikan penilaian positif terhadap anggota kelompoknya sendiri dan lebih kritis terhadap kelompok lain.

Akibatnya, standar moral yang digunakan dapat berubah tanpa disadari.

Kesalahan kelompok sendiri dianggap sebagai kesalahan individu.

Kesalahan kelompok lawan dianggap sebagai bukti bahwa seluruh kelompok tersebut memang buruk.

Perilaku yang sama dapat memperoleh penilaian yang berbeda hanya karena pelakunya berasal dari kelompok yang berbeda.

Contohnya, seseorang mungkin menganggap tindakan agresif dari kelompok politik lawan sebagai bukti bahwa kelompok tersebut berbahaya. Tetapi ketika tindakan serupa dilakukan oleh kelompoknya sendiri, ia mungkin menyebutnya sebagai "reaksi", "perlawanan", atau "pembelaan diri".

Di sinilah prinsip yang awalnya bersifat universal dapat berubah menjadi prinsip yang bersyarat:

"Saya menolak kebohongan" berubah menjadi "Saya menolak kebohongan, kecuali jika kebohongan itu menguntungkan kelompok saya."

"Saya percaya semua orang harus diperlakukan adil" berubah menjadi "Semua orang harus diperlakukan adil, kecuali mereka adalah kelompok yang saya anggap berbahaya."

"Saya menentang kekerasan" berubah menjadi "Kekerasan tetap salah, tetapi dalam kondisi tertentu dapat dimaklumi jika dilakukan oleh pihak saya."

Seseorang mungkin tidak menyadari perubahan tersebut karena secara subjektif ia tetap merasa sedang membela nilai.

Padahal, standar yang digunakan terhadap kelompok sendiri dan kelompok lain sudah berbeda.

3. Cognitive Dissonance Membuat Seseorang Mencari Pembenaran

Konsep penting lainnya dalam psikologi adalah cognitive dissonance, atau disonansi kognitif.

Disonansi kognitif terjadi ketika seseorang memiliki dua keyakinan, nilai, atau tindakan yang saling bertentangan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan psikologis.

Misalnya, seseorang percaya bahwa:

"Korupsi adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan."

Tetapi kemudian tokoh politik yang ia dukung dituduh melakukan korupsi.

Ia sekarang menghadapi dua hal yang bertentangan:

Korupsi bertentangan dengan nilai moralnya.
Ia tetap ingin mendukung tokoh tersebut.

Kontradiksi itu menciptakan ketegangan psikologis.

Salah satu cara untuk mengurangi ketegangan tersebut adalah mengubah cara seseorang menafsirkan situasi.

"Belum tentu dia benar-benar korupsi."

"Mungkin tuduhannya bermotif politik."

"Semua politisi juga melakukan hal yang sama."

"Yang penting jasanya kepada negara."

Dengan demikian, seseorang tidak harus mengubah dukungan politiknya. Ia cukup mengubah interpretasinya terhadap tindakan yang bertentangan dengan nilai moralnya.

Menariknya, manusia tidak selalu mencari kebenaran ketika mengalami disonansi. Dalam banyak situasi, manusia justru mencari penjelasan yang membuat berbagai keyakinannya terasa tetap konsisten.

Inilah sebabnya seseorang dapat mempertahankan pandangan politik tertentu bahkan setelah muncul informasi yang bertentangan dengannya.

Bukan selalu karena ia tidak memiliki prinsip, tetapi karena mengakui kesalahan kelompok sendiri dapat menimbulkan ketidaknyamanan psikologis yang besar.

4. Emosi Politik Dapat Mengalahkan Pertimbangan Moral

Politik sangat berkaitan dengan emosi.

Rasa takut, marah, bangga, kecewa, terancam, atau merasa diperlakukan tidak adil dapat memengaruhi bagaimana seseorang memproses informasi politik.

Ketika emosi menjadi sangat kuat, seseorang tidak selalu menilai suatu tindakan berdasarkan prinsip moral yang sebelumnya ia gunakan.

Ia dapat mulai menilai berdasarkan pertanyaan:

"Siapa yang melakukan?"

"Siapa yang menjadi korban?"

"Apakah ini membantu kelompok saya?"

"Apakah tindakan ini merugikan lawan?"

Akibatnya, sesuatu yang secara objektif bertentangan dengan nilai pribadi dapat terasa dapat diterima ketika dilakukan demi tujuan yang dianggap lebih besar.

Rasa takut juga memainkan peran penting.

Ketika seseorang percaya bahwa kelompok politik lawan merupakan ancaman besar terhadap masa depan bangsa, keluarga, ekonomi, budaya, atau keamanan, ia mungkin mulai menganggap kompromi terhadap nilai tertentu sebagai sesuatu yang diperlukan.

"Memang saya tidak suka caranya, tetapi kita harus melakukan ini agar mereka tidak berkuasa."

Pernyataan semacam itu menunjukkan bagaimana rasa terancam dapat membuat seseorang memprioritaskan kemenangan kelompok dibandingkan konsistensi moral.

Dalam kondisi ekstrem, seseorang bahkan dapat menganggap mempertahankan nilai moral sebagai sebuah kemewahan yang tidak bisa dilakukan ketika kelompoknya sedang menghadapi ancaman.

Masalahnya, ketika prinsip moral selalu dapat dikesampingkan dengan alasan "situasi darurat", batas antara prinsip dan kepentingan politik menjadi semakin kabur.

5. Confirmation Bias Membuat Seseorang Lebih Mudah Menerima Informasi yang Mendukung Keyakinannya

Manusia tidak memproses semua informasi secara netral.

Salah satu kecenderungan yang banyak dibahas dalam psikologi adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk lebih memperhatikan, mengingat, atau menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah dimiliki.

Dalam politik, fenomena ini sangat mudah terjadi.

Seseorang yang sudah yakin bahwa kelompok tertentu buruk akan lebih mudah memperhatikan berita yang memperkuat pandangan tersebut. Sebaliknya, ketika muncul informasi positif mengenai kelompok tersebut, ia mungkin lebih skeptis.

Hal yang sama terjadi terhadap kelompok politik yang ia dukung.

Kesalahan kecil dari kelompok sendiri mungkin dianggap tidak penting. Prestasi kecil dapat dianggap sebagai bukti keberhasilan besar. Sebaliknya, kritik terhadap kelompok sendiri dapat dianggap sebagai propaganda.

Lama-kelamaan seseorang hidup dalam lingkungan informasi yang semakin memperkuat keyakinannya.

Media sosial dapat memperkuat keadaan ini karena seseorang cenderung mengikuti akun, tokoh, dan komunitas yang memiliki pandangan serupa.

Akibatnya, nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi dasar untuk menilai politik dapat justru disesuaikan dengan informasi yang tersedia di dalam kelompok.

Seseorang akhirnya bukan lagi bertanya:

"Apakah tindakan ini sesuai dengan prinsip saya?"

Melainkan:

"Bagaimana saya bisa menjelaskan bahwa tindakan kelompok saya tetap benar?"

Perubahan pertanyaan tersebut sangat penting.

Pertanyaan pertama berorientasi pada prinsip.

Pertanyaan kedua berorientasi pada pembenaran.

6. Keinginan untuk Tidak Kehilangan Kelompok Dapat Mengalahkan Prinsip Pribadi

Alasan terakhir berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk diterima.

Manusia adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan hubungan, penerimaan, rasa memiliki, dan pengakuan dari orang lain.

Ketika seseorang sudah menjadi bagian dari komunitas politik tertentu, mempertahankan keyakinan kelompok dapat memberikan rasa aman dan kebersamaan.

Sebaliknya, mengkritik kelompok sendiri dapat memiliki konsekuensi sosial.

Ia mungkin takut disebut pengkhianat.

Takut dianggap tidak loyal.

Takut kehilangan teman.

Takut dikeluarkan dari komunitas.

Takut dianggap membantu lawan.

Dalam situasi seperti itu, seseorang dapat mengalami tekanan untuk menyesuaikan pendapatnya dengan kelompok.

Pada awalnya mungkin hanya terjadi dalam hal kecil. Ia diam ketika kelompoknya melakukan kesalahan. Kemudian ia mulai memakluminya. Setelah itu ia ikut membela tindakan tersebut. Pada tahap berikutnya, ia mungkin menyerang orang lain yang mengkritik tindakan tersebut.

Proses tersebut menunjukkan bahwa perubahan moral tidak selalu terjadi secara tiba-tiba.

Kadang-kadang seseorang perlahan-lahan menggeser batas prinsipnya agar tetap merasa menjadi bagian dari kelompok.

Yang menarik, orang tersebut mungkin tetap menganggap dirinya sebagai individu yang memiliki prinsip.

Ia hanya tidak menyadari bahwa definisi "prinsip" telah berubah mengikuti kebutuhan kelompok.

Ketika Politik Mengubah Cara Kita Mendefinisikan Benar dan Salah

Enam faktor tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata karena politik membuat manusia menjadi tidak bermoral.

Persoalannya jauh lebih kompleks.

Manusia memiliki kebutuhan untuk merasa konsisten, memiliki kelompok, mempertahankan identitas, mengurangi konflik batin, serta melindungi sesuatu yang dianggap penting.

Politik dapat menggabungkan semua kebutuhan tersebut sekaligus.

Karena itu, seseorang yang sangat terlibat dalam politik dapat berada dalam situasi ketika nilai moral dan loyalitas politik saling bertabrakan.

Pada saat itulah seseorang perlu berhenti sejenak dan bertanya:

"Apakah saya menilai tindakan ini berdasarkan prinsip yang saya percaya, atau berdasarkan siapa yang melakukannya?"

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi bentuk refleksi diri yang sangat penting.

Jika kita menolak kebohongan ketika dilakukan oleh lawan politik, apakah kita juga menolaknya ketika dilakukan oleh pihak yang kita dukung?

Jika kita menuntut transparansi dari pemerintah yang tidak kita sukai, apakah kita juga menuntut standar yang sama dari pemerintah yang kita dukung?

Jika kita menganggap penghinaan sebagai sesuatu yang salah ketika dilakukan oleh kelompok lain, apakah kita masih menganggapnya salah ketika dilakukan oleh kelompok sendiri?

Konsistensi seperti inilah yang menjadi ujian sebenarnya terhadap sebuah nilai.

Memiliki Pandangan Politik Tidak Berarti Harus Kehilangan Prinsip

Memiliki pandangan politik yang kuat sebenarnya bukan sesuatu yang buruk.

Seseorang dapat memiliki keyakinan politik yang sangat kuat sekaligus tetap mempertahankan kemampuan untuk mengkritik kelompoknya sendiri.

Justru, kemampuan mengatakan "kelompok saya salah dalam hal ini" dapat menjadi tanda bahwa seseorang tidak sepenuhnya menyerahkan penilaiannya kepada kelompok.

Demikian pula, kemampuan mengatakan "kelompok yang saya tidak sukai ternyata benar dalam hal ini" menunjukkan adanya pemisahan antara penilaian terhadap gagasan dan loyalitas terhadap kelompok.

Kita tidak harus menjadi netral terhadap segala sesuatu.

Kita juga tidak harus berhenti memiliki keyakinan politik.

Yang penting adalah menjaga agar keyakinan politik tidak mengambil alih seluruh sistem nilai yang kita miliki.

Sebab ketika loyalitas politik menjadi lebih penting daripada kejujuran, keadilan, empati, dan integritas, seseorang dapat perlahan-lahan membela sesuatu yang sebenarnya dulu ia sendiri anggap salah.

Penutup

Politik memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi cara manusia melihat dunia. Ia dapat membentuk identitas, menciptakan rasa memiliki, memunculkan ketakutan, memperkuat emosi, dan membangun batas yang jelas antara "kita" dan "mereka".

Enam mekanisme psikologis—identitas kelompok, bias terhadap kelompok sendiri, disonansi kognitif, pengaruh emosi, confirmation bias, dan tekanan untuk mempertahankan penerimaan sosial—dapat menjelaskan mengapa seseorang terkadang mengabaikan nilai-nilai yang sebelumnya ia yakini.

Namun, memahami mekanisme tersebut bukan berarti kita harus menyalahkan orang lain.

Justru, pemahaman psikologis dapat menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi.

Setiap orang dapat bertanya kepada dirinya sendiri:

"Jika orang yang saya dukung melakukan kesalahan yang sama dengan orang yang saya benci, apakah saya akan memberikan penilaian yang sama?"

Jika jawabannya berbeda, mungkin bukan prinsip yang sedang memimpin penilaian kita.

Mungkin loyalitas.

Dan semakin mampu seseorang membedakan antara nilai yang ia yakini dan kelompok yang ia dukung, semakin besar kemungkinan ia dapat mempertahankan integritasnya di tengah perbedaan politik.

Pada akhirnya, prinsip yang benar-benar kita percaya bukanlah prinsip yang hanya kita gunakan ketika menguntungkan kelompok sendiri. Prinsip justru diuji ketika kita harus menerapkannya kepada orang yang tidak kita sukai.

Di situlah kedewasaan politik dan kedewasaan psikologis bertemu.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore