Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Agustus 2026 | 23.58 WIB

6 Alasan Mengapa Seseorang Melebih-lebihkan Dirinya di Bio Profil Aplikasi Kencan Menurut Psikologi

seseorang yang melebih-lebihkan bionya di aplikasi kencan / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Aplikasi kencan membuat seseorang memiliki kesempatan untuk memperkenalkan dirinya kepada banyak orang hanya melalui beberapa foto dan kalimat singkat. Dalam ruang yang serba cepat tersebut, profil menjadi semacam “kartu nama” yang menentukan apakah seseorang akan mendapatkan perhatian atau dilewati begitu saja.

Karena itu, tidak sedikit orang yang berusaha menampilkan versi terbaik dirinya di bio profil. Mereka mungkin menggambarkan dirinya sebagai sosok yang sangat percaya diri, sukses, romantis, humoris, memiliki banyak pengalaman, atau menjalani kehidupan yang terlihat menarik. Pada sebagian orang, gambaran tersebut bahkan bisa sedikit—atau cukup jauh—lebih baik daripada kenyataan.

Mengapa hal itu terjadi?

Dalam psikologi, perilaku melebih-lebihkan diri tidak selalu bisa langsung dianggap sebagai kebohongan yang disengaja. Ada berbagai faktor psikologis yang dapat membuat seseorang ingin membangun citra tertentu ketika memperkenalkan dirinya, terutama dalam situasi ketika ia tahu bahwa dirinya sedang dinilai oleh orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (13/8), terdapat enam alasan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang cenderung melebih-lebihkan dirinya dalam bio aplikasi kencan.

1. Ingin Menciptakan Kesan Pertama yang Lebih Menarik

Salah satu alasan paling sederhana adalah keinginan untuk menciptakan kesan pertama yang positif.

Dalam aplikasi kencan, seseorang biasanya hanya memiliki ruang yang terbatas untuk memperkenalkan dirinya. Foto, nama, pekerjaan, hobi, dan beberapa kalimat dalam bio menjadi informasi utama yang digunakan orang lain untuk menentukan apakah mereka tertarik atau tidak.

Situasi seperti ini dapat mendorong seseorang untuk menampilkan kualitas yang dianggap menarik.

Misalnya, seseorang sebenarnya jarang bepergian, tetapi menuliskan bahwa dirinya “suka traveling dan menjelajahi berbagai tempat”. Orang lain mungkin sebenarnya hanya sesekali berolahraga, tetapi menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang “sangat aktif dan menyukai gaya hidup sehat”.

Pernyataan tersebut belum tentu sepenuhnya palsu. Bisa saja ada unsur kebenaran di dalamnya, tetapi dikemas dengan cara yang membuat dirinya terlihat lebih menarik.

Secara psikologis, hal ini berkaitan dengan self-presentation, yaitu usaha seseorang untuk mengatur bagaimana dirinya dipersepsikan oleh orang lain.

Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mengendalikan kesan yang ditimbulkannya. Dalam konteks aplikasi kencan, kebutuhan tersebut bisa menjadi semakin kuat karena tujuan akhirnya adalah mendapatkan ketertarikan, percakapan, atau hubungan dengan orang lain.

Masalah muncul ketika keinginan menciptakan kesan positif berubah menjadi gambaran yang terlalu jauh dari kenyataan.

Seseorang mungkin berpikir:

“Kalau saya menunjukkan diri saya apa adanya, mungkin tidak ada yang tertarik.”

Dari pemikiran tersebut, muncul dorongan untuk memperindah cerita tentang dirinya.

Dengan kata lain, melebih-lebihkan diri terkadang bukan semata-mata karena seseorang ingin menipu, tetapi karena ia merasa bahwa dirinya yang sebenarnya “belum cukup menarik” untuk mendapatkan perhatian.

2. Takut Ditolak dan Ingin Meningkatkan Peluang Mendapatkan Pasangan

Alasan kedua adalah ketakutan terhadap penolakan.

Penolakan romantis dapat menjadi pengalaman yang cukup sensitif bagi sebagian orang. Ketika seseorang merasa bahwa dirinya memiliki kekurangan tertentu, ia mungkin mencoba menutupi kekurangan tersebut dengan menonjolkan kualitas yang dianggap lebih menarik.

Misalnya, seseorang merasa tidak terlalu percaya diri dengan pekerjaannya. Dalam bio, ia kemudian menggunakan istilah yang terdengar lebih bergengsi untuk menggambarkan pekerjaannya.

Atau seseorang merasa dirinya tidak terlalu populer secara sosial, kemudian menggambarkan dirinya seolah-olah memiliki kehidupan sosial yang sangat aktif.

Di balik perilaku tersebut dapat terdapat keyakinan:

“Kalau mereka mengetahui diri saya yang sebenarnya, mereka mungkin tidak akan memilih saya.”

Ketakutan seperti ini dapat membuat seseorang membangun versi dirinya yang dianggap lebih mudah diterima.

Dalam konteks psikologi sosial, seseorang sering kali menyesuaikan cara ia menampilkan dirinya berdasarkan apa yang menurutnya diinginkan oleh lingkungan.

Pada aplikasi kencan, proses tersebut dapat menjadi sangat kuat karena pengguna secara terus-menerus melihat profil orang lain. Mereka dapat membandingkan pekerjaan, penampilan, perjalanan, gaya hidup, hobi, hingga pencapaian masing-masing.

Ketika seseorang melihat profil yang tampak sempurna, ia mungkin mulai merasa bahwa dirinya tertinggal.

Akhirnya muncul dorongan untuk “menyamai standar”.

Jika orang lain terlihat sering traveling, ia merasa perlu menampilkan dirinya sebagai traveler. Jika orang lain terlihat sangat produktif, ia merasa perlu menunjukkan pencapaian. Jika orang lain terlihat sangat percaya diri, ia mungkin membuat bio yang terdengar sangat yakin terhadap dirinya sendiri.

Padahal, kehidupan nyata hampir selalu jauh lebih kompleks daripada bio beberapa baris.

3. Ingin Mendapatkan Validasi dari Orang Lain

Alasan berikutnya adalah kebutuhan akan validasi sosial.

Validasi berarti mendapatkan pengakuan atau respons positif dari orang lain. Dalam aplikasi kencan, validasi dapat muncul dalam berbagai bentuk: mendapatkan banyak match, menerima pesan, mendapatkan pujian, atau melihat orang lain menunjukkan ketertarikan.

Bagi sebagian orang, respons tersebut dapat memberikan perasaan bahwa dirinya menarik dan berharga.

Karena itu, semakin menarik sebuah profil terlihat, semakin besar kemungkinan seseorang berharap mendapatkan respons positif.

Misalnya, seseorang menuliskan:

“Saya orang yang sangat percaya diri, ambisius, suka olahraga, suka traveling, dan selalu punya sesuatu yang menarik untuk dilakukan.”

Kalimat tersebut mungkin tidak sepenuhnya menggambarkan kehidupannya sehari-hari. Namun, ketika orang lain memberikan respons positif terhadap profil tersebut, ia mendapatkan semacam penguatan.

Secara psikologis, perilaku yang mendapatkan penghargaan cenderung lebih mungkin diulangi.

Jika melebih-lebihkan pencapaian membuat seseorang mendapatkan lebih banyak perhatian, ia mungkin belajar bahwa strategi tersebut efektif.

Lama-kelamaan, bio profil bukan lagi sekadar pengenalan diri, tetapi menjadi alat untuk mendapatkan konfirmasi bahwa dirinya cukup menarik di mata orang lain.

Ini juga menjelaskan mengapa seseorang yang tampak sangat percaya diri di profil belum tentu memiliki tingkat kepercayaan diri yang sama dalam kehidupan nyata.

Kepercayaan diri yang ditampilkan dan kepercayaan diri yang benar-benar dirasakan seseorang tidak selalu identik.

Tentu saja, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa setiap orang yang memiliki bio penuh pencapaian sebenarnya tidak percaya diri. Banyak orang memang memiliki pencapaian tersebut dan merasa nyaman menceritakannya.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika citra yang ditampilkan terasa sangat berbeda dari perilaku orang tersebut ketika berinteraksi secara langsung.

4. Terpengaruh oleh Budaya “Personal Branding”

Aplikasi kencan modern juga membuat seseorang semakin terbiasa memperlakukan dirinya seperti sebuah personal brand.

Di media sosial, orang terbiasa memilih foto terbaik, menampilkan aktivitas menarik, membagikan pencapaian, dan menyembunyikan bagian kehidupan yang dianggap kurang menarik.

Kebiasaan tersebut kemudian dapat terbawa ke aplikasi kencan.

Seseorang mungkin berpikir:

“Apa yang membuat saya terlihat menarik?”

bukan:

“Siapa saya sebenarnya?”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis cukup penting.

Pertanyaan pertama berfokus pada citra. Pertanyaan kedua berfokus pada identitas.

Ketika seseorang terlalu fokus pada citra, ia dapat memilih informasi yang dianggap memiliki nilai jual tinggi. Hobi yang sebenarnya biasa saja dibuat terdengar lebih menarik. Pekerjaan digambarkan dengan istilah yang lebih mengesankan. Kehidupan sehari-hari dikemas seolah-olah penuh petualangan.

Fenomena ini semakin mudah terjadi karena pengguna aplikasi kencan biasanya melihat banyak profil dalam waktu singkat.

Dalam kondisi seperti itu, seseorang mungkin merasa harus “menjual dirinya” agar tidak kalah bersaing.

Masalahnya, hubungan romantis berbeda dengan proses pemasaran sebuah produk.

Sebuah produk dapat dipromosikan dengan menonjolkan keunggulan tertentu. Tetapi dalam hubungan, identitas seseorang pada akhirnya akan terlihat melalui perilaku sehari-hari.

Jika seseorang membangun ekspektasi yang terlalu tinggi melalui bio, terdapat risiko munculnya ketidaksesuaian antara citra digital dan diri sebenarnya.

Pada tahap awal, citra tersebut mungkin berhasil menarik perhatian. Namun, jika hubungan berlanjut, perbedaan tersebut dapat menimbulkan kekecewaan.

5. Ingin Menampilkan “Versi Ideal” dari Dirinya

Tidak semua bentuk melebih-lebihkan diri muncul karena seseorang ingin berbohong kepada orang lain. Dalam beberapa kasus, seseorang sebenarnya sedang menggambarkan versi ideal dirinya.

Ini adalah perbedaan yang menarik.

Seseorang mungkin menulis bahwa dirinya suka bangun pagi, rajin berolahraga, membaca buku, menikmati kegiatan di luar ruangan, atau memiliki ambisi besar.

Padahal, kenyataannya ia baru mulai melakukan hal-hal tersebut atau bahkan baru berharap dapat menjadi orang seperti itu.

Bio akhirnya menjadi semacam gambaran tentang:

“Saya ingin menjadi orang seperti ini.”

bukan sepenuhnya:

“Saya sekarang adalah orang seperti ini.”

Psikologi mengenal konsep tentang perbedaan antara diri aktual dan diri ideal. Diri aktual menggambarkan bagaimana seseorang melihat dirinya sekarang, sedangkan diri ideal berkaitan dengan bagaimana ia ingin menjadi.

Aplikasi kencan dapat menjadi tempat seseorang menampilkan diri ideal tersebut.

Menariknya, hal ini terkadang tidak selalu negatif.

Seseorang yang menulis “suka olahraga” mungkin sebenarnya sedang berusaha membangun kebiasaan olahraga. Seseorang yang menulis “suka membaca” mungkin memang ingin kembali membaca secara rutin.

Namun, masalah muncul ketika versi ideal tersebut disampaikan sebagai fakta yang sudah sepenuhnya terjadi.

Perbedaan antara aspirasi dan kenyataan menjadi kabur.

Karena itu, seseorang mungkin tidak merasa sedang berbohong. Ia hanya sedang memperkenalkan dirinya berdasarkan orang yang ingin ia jadikan dirinya di masa depan.

6. Membandingkan Dirinya dengan Profil Orang Lain

Alasan terakhir adalah social comparison, atau kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain.

Aplikasi kencan menyediakan lingkungan yang sangat mudah memicu perbandingan sosial.

Pengguna dapat melihat orang-orang yang terlihat sukses, menarik, percaya diri, memiliki pekerjaan bagus, sering bepergian, memiliki tubuh ideal, atau mempunyai kehidupan sosial yang aktif.

Masalahnya, seseorang biasanya hanya melihat bagian kehidupan yang sengaja ditampilkan.

Ia tidak melihat kegagalan, kecemasan, konflik, kesepian, masalah finansial, atau ketidakpastian yang mungkin dialami orang tersebut.

Akibatnya, muncul ilusi bahwa:

“Semua orang di sini hidupnya lebih menarik daripada saya.”

Ketika seseorang merasa tertinggal, ia mungkin mulai memperbaiki profilnya dengan cara yang semakin berlebihan.

Ia menambahkan lebih banyak pencapaian.

Ia memilih foto yang paling glamor.

Ia menggambarkan dirinya lebih aktif.

Ia menggunakan kata-kata yang lebih impresif.

Bukan karena kehidupannya benar-benar berubah, tetapi karena ia merasa perlu mengikuti standar yang ia lihat pada orang lain.

Dalam kondisi tertentu, proses ini dapat menciptakan semacam lingkaran.

Satu orang memperindah profilnya.

Orang lain melihat profil tersebut dan merasa dirinya kurang menarik.

Orang kedua kemudian memperindah profilnya juga.

Orang ketiga melihat keduanya dan merasa harus melakukan hal yang sama.

Akhirnya, semakin banyak profil yang terlihat “sempurna”, meskipun kehidupan nyata orang-orang di balik profil tersebut tentu jauh lebih beragam.

Apakah Melebih-lebihkan Diri Selalu Berarti Seseorang Berbohong?

Tidak selalu.

Ini adalah hal penting yang perlu dipahami.

Bio aplikasi kencan pada dasarnya merupakan bentuk seleksi informasi. Seseorang tidak mungkin menuliskan seluruh kehidupannya dalam beberapa kalimat.

Karena itu, memilih sisi positif dari diri sendiri merupakan sesuatu yang wajar.

Masalahnya adalah tingkat ketidaksesuaian antara apa yang ditampilkan dengan kenyataan.

Ada perbedaan antara:

“Saya suka traveling.”

dengan seseorang yang sebenarnya hampir tidak pernah bepergian tetapi sengaja menciptakan kesan bahwa traveling merupakan bagian utama kehidupannya.

Ada pula perbedaan antara:

“Saya sedang berusaha hidup lebih sehat.”

dengan:

“Saya menjalani gaya hidup sehat setiap hari.”

Yang pertama menunjukkan aspirasi. Yang kedua menyatakan keadaan.

Karena itu, seseorang tidak seharusnya langsung dicap sebagai pembohong hanya karena bio profilnya terdengar sangat positif.

Yang lebih penting adalah melihat konsistensi antara perkataan, perilaku, dan kenyataan ketika hubungan mulai berkembang.

Mengapa Kita Sebaiknya Tidak Terlalu Cepat Percaya pada Bio?

Bio profil adalah informasi yang dikurasi.

Artinya, informasi tersebut telah dipilih oleh pemilik profil sebelum ditampilkan kepada orang lain.

Kita dapat menganggapnya seperti halaman depan sebuah buku. Halaman depan memang dibuat untuk menarik perhatian, tetapi tidak menceritakan seluruh isi buku.

Karena itu, ketika menggunakan aplikasi kencan, penting untuk menjaga keseimbangan antara terbuka terhadap orang baru dan tetap memiliki penilaian yang realistis.

Jangan langsung menganggap seseorang palsu hanya karena profilnya terlihat terlalu bagus.

Sebaliknya, jangan pula menganggap semua informasi di dalam profil sebagai fakta yang sudah terverifikasi.

Perhatikan bagaimana seseorang berkomunikasi.

Apakah ceritanya konsisten?

Apakah perilakunya sesuai dengan apa yang ia katakan?

Apakah ia dapat membicarakan dirinya tanpa terus-menerus membanggakan pencapaian?

Apakah ia juga mampu mengakui kekurangan dan kesalahannya?

Justru dari interaksi yang lebih panjang, kita biasanya dapat memperoleh gambaran yang lebih realistis tentang seseorang.

Pada Akhirnya, Orang Ingin Dicintai Berdasarkan Versi Terbaik Dirinya

Ada satu hal manusiawi di balik kecenderungan memperindah diri di aplikasi kencan: keinginan untuk diterima.

Sebagian orang ingin terlihat menarik karena takut tidak ada yang tertarik pada dirinya.

Sebagian ingin terlihat sukses karena takut dianggap tidak cukup baik.

Sebagian ingin terlihat percaya diri karena sebenarnya masih mencari keyakinan terhadap dirinya sendiri.

Dan sebagian lainnya memang hanya memahami aplikasi kencan sebagai tempat untuk menunjukkan sisi terbaik dari kehidupannya.

Oleh karena itu, perilaku melebih-lebihkan diri tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa seseorang “suka berbohong”.

Di baliknya dapat terdapat kebutuhan akan penerimaan, ketakutan terhadap penolakan, keinginan mendapatkan validasi, perbandingan sosial, kebiasaan melakukan personal branding, atau usaha menampilkan versi ideal dirinya.

Namun, hubungan yang sehat pada akhirnya membutuhkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh bio profil: keaslian.

Seseorang mungkin bisa menarik perhatian dengan foto terbaik dan kalimat paling mengesankan. Tetapi ketika hubungan mulai berkembang, karakter yang sebenarnya akan lebih banyak terlihat melalui cara ia memperlakukan orang lain, menghadapi masalah, mengakui kesalahan, berkomunikasi, dan menunjukkan konsistensi.

Pada akhirnya, profil yang menarik mungkin membuat seseorang mendapatkan match.

Tetapi kejujuran, konsistensi, dan kemampuan menjadi dirinya sendiri yang menentukan apakah hubungan tersebut dapat bertahan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore