Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Agustus 2026 | 00.50 WIB

Ingin Menjalani Hidup Terbaik? Terapkan 5 Langkah Harian Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha menjalani hidup terbaik. (Magnific)

 

 
 
JawaPos.com - Banyak orang menghabiskan hidup dengan satu tujuan yang sama: ingin menjalani hidup sebaik mungkin. Namun, ketika ditanya seperti apa "hidup terbaik" itu, jawabannya bisa sangat berbeda. Ada yang menginginkan kesuksesan, ada yang mendambakan ketenangan, ada yang ingin memiliki hubungan yang hangat, dan ada pula yang sekadar ingin bangun setiap pagi tanpa merasa terbebani.


Psikologi modern menunjukkan bahwa hidup yang baik bukanlah hasil dari satu keputusan besar atau satu pencapaian luar biasa. Sebaliknya, kualitas hidup lebih sering dibentuk oleh kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Cara kita memulai hari, berbicara kepada diri sendiri, memperlakukan orang lain, mengelola emosi, dan menutup hari ternyata memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan mental.

Kita sering menunggu keadaan sempurna untuk mulai hidup dengan lebih baik. Menunggu pekerjaan yang lebih baik, kondisi keuangan yang lebih stabil, pasangan yang tepat, atau waktu yang lebih longgar. Padahal, banyak penelitian dalam psikologi positif dan ilmu perilaku menunjukkan bahwa perubahan justru dimulai dari tindakan-tindakan sederhana yang dapat dilakukan hari ini.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (9/8), jika Anda sedang berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri, berikut lima langkah yang layak dilakukan setiap hari. Kelima langkah ini tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi dapat membantu Anda membangun kehidupan yang lebih sehat secara emosional, lebih bermakna, dan lebih sesuai dengan diri Anda sendiri.

1. Mulailah Hari dengan Menentukan Satu Hal yang Benar-Benar Penting

Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan banyak orang adalah memulai hari dengan langsung membuka ponsel. Notifikasi, berita, pesan kerja, dan media sosial segera mengambil alih perhatian bahkan sebelum kita benar-benar sadar sepenuhnya.

Secara psikologis, hal ini membuat otak masuk ke mode reaktif. Kita menghabiskan hari dengan merespons tuntutan orang lain, bukan menentukan apa yang sebenarnya penting bagi diri kita.

Karena itu, sebelum memeriksa ponsel, luangkan waktu beberapa menit untuk bertanya:

Apa satu hal yang paling penting hari ini?
Jika saya hanya berhasil menyelesaikan satu hal, apa yang akan membuat saya merasa hari ini tetap bermakna?
Nilai apa yang ingin saya jalani hari ini?

Pertanyaan sederhana ini membantu menciptakan apa yang dalam psikologi disebut intentionality, yaitu kemampuan untuk menjalani hidup dengan kesadaran dan arah.

Anda tidak perlu membuat daftar berisi dua puluh tugas. Justru memilih satu prioritas utama dapat mengurangi beban mental. Ketika terlalu banyak tujuan bersaing di dalam pikiran, otak lebih mudah merasa kewalahan. Sebaliknya, tujuan yang jelas membuat perhatian lebih terarah.

Misalnya, hari ini tujuan Anda bukan "menjadi produktif", tetapi "menyelesaikan laporan selama 90 menit tanpa gangguan". Atau bukan "menjadi orang yang lebih baik", melainkan "mendengarkan pasangan saya tanpa memotong pembicaraannya".

Tujuan yang spesifik lebih mudah diwujudkan daripada niat yang terlalu abstrak.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membantu Anda merasa bahwa hidup bukan sekadar rangkaian hari yang berlalu, tetapi sesuatu yang benar-benar Anda arahkan.

2. Berbicaralah kepada Diri Sendiri Seperti Anda Berbicara kepada Sahabat

Banyak orang memiliki kebiasaan berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang tidak akan pernah mereka gunakan kepada orang lain.

Ketika melakukan kesalahan, mereka berkata:

"Saya bodoh."

"Saya selalu gagal."

"Saya tidak pernah cukup baik."

Bayangkan jika seorang sahabat datang kepada Anda setelah melakukan kesalahan. Kemungkinan besar Anda tidak akan mengatakan bahwa dia bodoh atau tidak berguna. Anda mungkin berkata, "Tidak apa-apa, semua orang bisa salah. Mari lihat apa yang bisa dipelajari."

Menariknya, psikologi menemukan bahwa orang yang memiliki self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri justru lebih mampu bangkit dari kegagalan. Mereka bukan lebih malas atau lebih permisif. Sebaliknya, karena tidak terjebak dalam rasa malu berlebihan, mereka memiliki energi emosional untuk mencoba lagi.

Belas kasih kepada diri sendiri memiliki tiga unsur utama:

Pertama, menyadari bahwa Anda sedang mengalami kesulitan.

Jangan berpura-pura semuanya baik-baik saja jika memang tidak.

Kedua, memahami bahwa kesulitan adalah bagian dari pengalaman manusia.

Anda bukan satu-satunya orang yang pernah gagal, kecewa, atau merasa tidak yakin.

Ketiga, memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan.

Tanyakan, "Apa yang saya butuhkan saat ini agar bisa melangkah lagi?"

Setiap kali pikiran negatif muncul, Anda tidak harus langsung menghapusnya. Cukup perhatikan dan ubah cara meresponsnya.

Alih-alih berkata, "Saya gagal total," coba katakan, "Saya kecewa dengan hasil ini, tetapi satu hasil tidak menentukan seluruh kemampuan saya."

Perubahan bahasa mungkin tampak kecil, tetapi bahasa membentuk cara kita memaknai pengalaman.

Hidup terbaik bukanlah hidup di mana Anda tidak pernah melakukan kesalahan. Hidup terbaik adalah hidup di mana Anda tidak meninggalkan diri sendiri ketika kesalahan itu terjadi.

3. Bergerak, Bukan Hanya Berolahraga

Ketika berbicara tentang kesehatan mental, banyak orang langsung memikirkan meditasi atau terapi. Padahal, salah satu intervensi psikologis yang paling konsisten manfaatnya adalah aktivitas fisik.

Anda tidak harus pergi ke gym setiap hari.

Berjalan kaki selama 20–30 menit, naik tangga, melakukan peregangan, atau bersepeda santai sudah dapat memberikan manfaat.

Aktivitas fisik membantu tubuh mengatur sistem stres. Ketika kita bergerak, tubuh menggunakan energi yang sebelumnya dipersiapkan untuk menghadapi ancaman. Selain itu, aktivitas fisik juga berkaitan dengan peningkatan suasana hati dan kualitas tidur.

Namun ada manfaat lain yang sering dilupakan: bergerak membuat kita keluar dari pikiran.

Banyak masalah emosional menjadi semakin berat karena kita terus memikirkannya tanpa henti. Duduk berjam-jam sambil memutar ulang percakapan atau kekhawatiran yang sama jarang menghasilkan solusi baru.

Kadang-kadang, berjalan selama dua puluh menit memberi perspektif yang lebih segar dibandingkan memikirkan masalah itu selama dua jam.

Tidak perlu menjadikan olahraga sebagai proyek besar. Prinsip psikologi perilaku justru menyarankan untuk membuat kebiasaan sekecil mungkin agar mudah dipertahankan.

Contohnya:

berjalan lima menit setelah makan siang,
melakukan sepuluh squat sambil menunggu air mendidih,
atau berjalan keliling rumah ketika merasa tegang.

Konsistensi lebih penting daripada intensitas.

Tubuh dan pikiran bukan dua hal yang terpisah. Merawat salah satunya hampir selalu memberi manfaat bagi yang lain.

4. Bangun Satu Momen Koneksi yang Tulus

Manusia adalah makhluk sosial. Bahkan orang yang sangat mandiri tetap membutuhkan rasa terhubung dengan orang lain.

Penelitian tentang kesejahteraan menunjukkan bahwa kualitas hubungan merupakan salah satu faktor terkuat yang berkaitan dengan kehidupan yang bahagia dan sehat.

Namun, koneksi tidak selalu berarti memiliki banyak teman atau menghadiri banyak acara sosial.

Satu percakapan yang tulus bisa jauh lebih berarti daripada puluhan interaksi dangkal.

Setiap hari, cobalah melakukan satu tindakan kecil untuk membangun koneksi.

Misalnya:

bertanya kepada teman bagaimana keadaannya dan benar-benar mendengarkan jawabannya,
mengirim pesan kepada anggota keluarga,
mengucapkan terima kasih kepada rekan kerja,
atau makan bersama tanpa melihat ponsel.

Kuncinya adalah kehadiran.

Sering kali kita berada di dekat orang lain secara fisik, tetapi perhatian kita ada di tempat lain. Psikologi menyebut kualitas perhatian sebagai salah satu unsur penting dalam hubungan yang memuaskan.

Ketika seseorang merasa benar-benar didengarkan, ia merasa dihargai.

Menariknya, membangun koneksi tidak hanya membuat orang lain merasa lebih baik. Tindakan prososial—seperti membantu, mendengarkan, atau menunjukkan kepedulian—juga dapat meningkatkan kesejahteraan kita sendiri.

Jika hidup terasa terlalu berpusat pada masalah pribadi, membantu orang lain dalam hal kecil dapat mengubah perspektif. Kita kembali menyadari bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.

5. Tutup Hari dengan Refleksi, Bukan Penghakiman

Banyak orang menutup hari dengan memikirkan semua hal yang belum selesai.

"Saya belum membalas pesan."

"Saya belum olahraga."

"Saya masih kurang produktif."

Pikiran seperti ini membuat hari terasa seperti daftar kegagalan.

Padahal, refleksi yang sehat berbeda dari menghakimi diri sendiri.

Sebelum tidur, luangkan lima menit untuk menjawab tiga pertanyaan:

Apa satu hal yang berjalan dengan baik hari ini?

Tidak harus sesuatu yang besar. Mungkin Anda berhasil menahan diri untuk tidak membalas dengan marah.

Apa satu hal yang saya pelajari?

Bahkan hari yang sulit biasanya mengandung pelajaran.

Apa satu hal kecil yang ingin saya lakukan lebih baik besok?

Bukan sepuluh perubahan. Hanya satu.

Refleksi seperti ini membantu otak menyusun pengalaman. Alih-alih membawa semua kejadian hari itu sebagai beban yang tidak teratur, kita memberi makna pada apa yang telah terjadi.

Selain itu, mengenali hal-hal yang berjalan baik tidak sama dengan berpura-pura positif. Anda tetap dapat mengakui bahwa hari itu berat sambil menyadari bahwa tidak semuanya buruk.

Misalnya:

"Hari ini sangat melelahkan karena pekerjaan, tetapi saya senang sempat berbicara dengan ibu."

Kedua hal tersebut bisa sama-sama benar.

Kebiasaan refleksi juga membantu membangun rasa kemajuan. Perubahan pribadi sering kali sulit dirasakan dari hari ke hari. Namun ketika kita melihat kembali beberapa minggu atau bulan kemudian, catatan kecil tersebut menunjukkan bahwa kita sebenarnya telah tumbuh.

Mengapa Lima Langkah Ini Efektif?

Kelima kebiasaan ini bekerja karena menyentuh beberapa kebutuhan psikologis dasar manusia.

Langkah Kebutuhan psikologis
Menentukan prioritas Rasa memiliki arah dan kendali
Berbelas kasih pada diri sendiri Rasa aman secara emosional
Bergerak Regulasi stres dan energi
Membangun koneksi Rasa memiliki dan keterhubungan
Refleksi malam Makna dan pembelajaran

Hidup yang baik tidak hanya bergantung pada satu aspek.

Seseorang mungkin sukses secara karier tetapi kelelahan secara emosional. Seseorang mungkin memiliki banyak teman tetapi tidak pernah merasa mengenal dirinya sendiri. Kesejahteraan yang berkelanjutan muncul ketika beberapa kebutuhan dasar ini dirawat secara seimbang.

Jangan Menunggu Menjadi Orang yang Sempurna

Salah satu jebakan terbesar dalam pengembangan diri adalah keyakinan bahwa kita harus berubah sepenuhnya.

Kita ingin menjadi lebih disiplin, lebih tenang, lebih sehat, lebih sabar, lebih produktif—semuanya sekaligus.

Akibatnya, kita memulai dengan semangat besar lalu berhenti ketika energi menurun.

Psikologi kebiasaan menunjukkan bahwa perubahan kecil yang konsisten lebih mungkin bertahan daripada perubahan drastis yang sulit dipelihara.

Anda tidak harus melakukan kelima langkah ini dengan sempurna.

Mungkin hari ini Anda hanya sempat menentukan satu prioritas dan berjalan sepuluh menit.

Besok mungkin Anda berhasil menambahkan refleksi malam.

Lusa Anda menghubungi seorang teman.

Begitulah perubahan biasanya terjadi: bukan melalui satu transformasi besar, tetapi melalui keputusan kecil yang diulang hingga menjadi bagian dari identitas.

Setelah beberapa waktu, Anda tidak lagi berkata, "Saya sedang mencoba hidup lebih baik."

Anda mulai merasa, "Inilah cara saya menjalani hidup."

Hidup Terbaik Bukan Hidup Tanpa Kesulitan

Penting untuk memahami bahwa menjalani hidup terbaik bukan berarti Anda akan selalu bahagia.

Anda tetap akan mengalami hari-hari buruk.

Akan ada kegagalan, konflik, kehilangan, dan masa ketika motivasi hilang.

Psikologi tidak menjanjikan kehidupan tanpa penderitaan. Yang dapat dibantu adalah cara kita menghadapi pengalaman tersebut.

Orang yang memiliki kebiasaan sehat secara psikologis bukan orang yang tidak pernah jatuh. Mereka cenderung memiliki cara yang lebih baik untuk kembali berdiri.

Mereka tahu apa yang penting.

Mereka tidak menghancurkan diri sendiri ketika gagal.

Mereka merawat tubuh.

Mereka menjaga hubungan.

Dan mereka belajar dari hari yang telah berlalu.

Itulah yang membuat seseorang menjadi lebih tangguh, bukan karena hidupnya lebih mudah, tetapi karena ia membangun fondasi yang lebih kuat.

Penutup

Jika Anda sedang berusaha menjalani hidup terbaik untuk diri sendiri, jangan merasa bahwa Anda harus menemukan jawaban besar hari ini.

Mulailah dari hal-hal sederhana.

Setiap pagi, tentukan satu hal yang penting.

Sepanjang hari, perlakukan diri sendiri dengan lebih manusiawi.

Gerakkan tubuh Anda.

Bangun satu koneksi yang tulus.

Dan sebelum tidur, lihat hari Anda dengan rasa ingin belajar, bukan dengan keinginan untuk menghakimi.

Lima langkah ini mungkin terlihat sederhana. Namun justru karena sederhana, mereka dapat dilakukan berulang kali. Dalam psikologi, kesejahteraan jarang dibangun oleh satu momen luar biasa. Ia lebih sering tumbuh dari kebiasaan kecil yang, ketika dilakukan setiap hari, perlahan membentuk cara kita berpikir, merasa, dan menjalani kehidupan.

Hidup terbaik bukan tentang menjadi orang lain atau mencapai standar yang ditetapkan dunia. Hidup terbaik adalah ketika tindakan sehari-hari Anda semakin selaras dengan nilai, kebutuhan, dan diri Anda yang sebenarnya.

Dan proses itu tidak harus dimulai besok.

Ia bisa dimulai hari ini, dari satu langkah kecil yang Anda pilih untuk dilakukan dengan penuh kesadaran.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore