Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Agustus 2026 | 23.05 WIB

7 Pelajaran Parenting yang Tidak Anda Pelajari di Sekolah Tinggi Sekalipun Menurut Psikologi

seseorang yang bahagia bersama anak-anak. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Banyak orang menghabiskan belasan hingga puluhan tahun menempuh pendidikan formal. Kita belajar matematika, sains, ekonomi, teknologi, hingga berbagai teori kehidupan. Namun ironisnya, hampir tidak ada sekolah yang benar-benar mengajarkan bagaimana menjadi orang tua yang baik.


Padahal, menjadi orang tua adalah salah satu tanggung jawab terbesar dalam hidup. Cara kita berbicara, mendengarkan, memuji, hingga mengelola emosi akan membentuk perkembangan otak, karakter, dan kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

Psikologi modern menunjukkan bahwa keberhasilan parenting bukan ditentukan oleh seberapa kaya, seberapa pintar, atau seberapa tinggi pendidikan seseorang. Yang jauh lebih penting adalah kualitas hubungan emosional antara orang tua dan anak.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (7/8), terdapat tujuh pelajaran parenting yang sering kali tidak pernah diajarkan di sekolah, tetapi justru menjadi fondasi penting menurut ilmu psikologi.

1. Anak Tidak Selalu Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Banyak orang tua merasa harus selalu benar. Mereka takut melakukan kesalahan karena khawatir akan merusak masa depan anak.

Padahal menurut psikologi perkembangan, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang cukup baik (good enough parent), yaitu orang tua yang mampu memberikan rasa aman sekaligus mau memperbaiki kesalahan ketika melakukan kekeliruan.

Misalnya, ketika Anda membentak anak karena sedang lelah, bukan berarti hubungan telah rusak selamanya. Justru ketika Anda meminta maaf dengan tulus, anak belajar bahwa setiap orang bisa berbuat salah dan bertanggung jawab atas kesalahannya.

Hal ini mengajarkan kerendahan hati, empati, dan kemampuan memperbaiki hubungan.

Pelajaran utamanya: Anak belajar lebih banyak dari bagaimana Anda memperbaiki kesalahan daripada bagaimana Anda berusaha terlihat sempurna.

2. Emosi Orang Tua Lebih Menular daripada Nasihat

Banyak orang tua rajin memberikan ceramah.

"Jangan marah."

"Harus sabar."

"Jangan berteriak."

Namun di saat yang sama mereka sendiri mudah meledak ketika menghadapi masalah.

Psikologi menjelaskan bahwa anak belajar terutama melalui observasi. Otak anak memiliki mekanisme yang membuat mereka meniru perilaku orang-orang terdekat.

Karena itu, jika orang tua mampu tetap tenang saat menghadapi konflik, anak perlahan akan mengembangkan kemampuan mengatur emosinya sendiri.

Sebaliknya, jika rumah dipenuhi bentakan, ancaman, atau kemarahan, anak akan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Bukan berarti orang tua tidak boleh marah. Yang penting adalah bagaimana emosi tersebut dikelola secara sehat.

Pelajaran utamanya: Anak meniru siapa Anda, bukan hanya mendengar apa yang Anda katakan.

3. Hubungan Lebih Penting daripada Hukuman

Banyak orang percaya bahwa disiplin identik dengan hukuman.

Padahal penelitian psikologi menunjukkan bahwa disiplin yang efektif berawal dari hubungan yang hangat.

Ketika anak merasa aman secara emosional, mereka jauh lebih mudah menerima arahan.

Sebaliknya, jika hubungan dipenuhi rasa takut, anak mungkin memang patuh, tetapi kepatuhan itu sering muncul karena takut dihukum, bukan karena memahami alasan di balik aturan.

Disiplin yang sehat mengajarkan konsekuensi, bukan sekadar memberikan hukuman.

Misalnya, jika anak menumpahkan mainan, konsekuensinya adalah membantu merapikannya kembali, bukan langsung dimarahi.

Dengan cara ini, anak belajar tanggung jawab, bukan rasa takut.

Pelajaran utamanya: Hubungan yang kuat membuat aturan lebih mudah diterima.

4. Mendengarkan Adalah Bentuk Kasih Sayang yang Sering Diremehkan

Banyak orang tua terburu-buru memberi solusi.

Ketika anak berkata,

"Aku sedih."

Orang tua langsung menjawab,

"Sudah, jangan sedih."

Padahal anak sering kali tidak membutuhkan solusi secepat itu.

Yang mereka butuhkan adalah merasa dipahami.

Psikologi menyebut proses ini sebagai emotional validation, yaitu mengakui bahwa perasaan anak nyata dan layak didengarkan.

Contohnya:

"Ayah mengerti kamu kecewa karena mainannya rusak."

Kalimat sederhana ini membantu anak mengenali emosinya sekaligus merasa diterima.

Anak yang terbiasa didengarkan biasanya tumbuh lebih terbuka dan tidak takut bercerita kepada orang tuanya ketika menghadapi masalah yang lebih besar di masa depan.

Pelajaran utamanya: Sebelum memberi nasihat, berikan telinga dan hati untuk mendengarkan.

5. Pujian Tidak Selalu Baik Jika Salah Sasaran

Banyak orang tua sering berkata,

"Kamu memang pintar."

Sekilas terdengar positif.

Namun psikologi menemukan bahwa pujian terhadap bakat semata dapat membuat anak takut gagal.

Mengapa?

Karena mereka mulai berpikir bahwa nilai dirinya bergantung pada hasil.

Sebaliknya, pujian terhadap usaha jauh lebih bermanfaat.

Misalnya:

"Ayah bangga karena kamu tidak menyerah."
"Usahamu luar biasa."
"Kamu sudah bekerja keras."

Pujian seperti ini mendorong anak untuk terus mencoba, bahkan ketika mengalami kegagalan.

Mereka belajar bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan.

Pelajaran utamanya: Hargai proses, bukan hanya hasil akhirnya.

6. Anak Tidak Membutuhkan Banyak Mainan, Tetapi Banyak Koneksi

Banyak keluarga mengira kasih sayang bisa digantikan dengan hadiah.

Padahal penelitian menunjukkan bahwa kenangan terbaik anak sering kali bukan tentang mainan mahal, melainkan momen sederhana bersama orang tua.

Membaca buku sebelum tidur.

Bermain bersama.

Memasak bersama.

Mengobrol tanpa gangguan gawai.

Interaksi seperti ini membantu perkembangan bahasa, kecerdasan emosional, rasa percaya diri, dan ikatan emosional yang kuat.

Kehadiran secara emosional jauh lebih berharga daripada hadiah yang mahal.

Pelajaran utamanya: Waktu berkualitas adalah investasi terbaik bagi perkembangan anak.

7. Cara Anda Memperlakukan Diri Sendiri Akan Menjadi Contoh bagi Anak

Pelajaran terakhir ini sering diabaikan.

Anak tidak hanya belajar bagaimana memperlakukan orang lain.

Mereka juga belajar bagaimana memperlakukan dirinya sendiri.

Jika orang tua terus menyalahkan diri, bekerja tanpa henti, mengabaikan kesehatan, atau tidak pernah beristirahat, anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa mencintai diri sendiri adalah sesuatu yang egois.

Sebaliknya, ketika orang tua menjaga kesehatan fisik dan mental, mengelola stres, meminta bantuan ketika diperlukan, serta menunjukkan kasih sayang kepada diri sendiri, anak belajar bahwa merawat diri merupakan bagian penting dari kehidupan.

Merawat diri bukan berarti mengabaikan anak.

Justru orang tua yang sehat secara emosional memiliki kapasitas lebih besar untuk mendampingi anak.

Pelajaran utamanya: Anak belajar mencintai dirinya dari cara Anda mencintai diri sendiri.

Kesimpulan

Tidak ada universitas yang benar-benar dapat mempersiapkan seseorang menjadi orang tua. Parenting bukan sekadar kumpulan teori, melainkan keterampilan yang terus dipelajari sepanjang hidup.

Psikologi mengajarkan bahwa anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir, mau belajar, mampu mengelola emosi, mendengarkan dengan empati, membangun hubungan yang hangat, menghargai proses, menyediakan waktu berkualitas, dan memberi teladan melalui tindakan sehari-hari.

Pada akhirnya, warisan terbesar yang dapat diberikan kepada anak bukanlah harta, gelar, atau fasilitas mewah, melainkan rasa aman, kasih sayang, dan hubungan yang sehat. Nilai-nilai inilah yang akan mereka bawa hingga dewasa, lalu diteruskan kepada generasi berikutnya.

Semoga tujuh pelajaran ini menjadi pengingat bahwa menjadi orang tua bukan tentang selalu benar, melainkan tentang terus bertumbuh bersama anak setiap hari.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore