seseorang yang berterima kasih kepada orang yang sangat berjasa kepadanya. (Magnific)
Dalam psikologi positif, kehidupan yang baik bukan sekadar kehidupan yang penuh kesenangan, melainkan kehidupan yang dipenuhi makna, pertumbuhan, dan hubungan yang sehat dengan orang lain. Karena itu, ada beberapa pengalaman yang sangat dianjurkan untuk dialami setidaknya sekali seumur hidup.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (27/7), terdapat tujuh hal yang sebaiknya Anda lakukan minimal sekali sebelum meninggal menurut sudut pandang psikologi.
1. Memaafkan Seseorang yang Pernah Menyakiti Anda
Memaafkan bukan berarti membenarkan perlakuan buruk seseorang. Dalam psikologi, memaafkan adalah keputusan untuk melepaskan beban emosi negatif yang selama ini mengikat diri Anda.
Menyimpan dendam dalam waktu lama sering dikaitkan dengan meningkatnya stres, kecemasan, tekanan darah tinggi, hingga gangguan tidur. Sebaliknya, orang yang mampu memaafkan cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.
Memaafkan juga bukan berarti harus kembali menjalin hubungan dengan orang tersebut. Anda tetap bisa menjaga batasan yang sehat sambil membebaskan diri dari rasa marah yang terus menguras energi.
Pada akhirnya, memaafkan adalah hadiah yang paling besar untuk diri sendiri.
2. Mengatakan "Terima Kasih" kepada Orang yang Berjasa dalam Hidup Anda
Psikologi positif menunjukkan bahwa rasa syukur merupakan salah satu prediktor terbesar kebahagiaan.
Sayangnya, banyak orang baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah kehilangan mereka. Padahal, mengungkapkan rasa terima kasih secara langsung mampu memperkuat hubungan sosial sekaligus meningkatkan kesejahteraan emosional bagi kedua belah pihak.
Cobalah menghubungi guru yang pernah membimbing Anda, orang tua, sahabat, pasangan, atau siapa pun yang pernah memberikan pengaruh positif dalam hidup.
Ucapan sederhana seperti, "Terima kasih karena pernah percaya kepada saya," bisa menjadi kenangan yang tidak terlupakan.
3. Keluar dari Zona Nyaman dan Mencoba Sesuatu yang Benar-Benar Baru
Otak manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa melalui proses yang disebut neuroplasticity. Ketika kita mencoba pengalaman baru, otak membentuk koneksi saraf baru yang membantu meningkatkan kreativitas, fleksibilitas berpikir, dan rasa percaya diri.
Hal baru tidak selalu berarti ekstrem.
Misalnya:
Belajar alat musik.
Bepergian sendirian.
Mengikuti kelas melukis.
Belajar bahasa asing.
Menjadi relawan.
Mencoba profesi atau hobi baru.
Pengalaman baru memperluas cara kita memandang dunia sekaligus membantu mengenali potensi yang selama ini belum terlihat.
4. Berdamai dengan Diri Sendiri
Banyak orang sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi sangat keras terhadap dirinya sendiri.
Dalam psikologi, konsep self-compassion atau belas kasih kepada diri sendiri terbukti berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah, kesehatan mental yang lebih baik, serta kemampuan bangkit dari kegagalan.
Berdamai dengan diri sendiri berarti menerima bahwa setiap manusia pernah membuat kesalahan.
Anda tidak harus menjadi sempurna untuk merasa layak dicintai.
Belajar menerima kekurangan justru membuat seseorang lebih berani berkembang dibanding terus-menerus dihantui rasa bersalah.
5. Membangun Hubungan yang Benar-Benar Berkualitas
Salah satu penelitian psikologi paling terkenal, Harvard Study of Adult Development, menemukan bahwa hubungan yang hangat dan sehat merupakan prediktor terbesar kebahagiaan serta umur panjang.
Bukan jumlah teman yang menentukan kualitas hidup, melainkan kedalaman hubungan.
Luangkan waktu untuk:
Mendengarkan orang lain tanpa menghakimi.
Menghabiskan waktu bersama keluarga.
Memperbaiki komunikasi dengan pasangan.
Menjalin persahabatan yang tulus.
Pada penghujung hidup, sebagian besar orang lebih mengingat momen bersama orang-orang yang dicintai daripada pencapaian materi.
6. Mengejar Sesuatu yang Memiliki Makna, Bukan Sekadar Uang
Uang memang penting karena memberikan rasa aman. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan pendapatan tidak selalu sejalan dengan peningkatan kebahagiaan.
Psikolog Martin Seligman menjelaskan bahwa hidup yang bermakna muncul ketika seseorang menggunakan kemampuan terbaiknya untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Makna bisa ditemukan melalui berbagai cara, seperti:
Membantu sesama.
Mengajar.
Berkarya.
Menjadi orang tua.
Membangun komunitas.
Menciptakan sesuatu yang bermanfaat.
Hidup yang penuh makna cenderung meninggalkan rasa puas yang lebih bertahan lama dibanding kesenangan sesaat.
7. Menulis atau Menceritakan Kisah Hidup Anda
Dalam psikologi naratif, manusia memahami identitas dirinya melalui cerita yang ia bangun tentang kehidupannya.
Menulis pengalaman hidup membantu seseorang memahami perjalanan yang telah dilalui, menerima kegagalan, serta menemukan pelajaran dari setiap peristiwa.
Anda tidak perlu menjadi penulis profesional.
Cukup tuliskan:
Pelajaran hidup terbesar.
Kesalahan yang pernah dilakukan.
Momen paling membahagiakan.
Orang-orang yang paling berjasa.
Harapan untuk generasi berikutnya.
Selain membantu kesehatan mental, tulisan tersebut juga dapat menjadi warisan emosional yang sangat berharga bagi keluarga.
Mengapa Tujuh Hal Ini Penting?
Psikologi modern menunjukkan bahwa manusia paling sering menyesali hal-hal yang tidak pernah dilakukan, bukan semata-mata kesalahan yang pernah dibuat.
Banyak penyesalan di akhir kehidupan berasal dari:
Tidak berani mengambil kesempatan.
Terlalu sibuk bekerja hingga mengabaikan keluarga.
Tidak mengungkapkan perasaan.
Menunda meminta maaf atau memaafkan.
Hidup mengikuti harapan orang lain, bukan nilai yang diyakini sendiri.
Karena itu, menjalani pengalaman yang memperkaya hubungan, memperluas perspektif, dan memperdalam makna hidup dapat mengurangi penyesalan di masa depan.
Penutup
Tidak ada yang mengetahui berapa lama waktu yang dimiliki. Namun psikologi mengajarkan bahwa kehidupan yang bermakna bukan ditentukan oleh panjangnya usia, melainkan bagaimana kita mengisinya.
Memaafkan, bersyukur, mencoba hal baru, berdamai dengan diri sendiri, membangun hubungan yang hangat, mengejar makna, dan merefleksikan perjalanan hidup adalah pengalaman yang dapat membuat seseorang merasa telah menjalani hidup dengan lebih utuh.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
