Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Juli 2026 | 15.48 WIB

7 Hal yang Sebaiknya Dilakukan Minimal Sekali Sebelum Anda Meninggal Menurut Psikologi

seseorang yang berterima kasih kepada orang yang sangat berjasa kepadanya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Hampir setiap orang pernah bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa yang sebenarnya membuat hidup terasa bermakna?" Pertanyaan ini tidak hanya menjadi bahan renungan para filsuf, tetapi juga telah lama diteliti oleh para psikolog. Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepuasan hidup di usia tua jarang ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dimiliki. Sebaliknya, kualitas hubungan, pengalaman hidup, keberanian menghadapi ketakutan, dan kemampuan menerima diri justru menjadi faktor yang paling berpengaruh.


Dalam psikologi positif, kehidupan yang baik bukan sekadar kehidupan yang penuh kesenangan, melainkan kehidupan yang dipenuhi makna, pertumbuhan, dan hubungan yang sehat dengan orang lain. Karena itu, ada beberapa pengalaman yang sangat dianjurkan untuk dialami setidaknya sekali seumur hidup.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (27/7), terdapat tujuh hal yang sebaiknya Anda lakukan minimal sekali sebelum meninggal menurut sudut pandang psikologi.

1. Memaafkan Seseorang yang Pernah Menyakiti Anda

Memaafkan bukan berarti membenarkan perlakuan buruk seseorang. Dalam psikologi, memaafkan adalah keputusan untuk melepaskan beban emosi negatif yang selama ini mengikat diri Anda.

Menyimpan dendam dalam waktu lama sering dikaitkan dengan meningkatnya stres, kecemasan, tekanan darah tinggi, hingga gangguan tidur. Sebaliknya, orang yang mampu memaafkan cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.

Memaafkan juga bukan berarti harus kembali menjalin hubungan dengan orang tersebut. Anda tetap bisa menjaga batasan yang sehat sambil membebaskan diri dari rasa marah yang terus menguras energi.

Pada akhirnya, memaafkan adalah hadiah yang paling besar untuk diri sendiri.

2. Mengatakan "Terima Kasih" kepada Orang yang Berjasa dalam Hidup Anda

Psikologi positif menunjukkan bahwa rasa syukur merupakan salah satu prediktor terbesar kebahagiaan.

Sayangnya, banyak orang baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah kehilangan mereka. Padahal, mengungkapkan rasa terima kasih secara langsung mampu memperkuat hubungan sosial sekaligus meningkatkan kesejahteraan emosional bagi kedua belah pihak.

Cobalah menghubungi guru yang pernah membimbing Anda, orang tua, sahabat, pasangan, atau siapa pun yang pernah memberikan pengaruh positif dalam hidup.

Ucapan sederhana seperti, "Terima kasih karena pernah percaya kepada saya," bisa menjadi kenangan yang tidak terlupakan.

3. Keluar dari Zona Nyaman dan Mencoba Sesuatu yang Benar-Benar Baru

Otak manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa melalui proses yang disebut neuroplasticity. Ketika kita mencoba pengalaman baru, otak membentuk koneksi saraf baru yang membantu meningkatkan kreativitas, fleksibilitas berpikir, dan rasa percaya diri.

Hal baru tidak selalu berarti ekstrem.

Misalnya:

Belajar alat musik.
Bepergian sendirian.
Mengikuti kelas melukis.
Belajar bahasa asing.
Menjadi relawan.
Mencoba profesi atau hobi baru.

Pengalaman baru memperluas cara kita memandang dunia sekaligus membantu mengenali potensi yang selama ini belum terlihat.

4. Berdamai dengan Diri Sendiri

Banyak orang sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi sangat keras terhadap dirinya sendiri.

Dalam psikologi, konsep self-compassion atau belas kasih kepada diri sendiri terbukti berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah, kesehatan mental yang lebih baik, serta kemampuan bangkit dari kegagalan.

Berdamai dengan diri sendiri berarti menerima bahwa setiap manusia pernah membuat kesalahan.

Anda tidak harus menjadi sempurna untuk merasa layak dicintai.

Belajar menerima kekurangan justru membuat seseorang lebih berani berkembang dibanding terus-menerus dihantui rasa bersalah.

5. Membangun Hubungan yang Benar-Benar Berkualitas

Salah satu penelitian psikologi paling terkenal, Harvard Study of Adult Development, menemukan bahwa hubungan yang hangat dan sehat merupakan prediktor terbesar kebahagiaan serta umur panjang.

Bukan jumlah teman yang menentukan kualitas hidup, melainkan kedalaman hubungan.

Luangkan waktu untuk:

Mendengarkan orang lain tanpa menghakimi.
Menghabiskan waktu bersama keluarga.
Memperbaiki komunikasi dengan pasangan.
Menjalin persahabatan yang tulus.

Pada penghujung hidup, sebagian besar orang lebih mengingat momen bersama orang-orang yang dicintai daripada pencapaian materi.

6. Mengejar Sesuatu yang Memiliki Makna, Bukan Sekadar Uang

Uang memang penting karena memberikan rasa aman. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan pendapatan tidak selalu sejalan dengan peningkatan kebahagiaan.

Psikolog Martin Seligman menjelaskan bahwa hidup yang bermakna muncul ketika seseorang menggunakan kemampuan terbaiknya untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Makna bisa ditemukan melalui berbagai cara, seperti:

Membantu sesama.
Mengajar.
Berkarya.
Menjadi orang tua.
Membangun komunitas.
Menciptakan sesuatu yang bermanfaat.

Hidup yang penuh makna cenderung meninggalkan rasa puas yang lebih bertahan lama dibanding kesenangan sesaat.

7. Menulis atau Menceritakan Kisah Hidup Anda

Dalam psikologi naratif, manusia memahami identitas dirinya melalui cerita yang ia bangun tentang kehidupannya.

Menulis pengalaman hidup membantu seseorang memahami perjalanan yang telah dilalui, menerima kegagalan, serta menemukan pelajaran dari setiap peristiwa.

Anda tidak perlu menjadi penulis profesional.

Cukup tuliskan:

Pelajaran hidup terbesar.
Kesalahan yang pernah dilakukan.
Momen paling membahagiakan.
Orang-orang yang paling berjasa.
Harapan untuk generasi berikutnya.

Selain membantu kesehatan mental, tulisan tersebut juga dapat menjadi warisan emosional yang sangat berharga bagi keluarga.

Mengapa Tujuh Hal Ini Penting?

Psikologi modern menunjukkan bahwa manusia paling sering menyesali hal-hal yang tidak pernah dilakukan, bukan semata-mata kesalahan yang pernah dibuat.

Banyak penyesalan di akhir kehidupan berasal dari:

Tidak berani mengambil kesempatan.
Terlalu sibuk bekerja hingga mengabaikan keluarga.
Tidak mengungkapkan perasaan.
Menunda meminta maaf atau memaafkan.
Hidup mengikuti harapan orang lain, bukan nilai yang diyakini sendiri.

Karena itu, menjalani pengalaman yang memperkaya hubungan, memperluas perspektif, dan memperdalam makna hidup dapat mengurangi penyesalan di masa depan.

Penutup

Tidak ada yang mengetahui berapa lama waktu yang dimiliki. Namun psikologi mengajarkan bahwa kehidupan yang bermakna bukan ditentukan oleh panjangnya usia, melainkan bagaimana kita mengisinya.

Memaafkan, bersyukur, mencoba hal baru, berdamai dengan diri sendiri, membangun hubungan yang hangat, mengejar makna, dan merefleksikan perjalanan hidup adalah pengalaman yang dapat membuat seseorang merasa telah menjalani hidup dengan lebih utuh.

Mungkin Anda tidak bisa melakukan semuanya hari ini. Namun jika mulai melangkah satu per satu, Anda sedang membangun kehidupan yang kelak akan dikenang bukan karena kesempurnaannya, melainkan karena keberanian untuk benar-benar menjalaninya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore