ilustrasi gambar anak dari pinterest/heyepim
JawaPos.com – Pengabaian emosional pada masa kecil sering kali sulit dikenali karena tidak meninggalkan luka yang terlihat secara fisik.
Berbeda dengan kekerasan verbal atau fisik, kondisi ini terjadi ketika kebutuhan emosional anak secara konsisten tidak diperhatikan, sehingga dampaknya baru terasa saat seseorang beranjak dewasa.
Dikutip dari Psychology Today, ada sejumlah mitos yang membuat pengalaman ini kerap luput dari perhatian.
Mitos pertama adalah anggapan bahwa pengabaian emosional hanya terjadi pada keluarga yang bermasalah.
Faktanya, kondisi ini juga dapat dialami oleh anak yang tumbuh di keluarga harmonis atau berkecukupan.
Orang tua bisa saja sangat mencintai anaknya, tetapi tidak memiliki kemampuan atau kesadaran untuk mengenali dan merespons kebutuhan emosional mereka secara konsisten.
Mitos berikutnya menyebut bahwa jika seseorang tidak mengalami trauma besar, berarti masa kecilnya baik-baik saja. Padahal, pengabaian emosional justru sering terjadi secara halus dan berulang.
Anak mungkin mendapatkan makanan, pendidikan, dan tempat tinggal yang layak, tetapi tidak merasa didengar, dipahami, atau divalidasi emosinya.
Pengalaman inilah yang dapat memengaruhi rasa percaya diri, kemampuan mengelola emosi, hingga kualitas hubungan saat dewasa.
Kesalahpahaman lain adalah keyakinan bahwa seseorang seharusnya sudah bisa lupa begitu memasuki usia dewasa. Padahal, dampak pengabaian emosional dapat bertahan lama jika tidak disadari.
Banyak orang tumbuh dengan kebiasaan menekan emosi, merasa kebutuhan mereka tidak penting, atau kesulitan meminta bantuan karena sejak kecil terbiasa mengabaikan perasaan sendiri.
Kabar baiknya, pola tersebut dapat diubah melalui kesadaran diri, hubungan yang suportif, atau bantuan profesional bila diperlukan.
Pada akhirnya, memahami mitos-mitos tentang pengabaian emosional bukan bertujuan menyalahkan orang tua, melainkan membantu seseorang mengenali pengalaman yang mungkin selama ini tidak memiliki nama.
Dengan memahami bahwa kebutuhan emosional sama pentingnya dengan kebutuhan fisik, setiap orang dapat mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri maupun orang lain, sekaligus menghentikan siklus pengabaian emosional pada generasi berikutnya.