
Foto yang diambil pada Juni 2026 memperlihatkan influencer asal Tiongkok, Popo, mengenakan busana bergaya Lolita dalam sebuah acara yang diselenggarakan Japan External Trade Organization (JETRO) di Shanghai. (Kyodo)
JawaPos.com – Fesyen Lolita asal Jepang kini semakin digemari di Tiongkok. Gaya berpakaian yang identik dengan gaun renda, rok mengembang, dan nuansa boneka klasik itu tidak lagi sekadar menjadi subkultur, tetapi berkembang menjadi pasar yang bernilai miliaran yuan.
Seperti dilansir Kyodo, Senin (20/7), tren tersebut terutama diminati perempuan berusia belasan hingga 20-an tahun yang ingin mengekspresikan identitas dan gaya personal mereka. Popularitasnya ikut terdorong oleh anime, film, dan budaya "kawaii" atau imut khas Jepang.
Fesyen Lolita sendiri lahir di kawasan Harajuku, Tokyo, pada era 1990-an. Kini, perempuan yang mengenakan busana Lolita semakin mudah ditemui di berbagai kota besar di Tiongkok.
Salah satu toko merek Jepang, Atelier Pierrot, di pusat perbelanjaan Shanghai, dipenuhi gaun hitam berhias renda, pita, dan rok bertumpuk bergaya Gothic Lolita atau Goth-Loli. Gaya tersebut memadukan siluet khas Lolita dengan warna-warna gelap.
"Saya membeli satu set pakaian setiap bulan. Saya juga selalu menantikan perjalanan ke Jepang setiap tahun untuk membeli koleksi baru," ujar seorang perawat berusia 29 tahun yang menjadi pelanggan toko tersebut.
Popularitas fesyen Lolita membuat semakin banyak merek Jepang membuka toko fisik di Tiongkok. Menurut data asosiasi industri Tiongkok, nilai pasar fesyen Lolita diperkirakan meningkat dari 6,8 miliar yuan pada 2024 menjadi 15,6 miliar yuan pada 2030, atau sekitar Rp 35,4 triliun menjadi sekitar Rp 81,2 triliun.
Selain penjualan daring, komunitas Lolita juga berkembang lewat berbagai acara. Data Japan External Trade Organization (JETRO) menunjukkan lebih dari 180 acara bertema Lolita digelar di seluruh Tiongkok sepanjang 2024 dan menghasilkan penjualan langsung sekitar 980 juta yuan atau sekitar Rp 2,2 triliun.
Menurut JETRO, Tiongkok kini menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di Asia untuk fesyen Lolita. Permintaan terhadap merek-merek Jepang juga terus meningkat.
Fenomena tersebut didorong oleh apa yang dikenal di Tiongkok sebagai emotional economy, yakni kecenderungan konsumen membeli produk yang memberikan kepuasan emosional, bukan sekadar nilai fungsional.
Di kalangan perempuan muda, fesyen Lolita sering dikelompokkan bersama hanfu atau pakaian tradisional Tiongkok dan seragam sekolah bergaya Jepang. Ketiganya dikenal luas di media sosial sebagai "tiga obsesi", karena para penggemarnya sangat mendalami gaya hidup tersebut.

Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jadwal dan Link Live Streaming Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang Hari Ini, Kick-off 15.30 WIB di Gelora Bung Tomo
Resmi! Daftar Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang, Alex Martins Starter, Ramadhan Sananta Cadangan
Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Minta Hormati Martabat Wartawan dan Kemerdekaan Pers
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang: Alex Martins Jadi Mesin Gol Baru Green Force
Prediksi Skor Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia 2026: La Roja Siap Gagalkan Mimpi Indah Lionel Messi Cs
Jude Bellingham dan Harry Kane Cadangan! Ini Susunan Pemain Prancis vs Inggris di Perebutan Peringkat Ketiga Piala Dunia 2026
